Adab di Media Sosial dalam Menghadapi Kejadian Teror

sumber: flickr.com

Bulan Mei 2018, Surabaya dirundung duka. Serangan bom terjadi di beberapa tempat, antara lain Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Ngagel, Gereja GKI Diponegoro, Gereja GPPS Arjuno, dan Mapolrestabes Surabaya.

Tapi teman-teman tahu tidak, ada yang sama berbahayanya dengan aksi terorisme itu sendiri? Yup, teror psikologis yang ditimbulkan pasca aksi teror tersebut.

Hal ini dikonfirmasi oleh beberapa penulis. Walter Laquer dalam tulisannya No End to War: Terrorism in the Twenty First Century menyebut bahwa “the media are terrorist’s best friends” (2004, hal 104), sehingga kemudian menurutnya aksi teror tanpa adanya publikasi media tak berarti sama sekali.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh Ahmad Safril dalam bukunya Isu-Isu Globalisasi Kontemporer menyebut bahwa kelompok teroris diuntungkan dengan adanya liputan luas media terhadap aksi teror yang mereka lakukan (2015, hal 80). Ini tidak terlepas dari sifat dasar teroris itu sendiri, yakni menebar ancaman yang menakutkan banyak orang.

Kalau sudah seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Berikut tips dari tim LPM Mercusuar terhadap teman-teman semua dalam menghadapi situasi seperti saat ini, dirangkum dari berbagai workshop yang jurnalis-jurnalis LPM Mercusuar pernah ikuti:

1. Paling utama ialah berdayakan pikiran kritis kalian. Apabila kalian tidak berada langsung di lokasi, tentu kalian tidak sepenuhnya tahu dengan kejadian yang sesungguhnya. Sehingga pastikan dulu kalau informasi yang kalian dapatkan benar-benar valid (cocokkan informasi yang kalian dapat dari media atau teman kalian dengan informasi yang sama dari media lain atau pihak lain) sebelum kalian beritakan ke pihak lain.

2. Apabila kalian mendapat update informasi terkini terkait situasi yang terjadi di lapangan, sedangkan lagi-lagi kita tidak sedang berada di lapangan, eits tahan dulu jari kalian, jangan langsung sebarkan karena dapat menimbulkan kepanikan, walaupun update terkini tersebut datang dari media ternama. Berkaca dari kejadian teror di MH Thamrin Jakarta pada awal 2016, media-media ternama bahkan turut termakan oleh isu bohongan pasca aksi teror yang tersebar di media sosial. Pastikan dulu infonya valid ya, rek!

3. Tak kalah penting ialah jangan viralkan foto-foto jenazah, baik itu korban atau terduga pelaku, bahkan walaupun itu sudah disensor sekalipun. Selain tidak etis karena hanya memperdalam duka keluarga korban atau pelaku, toh tidak semua orang punya daya tahan melihat darah atau foto-foto jenazah.

Pokoknya stay calm, safe, and strong, rek!

*Artikel ini pernah dimuat di media sosial Line LPM Mercusuar pada 13 Mei 2018, sesaat setelah serangan bom terjadi di tiga gereja di Surabaya, dan artikel ini telah mengalami perubahan minor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *