Mengintip Sudut Kampus: Pelecehan Verbal yang Terabaikan

Mengintip Sudut Kampus: Pelecehan Verbal yang Terabaikan

Ilustrasi oleh Megan Eloise (Sumber: nyunews.com)

Penulis: Annisa Fitriani, Lailatul Fitriani, dan Rizma Ammay

Akhir Januari lalu, munculnya sebuah cuitan di Twitter oleh salah seorang mahasiswi Universitas Airlangga (Unair) ramai menjadi bahan perbincangan. Pasalnya, akun tersebut menyuarakan kejadian catcalling yang ia alami di kantin Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair pada Selasa (28/1).

Melansir pemberitaan dari LPM Retorika Fisip Unair dalam artikel berjudul Kasus Pelecehan Verbal Gia , Gia —bukan nama sebenarnya— menceritakan kasusnya di jejaring sosial Twitter dan menuai beragam respon. Ada yang bersimpati dan mendukung keberaniannya dalam menyuarakan, namun tidak sedikit pula yang justru menyerangnya.

“Ya jangan makan di FIB biar ngga di catcalling,” tulis salah satu akun. Ada pula yang membalas dengan mengirim gambar sebuah pasta gigi bertuliskan sensitive. Atau balasan lain bernada pembenaran seperti: “Tidak apa-apa, mumpung masih muda. Besok kalau sudah nikah dan punya anak, ngga bisa gitu lagi.”

Dari semua tanggapan tersebut memperlihatkan bahwa masih banyak yang menganggap catcalling atau pelecahan verbal sebagai hal yang lumrah.

Begitu pula dengan respon yang didapat korban ketika bersuara ke publik, sebagian orang tampaknya masih terjebak dalam tabiat menormalisasi tindakan pelecehan atau rape culture. Hal semacam itu yang akhirnya membuat korban memilih bungkam.

Tiga hari berselang, cuitan Gia yang dijadikan instastory oleh temannya dengan maksud sebagai penyadaran agar semua aware; mendapat respon tak terduga. Sebanyak 21 pelapor mengaku pernah mengalami catcalling di tempat yang sama seperti Gia.

Kebiasaan Buruk yang Terus Berulang

Dari 21 aduan tersebut, mayoritas tidak menyebut pelaku, namun semua menyebut satu tempat yang sama di kantin FIB secara spesifik.

LPM Mercusuar pun memutuskan untuk mengorek keterangan lebih lanjut dengan mendatangi tempat yang disebut para korban.

KTO yang sedang berada di lokasi membenarkan adanya catcalling di tempat yang biasa disebut gaza itu, namun ia menyayangkan beberapa pihak karena menjustifikasi teman-temannya yang sering nongkrong di tempat tersebut melakukan catcalling.

“Kalau soal catcalling, ya, memang ada. Tapi kalau dipukul rata atas nama gaza, ya, tidak bisa. Tidak hanya di sini (gaza), di mana pun pasti ada itu. Cuma yang lagi heboh sekarang, kan di sini,” tuturnya.

“Kalau saya sendiri awalnya mikir hanya bercandaan, tapi emang salah. Kadang ada yang langsung merujuk ke penampilan yang terbuka, seksi, atau apa. Karena emang di sini (gaza) ramai dan kebanyakan cowok. Kalau cuma ramai ya kita ngga bisa menyalahkan. Tapi kadang ada satu dua yang bercandanya melewati batas. Kadang teman-teman kalau sudah bercanda kan lupa dengan batasan yang harusnya ngga boleh,” sambung RSY.

Menyoal pelaku, FJA yang juga berada di sana mengatakan tidak bisa merujuk pada satu nama. Menurutnya, kasus catcalling itu menjadi permasalahan yang umum.

“Menurut saya, catcalling ini permasalahan yang general, ya. Kalau bicara pelaku ngga bisa kita menyudutkan dari satu sisi karena bisa jadi antar korban ini pelakunya berbeda. Yang duduk di sini (gaza) loh bukan hanya dari Sasindo aja,” tukasnya.

Sama halnya dengan penuturan ADK saat diwawancarai oleh reporter LPM Retorika, ketiganya juga menyebut bahwa permasalahan ini bukanlah hal baru dan sudah sering terjadi sejak lama. Seolah menjadi kebiasaan buruk yang terus berulang hingga dianggap wajar dan terabaikan.

Dampak yang Membekas

Di instagram, 21 laporan yang masuk mengaku merasa risih, tidak nyaman, menghindar, hingga takut kembali ke kantin FIB.

“Dulu awal maba juga gitu, sampai pernah setahunan ngga ke kantin FIB,” tulis salah satu akun. Ada pula yang memilih memutar jalan karena risih. “Sering banget. Kalau ngga dilihatin sampai lewat, ya dicatcalling. Risih banget, apalagi kalau ke kantin sendirian. Mending aku lewat depan FIB daripada lewat situ (gaza),” ungkapnya.

Tak hanya mendapat catcalling, salah satu akun mengisahkan temannya yang mendapat perkataan menjurus pada penghinaan fisik. “Ngga cuma catcalling. Kadang sampai body shamming. Temanku lewat situ pernah diteriakin ‘wah cek gedhene, mbak’ (wah besar banget mbak),” tulisnya.

“Paling malas makan di FIB juga gara-gara ini. Ngga nyaman banget kalau lewat situ. Bahkan aku sama teman-temanku pernah difoto tanpa sepengetahuan terus diupload di snapgram dengan tulisan ‘penyemangat uas/uts’ gitu kalau ngga salah,” cerita akun lainnya.

Tak jauh berbeda, Gia saat ditemui Selasa (11/2) mengatakan dirinya belum berani kembali ke kantin FIB hingga saat ini. “Selain takut ke mana-mana, aku jadi mikir apa ada yang salah dengan tubuh dan cara berpakaianku,” akunya.

Selasa sore (11/2), masih di kantin FIB, Lala –bukan nama sebenarnya– juga mengalami catcalling dari seorang bapak-bapak tidak dikenal.

“Aku lewat situ dua kali. Pas berangkat orangnya manggil “mbak-mbak” dengan senyum yang menjijikkan sambil mengedipkan mata. Pas balik, orangnya masih manggil sambil dehem dan kurang ajarnya dia sampai ngarahin tangan buat megang aku. Badanku kaku rasanya; ingin cepat-cepat pergi dari sana. Sampai SC baru bisa nangis,” kisahnya.

Kampus Ramah Perempuan jadi Impian Bersama

Baik Gia maupun Lala mengharap adanya tindakan tegas dari universitas untuk menciptakan kampus yang ramah perempuan.

“Aku harap, sih, dari BEM atau pihak kampus bisa lebih tegas dan peduli dengan masalah pelecehan seksual,” ucap Gia.

“Kapan perempuan bisa bebas dan nyaman di semua tempat. Kita juga punya hak atas ruang publik apalagi ini dalam lingkungan kampus. Aku harap bisa tercipta kampus yang ramah buat semua, sih,” ungkap Lala.

Menanggapi hal itu, Ketua BEM FIB 2020 angkat bicara. Ia menyebut akan terus mengkaji kasus ini dan memasukkannya dalam program kerja.

“Bakal ada kajian lanjut dan akan masuk proker kita. Nanti akan dibuat semacam posko pengaduan di mana mahasiswa bisa menceritakan keluh kesah apapun termasuk masalah seperti ini,” jelas Adnan Guntur.

Menurutnya, edukasi terkait gender menjadi hal penting sebagai salah satu upaya penyadaran. “Kajian-kajian terkait gender ini perlu diadakan. Saya pribadi ngga bisa menyalahkan, tapi memang perlu adanya edukasi terkait penyadaran,” pungkasnya.

Bagaimana pun, semua berhak atas rasa aman dan nyaman berada di mana saja. Tak terkecuali di lingkungan kampus. Saatnya kampus membuka mata terhadap kasus pelecehan seksual yang terjadi di dalamnya, termasuk catcalling yang acapkali diabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *