
Sumber Gambar: LPM Mercusuar
Pada Minggu (8/3), jaringan International Women’s Day (IWD) Surabaya menggelar “Aksi Budaya X Diskusi” untuk memperingati International Women’s Day 2026 di Cafe Pantry, Surabaya. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diskusi panel yang sebelumnya diselenggarakan pada Selasa (3/3). Acara diawali dengan ruang diskusi yang mempertemukan peserta untuk membicarakan berbagai isu diskriminasi berbasis gender dan realisme sosial-politik lainnya. Setelah itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penampilan musik dari Melabuh Kelabu, Lucy, Seed, Encounter, Drizzly, kehadiran lapak buku dan zine dari beberapa komunitas serta pameran fotografi dari WALHI Jawa Timur.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film “Ini Scene Kami Juga”, yang mengangkat cerita tentang keterlibatan perempuan dalam skena DIY (Do It Yourself) punk di Indonesia. Film ini menghadirkan 14 perempuan sebagai narasumber, mulai dari pemain band, penulis zine, hingga fotografer, yang membagikan pengalaman mereka terlibat dalam komunitas hardcore punk sekaligus menemukan ruang berekspresi di dalamnya. Namun, genre hardcore punk kerap dilabeli sebagai “dunia laki-laki”, sehingga perempuan masih sering diposisikan sebagai minoritas dalam skena tersebut. Bahkan, salah satu narasumber dalam film itu menceritakan pengalamannya mengalami pelecehan seksual saat moshing yang meninggalkan trauma dan menunjukkan betapa minimnya ruang aman serta kebebasan berekspresi bagi perempuan pada masa itu.
Pemutaran film ditutup dengan diskusi singkat bersama Lydia, salah satu penikmat musik hardcore punk yang menekankan bahwa gigs seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap gender dan kelompok untuk menikmati musik serta berekspresi. Dalam sesi tersebut, beberapa peserta juga turut membagikan pandangan mereka mengenai lagu-lagu hardcore punk sekaligus pengalaman pribadi saat menghadiri gigs. Lydia kemudian menambahkan bahwa lingkar pertemanan dalam skena gigs memiliki peran penting dalam menciptakan rasa aman bagi semua orang yang hadir. “Menurut aku, circle pertemanan dalam gigs itu penting banget dalam menciptakan ruang aman, mulai dari mendampingi korban sampai berperan melakukan cancel culture terhadap pelaku supaya hal serupa tidak terulang,” ujarnya saat diwawancarai oleh LPM Mercusuar.
Kegiatan dilanjutkan dengan workshop zine oleh Syah. Dalam sesi wawancara, ia menyebutkan bahwa zine merupakan media perlawanan alternatif, media subkultural, sekaligus medium kesenian yang dapat menjadi ruang aman dan ruang berekspresi untuk mempublikasikan ide-ide independen. “Kamu bisa menuangkan ide sesuai dengan visimu sendiri tanpa perlu terkungkung oleh sistem-sistem tertentu. Tentu ada batasnya dalam membuat zine, misalnya tidak boleh memuat hal yang mendiskriminasi dan semacamnya. Itu menjadi batas standar. Intinya, kamu memiliki kebebasan yang lebih luas dalam zine dan publikasi independen secara umum,” tambahnya.
Meneruskan diskusi panel yang telah berlangsung lima hari sebelumnya, sebanyak 20 tuntutan aksi turun ke jalan dan bersuara bersama dirumuskan dengan melibatkan perwakilan dari tiga panel. Dari panel pertama, disampaikan bahwa “ruang aman semakin sempit dan kelompok rentan semakin sering menerima diskriminasi”, yang selaras dengan poin tuntutan nomor dua. Pada panel kedua yang diwakili mahasiswi bernama Neneng menyatakan, “Jangan pernah mendiskriminasi sesama, baik karena perbedaan orientasi seksual maupun karena menganut agama yang tidak tercatat. Kita hanya belajar, dan kita hanya meminta hak kita, bukan hanya sebagai perempuan tetapi juga sebagai manusia.” Sementara itu, panel ketiga menyoroti keterkaitan antara krisis ekologis dan meningkatnya kerentanan sosial. Menariknya, sebelum merumuskan enam tuntutan utama, para peserta diskusi lima hari sebelumnya terlebih dahulu diajak mengidentifikasi persoalan melalui metode pohon masalah dengan mengangkat isu-isu yang dekat dengan pengalaman mereka.
Diskusi ditutup dengan pembacaan 20 tuntutan aksi oleh Tania selaku moderator, disertai tiga tuntutan tambahan yang diusulkan peserta. Hingga penghujung acara, antusiasme peserta tetap terasa. Acara kemudian dilanjutkan dengan gigs yang disambut meriah oleh para peserta. Malam itu, kebebasan berekspresi serta ruang aman bagi perempuan, queer, dan kelompok termarjinalkan kembali ditegaskan melalui rangkaian acara yang berpihak pada kelompok rentan dan ditutup dengan suasana riuh penuh kegembiraan.
Penulis: Fitria, Silla
Editor: Hana F.