Agung Tri Putra, calon Ketua BEM Unair 2019 nomor urut 2 memaparkan visi-misi dan program unggulannya pada Safari Kampus di RK 01 FKM, Jumat (15/3) sore. Sesi tanya jawab banyak diramaikan pertanyaan seputar isu rokok. (MERCUSUAR/Najmudin Kholish)

Reporter: Najmudin Kholish
Editor: M. Faisal Javier Anwar

Sesi tanya jawab safari kampus yang dilaksanakan di RK 01 FKM dipenuhi dengan pertanyaan seputar isu rokok dan penerapannya pada Jumat (15/3) sore. Banyak audiens mempertanyakan pengetahuan calon akan isu FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan keberpihakan calon terhadap WTPM (World Tobacco Process and Machinery).

Pertanyaan pertama berasal dari Kholifatul yang bertanya pada pasangan calon Vigo-Fahmi (ViFa) dan Agung-Satria Aji (ASA) mengenai pengetahuannya akan FCTC. “Apa yang anda ketahui tentang FCTC dan kesehatan?” ujar mahasiswi FKM tersebut.

Fahmi mewakili kubu nomor 1 pada giliran pertamanya menjawab panjang lebar. “Kalau tidak salah tadi FCTC mengenai petisi tentang tembakau,” ujar Fahmi yang sebelumnya mengaku asing dengan isu kesehatan.


(MERCUSUAR/Najmudin Kholish)

Fahmi berpendapat kalau menanggapi isu rokok perlu memperhatikan aspek-aspek lain di luar kesehatan. Misalnya aspek devisa negara yang bertambah karena produksi rokok.

“Tapi kalau masalah rokok perlu diperhatikan sub-sub lain seperti produksi, pegawai, pemakai dan lain-lain. Kami tidak bisa langsung menolak atau menerima,” ujar calon Wakil Ketua BEM nomor urut 1 tersebut.

Senada dengan Fahmi, Vigo juga menjelaskan panjang lebar dari aspek ekonomi dan beranggapan jika ia terpilih isu tersebut akan menjadi perhatian.

“Dalam sisi ekonomi, bagaimana rokok menyumbang devisa negara itu perlu diperhatikan. Kita tidak bisa menghakimi benar atau salah langsung. Makanya kita bersinergi, bertukar pikiran, dan memandang dari berbagai sudut pandang,” ujar Vigo yang mengaku bukan perokok aktif.

Sementara itu, Agung selaku calon ketua nomor urut 2 menyebutkan program unggulannya akan membahas isu ini. “Oleh karena itu program garda kesehatan kita, mendobrak isu ini, karena ini isu strategis, tidak hanya numpang ke BEM SI (Aliansi BEM Seluruh Indonesia -red),” ujar mahasiswa FISIP tersebut.

Wakil Agung, Satria Aji dari FKM, membantah pernyataan dari Fahmi yang menyebutkan kaitan rokok dengan kaum pekerja. “Coba tanya sama petani tembakau di Madura, Banyuwangi, mereka susah buat nanam tembakau,” ujar Mentri Pengabdian Masyarakat Kabinet Nyata BEM Unair 2018 itu.

Keberpihakan Paslon pada WTPM di Surabaya

Menurut situs web WT Asia, WTPC 2019 akan dilaksanakan pada 16-17 Oktober 2019, bertempat di Surabaya. Pameran ini diadakan di Indonesia, menurut WT Asia, dengan pertimbangan Indonesia merupakan pasar rokok terbesar kedua di Asia setelah China.

Berkaitan dengan itu, Nuraini, Mahasiswi FFK, angkat bicara. “Berada di pihak mana anda dalam merespon WTPM 2019 yang akan dilaksanakan di Grand City, Surabaya? Dan langkah konkrit apa yang akan anda lakukan?”, ujar Nuraini disertai dengan tepuk tangan dari audiens.

Agung yang kubunya dapat giliran pertama menjawab, memulai dengan statement isu ini penting dan perlu dikaji melalui program unggulannya Garda Kesehatan.

“Ini isu penting yang akan kita usahakan, kita kaji ulang terlebih dahulu. Ada beberapa jalan, pertama, melalui majelis wali Amanat. Kedua, ketika teman-teman mahasiswa sudah sepakat dan tidak didengarkan, maka kita turun aksi,” ujar mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unair tersebut.

Lalu wakil Agung, Satria Aji mengajak Mahasiswa FKM lebih intens keluar fakultasnya untuk menyampaikan isu-isu kesehatan. “Teman-teman kita nanti kawal isu ini melalui garda kesehatan. Makanya anak FKM perlu keluar bersinergi memberikan pandangannya,” ujar calon Wakil Ketua BEM dari FKM tersebut.

Sementara, kubu ViFa yang dimulai oleh Fahmi menyebutkan isu ini adalah isu yang masih perlu dikaji dengan melibatkan seluruh elemen kampus.

“Ini adalah isu yang sangat kompleks. Isu yg tidak semua orang satu pandangan. Kalo kita tahu, dosen, bahkan tenaga kerja juga merokok, bukan semua mahasiswa saja. Perlu ada kajian yang melibatkan seluruh elemen, ya mahasiswa, ya dosen utk mengkaji isu ini,” ujar mantan Wakil Ketua BEM FISIP ini.

Fahmi menegaskan bahwa ViFa akan sesuai dengan kehendak mahasiswa dalam menanggapi isu ini. “Kalau memang suara rakyat adalah suara Tuhan, maka kami akan melibatkan semuanya dalam membahas isu ini dan dieksekusi sesuai kesepakatan bersama tersebut,” lanjut Fahmi.

Setelah kedua kubu menjawab, Nuraini ucapkan terima kasih dan akan menunggu siapapun yang terpilih menanggapi isu ini.

“Terima kasih atas jawabannya meskipun saya kurang puas. Kami tunggu siapapun yang terpilih untuk menanggapi WTPM di Surabaya ini,” tutup Nuraini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *