Sumber Gambar: Tim LPM Mercusuar

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, bersama dengan Jaringan Gusdurian dan Komunitas Lingkaran Solidaritas, menggelar aksi bertajuk Rampok Kresek di kawasan Car Free Day (CFD) Surabaya pada Minggu (27/7). Dalam aksi tersebut, mereka menukar kantong plastik milik pengunjung dengan tote bag ramah lingkungan yang dibagikan secara gratis. Inisiatif ini menjadi bagian dari peringatan Plastic Free July Action sekaligus momen untuk mengkampanyekan gaya hidup bebas plastik,” ujar Luki, koordinator aksi, saat ditemui di lokasi.

Aksi dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan penyampaian edukasi kepada pengunjung seputar kampanye Plastic Free July—gerakan global yang mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Para relawan kemudian membagi diri menjadi tiga tim, masing-masing terdiri dari empat orang, untuk menyusuri area Taman Bungkul dan Jalan Raya Darmo. Dalam kegiatan tersebut, mereka menukar kantong plastik milik pengunjung dengan tote bag ramah lingkungan yang dapat digunakan secara berulang. Selain itu, relawan juga mengedukasi masyarakat mengenai dampak ekologis dari penggunaan kantong plastik. “Kami membagikan tote bag dan meminta kantong-kantong kresek yang digunakan pengunjung. Kantong plastik tersebut kami ganti dengan tote bag yang bisa dipakai berkali-kali, sambil terus mengedukasi soal bahaya plastik sekali pakai bagi lingkungan,” jelas Luki, salah satu relawan WALHI Jawa Timur.

Usai mengumpulkan kantong plastik serta sejumlah kemasan makanan dan minuman berbahan plastik sekali pakai, para relawan menutup rangkaian kegiatan dengan edukasi yang memanfaatkan media visual. Beragam jenis sampah plastik ditempelkan pada sebuah papan kardus, disertai keterangan mengenai estimasi waktu yang dibutuhkan masing-masing sampah plastik untuk terurai secara alami. Papan tersebut kemudian menjadi alat kampanye yang efektif untuk menyampaikan fakta ekologis kepada publik. Di hadapan para pengunjung Car Free Day, Nabilah—salah satu relawan—menyampaikan orasinya dengan tegas. “Dapat kita lihat bahwa kantong kresek membutuhkan waktu hingga 30 tahun untuk terurai,” ujarnya, sembari menunjuk salah satu sampel yang terpajang di papan edukasi. Dalam aksi ini, para relawan berhasil mengumpulkan sedikitnya 100 kantong plastik dari tangan pengunjung.

Seusai kegiatan, saat diwawancarai oleh media, Luki mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup bebas plastik dengan mengurangi ketergantungan terhadap produk sekali pakai. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dalam keseharian. “Masyarakat bisa mulai membawa kotak makan sendiri saat membeli makanan, beralih menggunakan sedotan stainless, serta membawa tumbler ketika ke kedai kopi,” jelasnya. Selain mendorong perubahan perilaku individu, Luki juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan fasilitas publik yang mendukung pengurangan sampah plastik. Salah satunya dengan menyediakan akses air minum isi ulang di ruang-ruang publik. “Pemerintah seharusnya bisa menyediakan keran air minum isi ulang agar masyarakat tidak terus-menerus mengandalkan air kemasan plastik. Fasilitas seperti itu bisa dipasang di ruang publik, misalnya di Taman Bungkul, agar menumbuhkan kesadaran masyarakat menuju gaya hidup zero waste,” tegasnya.

Penulis: Fal

Editor: Hana F. Lisdanta 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *