Sumber Gambar: GirlsGoneStrong.com
Perempuan dikenal sebagai kaum yang rentan akan penindasan, pengucilan, subordinasi, hingga ketidakadilan situasi sosial. Anggapan tentang posisi perempuan yang tak lebih tinggi dari laki-laki serupa warisan kultural memilukan yang dikonsumsi segenap komponen masyarakat.
Merespon ketimpangan gender ini, para perempuan seharusnya dapat saling membahu untuk memecah sekat dominasi. Namun, tak semua perempuan mengantongi kesadaran kondisi opresi yang dialami. Justru, sederet perempuan dari beragam kalangan masih menganggap perempuan lain sebagai rival dalam kompetisi intraseksual. Persaingan regional ini melahirkan standarisasi oleh perempuan dan untuk perempuan. Goyahnya kekuatan kaum perempuan sebagai imbas rivalitas seksisme saudara dikenal dengan istilah Internalized Misogyny.
Internalized Misogyny adalah fenomena perempuan yang menggugat perempuan lain melalui tindak seksisme. Serangan dilayangkan guna memberikan tekanan pada korban sehingga pelaku merasa seolah lebih unggul secara fisik dan berdaya dalam penguasaan diri. Motif utama fenomena ini ditengarai perilaku yang bersifat menjatuhkan sesama perempuan dengan tujuan memenuhi hasrat validasi publik bahwa dirinya lebih mendominasi dibanding perempuan lain. Aksi haus akan validasi yang dilakukan mengakibatkan perempuan yang dijadikan objek mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa setingkat lebih rendah, hingga kehilangan jati diri.
Seorang misogini mengonsumsi pemikiran keliru sehingga selalu berfokus pada hal-hal yang tak perlu. Mereka menitikberatkan segala aspek feminitas pada standar yang mengada-ada sehingga merasa berhak melakukan penyerangan, seperti ujaran kebencian, makian, dan segala celetukan sentimental yang bersifat merendahkan tanpa justifikasi yang jelas.
Gambaran ringan representasi seorang misogini adalah mempercayai stigma seperti label genit dan haus perhatian pada perempuan yang memiliki banyak teman laki-laki. Penyimpulan tak masuk akal ini menyebabkan para perempuan adaptif yang mudah bergaul menjadi lebih pendiam dan menutup diri.
Contoh lainnya yaitu objektifikasi kaum perempuan. Tak sedikit perempuan yang melontarkan stigma bahwa makeup natural jauh lebih cantik, menarik, menawan, pun memukau dibanding makeup yang agak tebal dan terkesan berlapis. Gagasan abu-abu ini menyakiti sebelah pihak sebab sejatinya perempuan tetaplah cantik dengan atau tanpa makeup.
Sikap Internalized Misogyny kerap tak disadari oleh pelaku itu sendiri. Seorang misogini cenderung terjebak dalam pemahaman sempit terhadap kolokasi dinamika gender akibat perasaan superior. Tak dapat dipungkiri, Internalized Misogyny merupakan hasil dari patriarki yang secara kultural masih mengakar subur dalam kehidupan masyarakat. Namun, tindakan opresi terhadap sesama perempuan sesungguhnya mampu dibendung manakala mereka menyadari keperkasaan kaumnya dalam persatuan.
Analisis dari beragam sudut pandang juga perlu diterapkan guna menghasilkan berbagai perspektif sekaligus menekan salah tafsir terhadap sebuah stereotip. Para perempuan harus mengedepankan kebijaksanaan. Alih-alih memberikan cibiran pada makeup yang tebal, akan lebih bijak memberi pujian kepiawaiannya dalam merias diri. Pun jika ada kritik yang ingin diutarakan, upayakan menjunjung tinggi moralitas dan empati sesama perempuan.
Omong Kosong dalam Slogan “Women Support Women“
Bicara perihal Internalized Misogyny jelas tak dapat lepas dari sebuah slogan kultural yang dipakai seluruh elemen perempuan dalam mengulurkan tangan pada sesama. Fenomena Internalized Misogyny menjadi alasan mengapa implementasi slogan “women support women” tak kunjung terwujud.
Minimnya tarif kesadaran perempuan dalam membela sesama demi kesetaraan kian mengentengkan slogan “women support women”. Kasus yang melibatkan kedua gender melimpah ruah jumlahnya, tapi kaum perempuan kerap hanya menyudutkan sesamanya. Misal, kasus perselingkuhan yang jelas menjerat kedua pihak. Namun, perempuanlah yang seringkali dijadikan objek kemarahan, juga luapan kekesalan publik. Perempuan tersebut akan dicap perempuan murahan, bahkan oleh perempuan lain.
Berbanding terbalik dengan laki-laki yang terkesan mendapat ruang aman dari amukan publik atas kasus perselingkuhan; sebuah bukti bahwa fenomena Internalized Misogyny masih menjadi momok mengerikan bagi internal feminitas. Diperlukan kesadaran penuh dan gerakan totalitas untuk mendorong kaum perempuan supaya tergerak untuk melindungi sesama kaum rentan.
Penulis: SP-08
Editor: PD-08