Sumber Gambar: Bernie Wrightson, “Cycle of the Werewolf” book illustration, 1983

Selamat datang, Tuan dan Nyonya! Lebaran kali ini, saya akan mengajak Anda sekalian untuk berziarah kubur, sebagaimana tradisi tersebut berjalan dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, tak ada tumpukan ranting kamboja dan nisan usang yang kau temui di kuburan ini. Tuan dan Nyonya, ini bukanlah kuburan biasa.

Ini Kuburan Kreativitas dan Kreasi Seni. 

Tempat ide-ide cemerlang dan mimpi besar pencipta karya ditelan tanah sebab para petinggi lebih memilih jalan pintas bernama teknologi. Sungguh ironi, mengingat teknologi sejatinya merupakan kreasi manusia untuk memudahkan sesama dalam kehidupannya. Tapi dalam praktiknya akhir-akhir ini, teknologi pula yang membunuh seni. Dibuat kagum Anda oleh hasil karya yang tercipta dari mengetikkan prompt belaka. Di benak Anda, “Sungguh menakjubkan! Sekarang tak perlu susah payah membayar dan mencari seniman. Duduk manis saja, aku sudah bisa menghasilkan karya.” 

Lihatlah, Tuan dan Nyonya! 

Di kuburan ini, Anda akan bertemu berbagai seniman dengan ragam uniknya. Ada yang melukis detail sekecil mungkin dengan teliti, ada yang karyanya menimbulkan rasa meski sulit dimengerti, ada yang aktif mencipta untuk meluapkan emosi dan teriakan frustasi, dan masih banyak lagi. 

Semuanya membutuhkan ruang untuk berekspresi.

Semuanya membutuhkan uang untuk sepiring nasi.

Seni bukanlah talenta yang hadir secara tiba-tiba. Setiap seniman tentu mengalami proses berat untuk belajar, jatuh, dan bangkit lagi. Fisik lelah setengah mati sebab latihan tiada henti. Dompet yang menipis sebab peralatan penunjang harus dibeli. Mental yang diserang dengan suara-suara, “Yakin kamu bisa menghidupi diri lewat seni?”

Belum lagi dengan gangguan dari pihak eksternal. Sentimen seniman di negeri ini saja sudah tak baik-baik saja. Bila bertemu dengan kerabat, melakukan silaturahmi, sering mereka mendengar omongan menyakiti hati. “Kenapa masuk jurusan seni? Nanti penghasilannya tidak stabil, lho. Sayang juga waktunya, digunakan untuk hal yang tidak jelas rupanya. Mau cari kerja seperti apa nanti?” 

Ini masalah menghargai. Sudah sejak kecil, ditanamkan paham itu kepada diri kita masing-masing. Hargailah sesama, latar belakang yang mereka punya, kemampuan yang ada di sana. Menghargai adalah akar dari kolaborasi. Namun, bagaimana kolaborasi bisa tercipta bila Tuan dan Nyonya memandang seniman sebelah mata? 

Baru-baru ini, Presiden kita saja gagal menunjukkan rasa apresiatif. Beliau hanya merayakan Lebaran 2024 saja tanpa merayakan kreativitas anak bangsa, memutuskan menggunakan Artificial Intelligence dalam poster ucapan Lebarannya. Sungguh disayangkan, Tuan dan Nyonya. Padahal pada perayaan sebelumnya, beliau tak pernah absen menghibur masyarakat lewat unggahan ilustrasi unik nan jenakanya—yang dibuat oleh seniman Indonesia. Sekarang, justru poster AI tersebut menjadi bahan kelakar masyarakat di sosial media. Bila sebelumnya beliau mempunyai kapasitas untuk mempekerjakan ilustrator Indonesia, apa yang menghalangi beliau tahun ini? 

Sudah seharusnya kalian, Tuan dan Nyonya, para petinggi dan korporasi yang membutuhkan seni sebagai medium informasi, memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencipta. Toh, tak sulit menemukan artis lewat bantuan teknologi. Anda dan surplus sumber daya yang dimiliki, tentunya tak akan kesulitan memberikan apresiasi yang sesuai. Teknologi seharusnya menjadi jembatan antara Anda dan para seniman. Bukan alat untuk menciptakan seni instan. Teknologi seharusnya menjadi alat seniman mempromosikan karya. Bukan tempat karya seniman dilucuti, dijadikan referensi Artificial Intelligence untuk membuat produk tanpa rasa.

Perkembangan teknologi nan pesat memang tak bisa dihindari. 

Tapi Tuan dan Nyonya sekalian mempunyai kemampuan untuk memutus mata rantai ini. Mulailah menghargai kreativitas yang dicurahkan para seniman. Mengarahkan lampu sorot pada karya hasil buah pikiran. Membantu mengangkat dan menyejahterakan kehidupan mereka, layaknya pekerja lain yang dipenuhi hak-haknya. 

Kecuali bila Anda ingin menambah batu nisan, memperluas tanah kuburan. 

Penulis: AA-12

Editor: PS-13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *