Moda komunikasi saat ini telah sampai pada produksi informasi yang tidak wajar. Kalau boleh saya sebut obesitas, maka per hari ini kita perlu diet dalam komunikasi. Kecanggihan teknologi telah memutar roda komunikasi begitu kencang sehingga kita tak lagi memiliki waktu untuk bersiap-siap. Kondisi inilah yang kemudian mendistorsi kemampuan untuk memaknai dan memisahkan hal-hal penting dari yang tidak penting. Akibatnya, ruang digital sebagai medium baru komunikasi tak lebih dari sekadar wahana permainan tanda dan tidak lagi memiliki makna. Internet hanya berisi berita nyaleg Aldi Taher atau DJ Verny menggugat Denny Sumargo. her zaman sekse aç kızlar Şirinevler Seksi Escort Beyaz | İstanbul Escort Bayan sizlerle burada bulusuyor. Mode komunikasi nirmakna yang kemudian menjadi pintu masuk tindak kejahatan.
Linear dengan di atas, modus-modus kejahatan telah sampai pada bentuknya yang mutakhir; kejahatan siber. Sebuah bentuk kriminalitas yang dapat mencelakai kita kapan saja dan di mana saja. Kejahatan yang kita undang secara mandiri melalui gerak-gerik di internet, disusun sebagai senapan yang dapat menembak kepala dari jarak paling jauh yang bisa kita bayangkan. Pencurian data, penipuan, perundungan, pelecehan seksual siber, dan bentuk kejahatan lainnya adalah taring yang bisa menggigit leher kita pada sore hari yang damai ditemani keping-keping biskuit dan secangkir teh melati hangat. Kita tak lagi bisa tenang bahkan di waktu-waktu yang kita sangka akan tenang?! Lalu, dengan gelisah kita bertanya tentang datangnya kejahatan yang tak kenal libur dalam mengintai. Ironi yang bikin kita sendiri bergidik ngeri.
Dalam keseharian selancar rutin kita di gulungan ombak sosial media, buih-buih tertinggal sebagai material utama penyusun peta siasat jahat. Buih yang dimaksudkan di sini ialah jejak digital yang tertinggal dalam petualangan kita di Facebook, Twitter, Instagram, atau laman situs internet lainnya. her zaman sekse aç kızlar İstanbul Sarışın Escort Hande | İstanbul Escort Bayan sizlerle burada bulusuyor. Jejak digital sendiri diklasifikasi dalam dua jenis, yakni jejak digital aktif dan jejak digital pasif. Jejak digital aktif merupakan jejak yang kita tinggalkan dengan sengaja dan sadar, seperti mengunggah gambar, mengisi formulir digital, mendaftar akun, dan sejenisnya, sedangkan jejak digital pasif merupakan jejak yang tidak sengaja dan tanpa sadar kita tinggalkan, seperti menyukai postingan, membagikan postingan, atau persetujuan situs yang menggunakan cookies. Namun, yang penting diingat ialah jejak digital ada karena aktivitas digital.
Berlandaskan semangat postmodernism, aktivitas digital digelar begitu masif dengan paradigma kecepatan, sebab semangat ini meyakini bahwa sesuatu dikatakan baik ketika dia cepat. Hal ini kemudian menjauhkan aktivitas digital dari kepentingan utama komunikasi. Medium-medium komunikasi digital menjadi tak lagi bermakna, tetapi kita pun tak bisa melepaskan diri. Kondisi ini yang disebut Baudrillard sebagai Ekstasi Komunikasi, di mana masyarakat tak lagi bisa menahan hasratnya untuk terus berkomunikasi. Masyarakat bertendensi untuk terus menerus membagikan segala sesuatu tanpa paham akan urgensinya. Tak ada lagi ukuran apakah hal tersebut memang perlu dibagikan atau tidak.
Model komunikasi pascamodern juga membawa semangat dekonstruksi yang membuat informasi berceceran dan menempati ruang yang tak seharusnya. Ruang privat kemudian tak lagi menjadi rahasia dan ruang publik membesar sampai pada bentuknya yang ekstrem, menghapus intimasi, menjagal kemanusiaan, dan membuat masyarakat menjadi kegemukan informasi. Bayangkan saja berapa banyak informasi yang kita telan dan muntahkan dalam kurun waktu 24 jam?!
Kecanduan akan komunikasi ini kemudian membuat kita melepaskan sifat-sifat kemanusiaan melalui hilangnya intimasi dalam komunikasi, sebab sekali lagi kita telah menghapus ruang privat kita sendiri dengan membiakkan ruang publik sampai pada wujud yang tidak wajar. Kondisi ketercerabutan kita dengan sifat-sifat kemanusiaan ini membentuk pola komunikasi yang oleh Lacan disebut Komunikasi Skizofrenik. Bentuk komunikasi banal yang tak lagi mengindahkan hubungan antara penanda dan petanda, sehingga hubungan ketandaan tersebut menjadi kacau dan tak berarti. Singkatnya, kegiatan komunikasi yang tak lagi penting.
Kondisi semacam ini kemudian membuka celah gigitan kriminal pada batang leher kita. Jejak digital yang tertinggal di internet telah dimanfaatkan oleh para kriminal untuk kemudian menyusun siasat jahatnya. Memang benar bahwa jejak digital pasif berada di luar kendali kita, hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab institusi pemerintahan terkait, dalam hal ini Kementerian Kominfo. Namun, pada kenyataannya Kominfo tak becus menjaga keamanan data sehingga terjadi kebocoran, seperti pada bulan Juli lalu. Beda halnya dengan jejak digital aktif, di mana kita memiliki kuasa untuk melakukan upaya mitigasi dengan mengurangi jejaknya sampai pada sesuatu yang penting, sebab tak ayal jejak digital aktif jadi peluang masuknya kejahatan siber. Lihat kasus pencurian data pribadi melalui fitur stiker “Add Yours” di Instagram pada tahun 2021 atau juga pelecehan seksual siber pada postingan gambar menggunakan AI baru-baru ini. Oleh karena itu, kontrol diri dalam komunikasi di internet menjadi penting agar kita tak lagi ditelanjangi dan hanya menunggu mati. Begitu, kira-kira.
Penulis: Muhammad Jibril (Kontributor)
Editor: Ghina Salsabila