Sumber foto: Dokumentasi LPM Mercusuar

Diskusi bertajuk “Teropong Masa Depan Kota: Menilik Problem Ekologis Surabaya” sukses diselenggarakan oleh Kementerian Kajian Isu dan Aksi Strategis BEM FIB Universitas Airlangga pada (26/5) yang berlokasi di Amphiteater Kampus B. Dihadiri oleh mahasiswa dan beberapa komunitas di Surabaya,

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Wahyu Eka Styawan, menjadi pembicara utama dalam membahas permasalahan lingkungan di Kota Surabaya. Berbicara mengenai sampah yang terus menggunung di TPA Benowo dan kondisi air di beberapa wilayah Kota Surabaya, Wahyu menerangkan jika hal tersebut berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Salah satunya kondisi air yang memprihatinkan di Karangmenjangan dan sekitarnya  dekat dengan Kampus B Unair.

“Terjadi begitu terutama area kos-kosan. Nah, Surabaya ini kan salah satu kota yang kalau kita lihat, paling kentara soal dampak dari perubahan iklim juga”, terang Wahyu.

Reno Surya, salah seorang jurnalis juga diundang sebagai pembicara dalam diskusi tersebut. Dirinya menjelaskan jika peran jurnalis sangat berpengaruh terhadap warga yang mengalami dampak akibat permasalahan lingkungan di Kawasan tempat tinggalnya.

“Pernah melakukan observasi di Benowo dan itu kan juga jarak antara gunungan sampah dengan pemukiman warga kan juga lumayan jauh, cuma nggak yang jauh-jauh banget. Jadi itu kemungkinan itu bisa terjadi di kita dan di Indonesia sendiri pengolahan sampah itu juga belum maksimal. Sampah makanan itu belum ada di Indonesia seperti bank makanan yang dilakukan di beberapa negara seperti Perancis”, jelasnya.

Berdiskusi soal sampah makanan, Menteri Kastrat BEM FIB, Muhammad Jibril, menyebut jika kantin warna-warni di Kampus B  Universitas Airlangga pun belum bisa terlepas dari hal tersebut. Dirinya menyatakan jika pihak Unair pun belum mengeluarkan kebijakan yang seharusnya menjadi pedoman pengolahan sampah di kawasan kampus.

“Unair belum juga ambil tindakan atau persoalan lingkungan semacam ini memang luput dari perhatian Unair? Maka prioritas Unair  terhadap soal lingkungan patut dipertanyakan, mengingat posisinya sebagai lembaga Pendidikan dan juga WCU. Sebab, tak sama sekali ditemukan peraturan rektor yang secara eksplisit maupun implisit mengatur kebijakan kantin. Hanya ada tentang harga penjualan makanan yang diatur”, terang Jibril.

Jibril juga menjelaskan jika permasalahan sampah di kampus, khususnya di area kantin warna-warni sudah seharusnya menjadi kesadaran seluruh mahasiswa yang dapat dimulai dari langkah kecil untuk membuang sampah pada tempatnya.

“Sebab, konsumen kantin yang mayoritas mahasiswa, ternyata sama sekali belum memiliki kesadaran bahkan untuk sekadar membuang sampah pada tempatnya. Terlepas dari memang adanya petugas kebersihan di kantin, tetapi mobilisasi perpindahan antar konsumen terjadi begitu cepat. Kantin warna warni itu ramai sekali, sehingga hampir tidak mungkin untuk para petugas harus berjaga hanya untuk memunguti sampah yang tak dibersihkan oleh pelanggannya”, jelasnya.

Dirinya juga menyebut jika permasalahan sampah di kantin warna-warni tidak menutup kemungkinan menjadikan Unair sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar yang bermuara di gunugan TPA Benowo. Menurutnya, hal tersebut akan terlalu lama jika hanya menunggu kebijakan kampus dan PT ABADA (Airlangga Bangun Persada), sebagai badan usaha pengelola kantin pun seharusnya turut mengatur kebijakan terhadap sistem kerja kantin yang ramah lingkungan, meskipun memang ABADA merupakan badan usaha yang berfokus pada pendapatan keuntungan–seperti yang ditulis pada visi misinya, tetapi persoalan lingkungan khususnya wilayah kampus, sampah pun perlu diperhatikan.

“Seperti penggunaan wadah sekali pakai hanya pada pelanggan take away saja. Juga kebijakan layanan self service. Kesadaran mahasiswa terhadap lingkungan, seperti langkah kecil membawa botol minuman (tumbler) pribadi, membuang sampah pada tempatnya. Hal ini tak bisa jika selalu menunggu kebijakan Unair ataupun ABADA, terlalu lama, dan jika pun ada kesadaran mahasiswa terhadap lingkungan perlu dicermati, elemen-elemen tersebut mesti berjalan bersama dalam mewujudkan atmosfer kampus peduli lingkungan, sebab timpang sama dengan tak berjalan”, pungkas Jibril.

Penulis: Mutiara RJ

Editor: Muhammad Syaifulloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *