Pemeliharaan Website Cyber Campus ketika masa KRS berlangsung
Sumber Gambar: Tangkapan Layar Redaksi Mercusuar

Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mulai melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) pada Senin (26/01) sesuai dengan kalender akademik direktorat pendidikan universitas. Seperti peribahasa “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”, pihak universitas seakan tidak mendengarkan keluhan yang sudah berulang kali terjadi dari para mahasiswa di masa pengisian KRS. 

Istilah “berganti rupa, tetap perkara lama” seakan cocok untuk mengungkapkan kerumitan dalam memperebutkan mata kuliah (matkul) dengan kapasitas yang terbatas. Masalah seperti maintenance atau pemeliharaan website di tengah sibuknya KRS, server yang tidak mampu menangani lonjakan pengunjung (traffic) yang berujung pada server yang eror menjadi masalah musiman yang tak kunjung selesai. Beberapa mahasiswa mengungkapkan kekecewaannya mengenai masalah tersebut. Mereka juga merasa kecewa dengan fasilitas yang tidak sebanding dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan. 

Nabilah (nama samaran) yang merupakan mahasiswa Kampus B mengaku kecewa dengan fasilitas dasar, seperti server yang tidak dapat disediakan dengan baik oleh universitas. Di sisi lain, UNAIR terus membuka kafe dan membangun gedung baru, seperti plaza dan penginapan dengan modal yang tentunya tidak sedikit. 

“Aku yakin UNAIR pasti mempunyai modal untuk membuat server baru, buat bikin kafe dan plaza saja ada biayanya. Terlebih lagi, aku rasa tidak ada gunanya UKT yang dibayarkan apabila hal-hal dasar seperti ini tidak disediakan dengan baik,” kata Nabilah.

Lebih lanjut, Nabilah mengatakan bahwa permasalahan jadwal matkul yang bentrok juga terjadi pada pengisian KRS, terutama pada matkul pilihan. Dia berpendapat bahwa masalah tersebut merupakan sesuatu yang lumrah apabila hanya ada satu atau dua matkul yang memiliki jadwal sama. Namun, akan menjadi masalah jika ada empat matkul yang memiliki jadwal serupa.

“Jujur aku tidak tahu ini salah siapa kalau ada jadwal matkul yang bentrok. Ada matkul pilihan yang bertabrakan dengan matkul pilihan lain dan matkul pilihan yang bertabrakan dengan matkul wajib. Sebenarnya tidak apa-apa kalau ada satu atau dua yang bertabrakan, tapi di sini banyak banget yang saling bentrok,” ujarnya. 

Masalah ini mengakibatkan mahasiswa harus mengabaikan KRS yang sudah disusun dan mengambil matkul lain bahkan di luar departemen apabila ingin memenuhi jumlah 24 sks. “Beberapa mahasiswa harus merelakan KRS yang sudah diatur dan mencari matkul lain di luar program studi (prodi) karena kuota yang terbatas. Hal ini mustahil jika ingin mencapai total 24 sks dalam satu semester. Sejujurnya, menurutku yang paling parah adalah ketika ada matkul wajib yang bertabrakan dengan matkul pilihan dan itu sangat merugikan mahasiswa,” tutur Nabilah saat dihubungi Redaksi Mercusuar pada Senin (26/01).

Di waktu yang sama, ungkapan kekecewaan juga ditunjukkan Adi (nama samaran)—mahasiswa Kampus B—kepada Redaksi Mercusuar. Dia merasa sia-sia menyusun KRS yang telah direncanakan sedemikian rupa, tetapi harus terbentur realita tentang jadwal yang bentrok satu sama lain. Adi juga mengkritik tidak adanya jam matkul yang seharusnya dapat meminimalisasi bentrokan jadwal yang terjadi.

“Kalau ada jam matkul, hal seperti jadwal bentrok pasti bisa dicegah atau setidaknya diminimalisasi. Tapi ini malah tidak ada dan mahasiswa seakan-akan disuruh untuk menentukkan matkulnya selama satu semester ke depan hanya dalam hitungan menit saja. Tampaknya mahasiswa boleh berencana, tapi lagi-lagi departemen yang menentukan dengan seenaknya,” ucap Adi.

Alih-alih menggembar-gemborkan peringkat dunia yang sebagian besar hasilnya didorong oleh integritas penelitian yang red flag atau berbahaya, UNAIR seharusnya mawas diri dengan masalah internal dan sederhana seperti kualitas server dan website Cyber Campus. Seperti istilah “lain di luar, lain di dalam”, tidak ada artinya dan gunanya peringkat tinggi itu apabila masalah seperti ini saja terus terjadi. 

Terlepas dari masalah yang ada, ketersediaan sumber daya manusia (SDM), seperti dosen juga menjadi akar permasalahan yang harus diselesaikan. Keterbatasan jumlah dosen untuk mengajar akibat disibukkan beberapa kegiatan, seperti penelitian dan disertasi mengakibatkan beberapa matkul ditiadakan untuk semester ini. 

Seperti peribahasa “sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, dosen juga harus menghadapi administrasi yang menumpuk dan masalah tunjangan kinerja (tukin) yang sempat mencuat ke publik pertengahan tahun lalu.

Penulis: Nafis Wira

Editor: Hana Lisdanta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *