Sumber Gambar: The Social Dilemma (Netflix)

Pernahkah kalian tenggelam dalam media sosial selama berjam-jam? Membuka gawai selepas bangun tidur, menatap layar gawai sampai lupa waktu, melakukan debat kusir karena terpancing konten rage bait, menonton konten atau video-video pendek Instagram, Youtube, TikTok, dan sebagainya.

Pernahkah juga kalian merasakan konten yang ditampilkan sangat sesuai dengan pencarian sehari-hari? Konten itu pun terkadang tak lepas dari unsur politik di masa-masa tertentu. Bagaimana media sosial dan sisi gelap perkembangan digital dapat memengaruhi pikiran manusia? Jawabannya bisa ditemukan dalam film dokumenter Netflix The Social Dilemma (2020)..

Algoritma yang Menghantui

Salah satu pembahasan yang paling menarik dalam The Social Dilemma adalah bagaimana konten yang kita konsumsi merupakan hasil dari algoritma yang diolah langsung oleh perusahaan besar teknologi, seperti Facebook, Instagram, Snapchat, dan sebagainya.

Tujuan utama dari adanya algoritma adalah memastikan pengguna tetap di depan layar dengan menonton konten-konten yang berkaitan satu sama lain untuk waktu yang selama mungkin. Mekanisme ini menciptakan echo chamber yang memperkuat polarisasi di antara pengguna. Mereka hanya disajikan konten yang mereka sukai atau dukung tanpa melibatkan sudut pandang atau perspektif berbeda.

Situasi ini akan memperparah polarisasi dan menutup ruang dialog yang sehat terutama ketika masa-masa politik sedang berlangsung. The Social Dilemma juga mewawancarai insinyur perusahaan-perusahaan besar teknologi atau orang dibalik layar media sosial yang dijalankan.

Mereka mengungkapkan bahwa industri media sosial memiliki cara tersendiri agar dapat menghasilkan uang selain dari iklan biasa. Industri media sosial menggunakan data para penggunanya seperti aktivitas, kemudian dijual ke pihak ketiga atau pengiklan untuk dikelola dan menghasilkan iklan yang dipersonalisasi berdasarkan aktivitas pengguna.

Layanan media sosial memang gratis dan jarang menjual barang secara langsung, tetapi mereka menjadikan pengguna layanan sebagai “produk” dan dijual kepada pelanggan sesungguhnya (pengiklan) agar tetap menghasilkan uang. Hal ini memunculkan istilah “jika tidak ada produk, maka Anda adalah produknya”.

Media Sosial dan Alat Propaganda

Media sosial tidak hanya menampilkan konten hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai alat propaganda selama musim kampanye berlangsung. Cara ini digunakan untuk mempromosikan program kerja yang sudah dibuat atau yang paling parah adalah menjatuhkan lawan politik mereka. Bentuk propaganda yang dilakukan juga bermacam-macam, seperti menggunakan tagar, akun buzzer atau bot, sampai menggunakan jasa influencer.

Bentuk kampanye ini terbukti efektif untuk meraih suara masyarakat luas ditambah dengan kebijakan populis yang digunakan oleh para peserta kampanye. Hal tersebut diperparah oleh polarisasi antar media sosial, yang terkadang berujung pada stigmatisasi media sosial di masyarakat. 

Di beberapa negara, media sosial sebagai alat propaganda telah beberapa kali digunakan dan berhasil dalam memenangkan peserta kampanye. Pilpres Amerika Serikat, misalnya, Donald Trump yang terpilih kembali dalam periode keduanya tidak terlepas dari pengaruh media sosial dalam mendukung kampanye politiknya.

Elon Musk menjadi salah satu figur penting dalam kemenangan tersebut dengan mentransformasi media sosial X menjadi media utama kampanye Make America Great Again (MAGA). Di Indonesia sendiri, penggunaan buzzer sangat sering dilakukan sejak Pilpres 2014 dan pemilu tahun lalu. Buzzer pun tidak hanya digunakan ketika masa pemilu, tetapi terkadang digunakan untuk membentuk pandangan atau opini publik terhadap sebuah kebijakan dan menjaga nama baik entitas tertentu.

Melihat yang Tak Terlihat

Media sosial juga secara tidak langsung berdampak pada sisi emosional dan kehidupan nyata para penggunanya. Pengguna sering kali dituntut tampil sempurna di media sosial karena standar di dunia virtual. Akibatnya, muncul rasa kecewa pada diri sendiri dan dunia nyata karena ilusi standar yang dibuat media sosial.

Dampak lain yang tidak disadari oleh para pengguna adalah menyusutnya rentang perhatian atau sering disebut span attention. Istilah ini merujuk pada durasi seseorang dapat bertahan dan fokus terhadap apa yang dikerjakan tanpa menjadi terganggu. Sebagai ilustrasi, seseorang mengerjakan tugasnya selama satu jam tanpa terganggu sama sekali seperti membuka layar gawai dan meninggalkan tugasnya begitu saja.

Selama beberapa tahun terakhir, span attention manusia mengalami penurunan. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rata-rata span attention turun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi 8 detik pada tahun 2020. Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi adalah media sosial.

Scrolling media sosial selama berjam-jam dengan notifikasi dan informasi tanpa henti dapat menyebabkan penurunan pada span attention. Ditambah, perilaku fear of missing out  (FOMO) yang memperparah kondisi tersebut. Perilaku FOMO yang harus konsisten untuk tetap terkoneksi dengan internet menyebabkan banyak gangguan dan sulit untuk fokus dalam satu hal. Span attention sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari, seperti menurunnya produktivitas, kesehatan mental yang terganggu, dan kesulitan untuk memahami sesuatu atau materi.

Namun, terdapat beberapa cara agar span attention kembali normal dan membuatnya lebih baik. Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah teknik pomodoro—25 menit untuk bekerja, 5 menit untuk istirahat. Teknik ini melatih otak untuk tetap fokus dan membuat span attention bertahan lebih lama. Selain itu, membatasi multitasking dan fokus pada satu pekerjaan sampai selesai lebih efektif daripada mengerjakan semuanya dalam waktu yang bersamaan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial telah membawa perubahan yang signifikan pada kehidupan manusia. The Social Dilemma membawa pesan penting bagi kita semua tentang dampak media sosial dalam kehidupan sehari-hari dan motif di balik fenomena tersebut. Di tengah era digital yang kompleks dan arus informasi yang begitu deras, manusia dituntut untuk lebih kritis dan bertanggung jawab terhadap penggunaan teknologi.

Penulis: M. Nafis Wirasaputra

Editor: Hessel Pradanaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *