Sumber Gambar: Tim Redaksi LPM Mercusuar

Pada (4/7), Fakultas Kedokteran menggelar Aksi Damai Ksatria Airlangga di depan patung Airlangga Fakultas Kedokteran UNAIR sebagai bentuk pernyataan sikap atas keputusan pemberhentian jabatan dekan Fakultas Kedokteran UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.O.G., Subsp.F.E.R., secara sepihak oleh rektor Universitas Airlangga. Dengan tagline “Save Prof. BUS Dekan Kita, Save Dokter Indonesia”, aksi ini menjadi teguran keras kepada pimpinan UNAIR yang mengeluarkan putusan tanpa alasan dalam pemberhentian dekan Fakultas Kedokteran sehingga menciderai ruang berekspresi intelektual.

Melansir dari CNN Indonesia, Rabu (3/7) malam, Budi Santoso memberikan keterangan terkait pemberhentian jabatannya dan membenarkan dirinya telah dipecat. Alasan pemberhentian tersebut diduga karena pernyataan Budi Santoso terkait penolakan pendatangan dokter asing di Indonesia oleh Kemenkes. Ketidakjelasan putusan rektor terkait pemberhentian dekan FK secara tiba-tiba menimbulkan banyak respon dari kalangan dokter di Indonesia, terutama bagi civitas akademika di Fakultas Kedokteran UNAIR.

Aksi damai dihadiri oleh seluruh civitas academica Fakultas Kedokteran dan perwakilan dokter dari beberapa daerah. Aksi ini juga diisi dengan beberapa agenda, salah satunya orasi Ksatria Airlangga oleh guru besar, dosen, dan alumni. Bahkan mantan rektor UNAIR, Prof. Puruhito, ikut turun tangan menyuarakan dan berduka cita atas insiden yang terjadi melalui orasinya ketika aksi damai tersebut berlangsung.

“Selain juga sebagai mantan rektor, saya hari ini sangat berduka cita mendengarkan apa yang telah diputuskan oleh rektor UNAIR terhadap dekan kita, Prof. BUS,” ujar Prof. Puruhito.

Di samping adanya keresahan atas putusan tanpa dasar rektor dalam memberhentikan dekan FK UNAIR, kejadian ini juga menjadi salah satu bentuk pembungkaman suara bagi kaum intelektual dalam menegakkan keadilan dalam kampus.

“Kebebasan berpendapat dan juga sesuatu (perbedaan pendapat) sebenarnya harus diwajarkan secara akademis di dalam sebuah kampus. Di mana kita semua pasti memiliki perbedaan, namun hal-hal seperti itulah yang memajukan dunia pendidikan kita,” tegas salah satu perwakilan PPDS UNAIR.

Aksi damai ini juga membawa tuntutan yang diajukan kepada pimpinan UNAIR sebagai bentuk penegasan dan pembuktian akan putusan yang abu-abu, tuntutan tersebut berisi (1) Kembalikan Prof. BUS sebagai Dekan FK UNAIR sekarang juga; (2) Berikan kebebasan berpendapat untuk seluruh akademisi dan Dokter Indonesia. Penindaklanjutan tuntunan ini tentunya akan terus diupayakan dengan harapan adanya kejelasan dari putusan yang dikeluarkan dan tuntunan tersebut dapat terpenuhi.

“Tentunya nanti akan kami lanjutkan, tentunya nomor satu menanyakan dulu kepada pimpinan apa dasarnya, sampai sekarang belum jelas apa yang mendasari beliau bertindak secepat itu, mendadak itu yang dipertanyakan. Setelah itu baru kita akan nanti mengajukan tuntutan kita dan harapannya adalah tuntutan tersebut dapat terpenuhi,” jelas Mantan Rektor UNAIR, Prof. Puruhito.

Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Puruhito bahwa pemberhentian dekan FK UNAIR masih terkesan tergesa-gesa dan tanpa alasan kuat. Selain itu, putusan tersebut melenceng dari PP Nomor 30 Pasal 53 Tahun 2014 terkait Statuta Universitas Airlangga yang notabene tidak ada keterangan terkait pemberhentian dekan atas perbedaan pendapat. Maka dengan itu, harapan besar akan kejelasan dari putusan rektor tidak hanya didambakan oleh para guru besar, dosen, dan alumni, melainkan juga dari para dokter muda mahasiswa Kedokteran UNAIR. Para mahasiswa Kedokteran UNAIR tetap akan membantu mengawal bagaimana proses kelanjutan dari insiden ini.

“Kata terakhir dari kami, lawan! Kami akan terus memperjuangkan hak-hak kami, hak-hak beliau. Dan tentunya kampus sebagai institusi di mana kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan untuk demokrasi, bersuara itu seharusnya aman. Kampus seharusnya bukan malah membungkam,” ujar salah satu perwakilan dokter muda mahasiswa Kedokteran UNAIR.

Penulis: RK-11

Editor: WI-07

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *