Sumber Gambar: Tim PDD PKL Folklor

Jumat (24/5), Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia kembali menggelar Praktik Kuliah Lapangan (PKL) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 120 mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai agenda wajib departemen, sebagaimana tahun lalu yang juga digelar di tempat serupa dengan menghadirkan Reog Bulkiyo.

Kali ini, Desa Kemloko memperkenalkan Serat Ambiya sebagai kebudayaan asli Kemloko yang diturunkan dari para sesepuh secara turun temurun. Seluruh mahasiswa yang terbagi menjadi lima kelompok ini tersebar di lima lokasi untuk melihat dan mendengarkan pembacaan tembang Macapat Serat Ambiya. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 20.00 WIB dan rata-rata selesai pada pukul 2.00 WIB.

“Serat Ambiya itu cerita tentang nabi-nabi yang dilagukan menggunakan tembang Macapat. Serat ini diciptakan dan ditulis tangan menggunakan aksara Arab Pegon oleh Sunan-Sunan. Sejarahnya mulai dari nabi Adam, nabi Sulaiman, nabi Yusuf, sampai Yajid. Naskah yang ini sebenarnya naskah salinan karena yang asli lembarnya banyak yang terlepas dan tidak terbaca. Saya belajar membaca Serat Ambiya ini ya belajar lagu-lagunya dulu, kalau belajar cara membacanya dulu, ya, gak akan bisa,” terang Munib, salah satu pembaca Serat Ambiya. Menurutnya, Serat Ambiya merupakan naskah manuskrip berisi sejarah nabi-nabi yang ditulis oleh para sunan terdahulu menggunakan aksara arab pegon. Naskah yang ada di Desa Kemloko bukanlah naskah asli melainkan turunan sebab keadaan naskah asli sudah tidak layak baca, banyak halaman yang terlepas.

Munib mengatakan bahwa Serat Ambiya tidak hanya ada di Desa Kemloko. Bisa jadi, tiap daerah memiliki Serat Ambiya versinya sendiri—yang membedakan, kemungkinan, hanya dari segi bahasa serta rangkaian kata yang tertulis dalam serat, namun isinya pasti tetap sama, yakni membahas seputar sejarah para nabi. “Serat Ambiya ini kan berisi tembang Macapat. Ya kalau Dhandhanggulo isinya ucapan dan kata kata yang baik, yang enak di dengar. Kalau Sinom itu cerita anak-anak, cerita saat nabi Sulaiman masih muda. Kalau meninggal ya lagunya Megatruh, kalau ada peristiwa atau kejadian maupun sedang bekerja itu lagunya Durma. Kalau pangkur ya cerita sejarah ketika sudah meninggal. Jadi alur ceritanya ini ditandai pakai lagu tembang Macapat.” Munib juga menambahkan bahwa tiap segmen cerita memiliki ciri khas dan lagu tembang masing-masing. Nada atau irama yang akan dipakai dalam pembacaan Serat Ambiya menyesuaikan isi ceritanya.

“Serat ini kan aslinya ditembang saat ada bayi dilahirkan, hal itu sudah jadi kebiasaan disini,” ungkap Marjadi, salah satu sesepuh penekun Serat Ambiya. Warga Desa Kemloko menjadikan pembacaan tembang Serat Ambiya sebagai tradisi yang umumnya dilaksanakan ketika ada bayi yang baru saja dilahirkan. Mendengar cerita-cerita dari warga sekitar, mereka mengatakan bahwa bayi-bayi ini akan dibacakan Serat Ambiya setiap malam selama tujuh hari sejak bayi itu dilahirkan. Munib pun mengonfirmasi, “Kalau tiba-tiba didatangi orang mengabarkan ada bayi yang dilahirkan ya berangkat, meskipun seminggu harus begadang ya tetap berangkat.” 

Warga Desa Kemloko sangat menjaga keberadaan naskah Serat Ambiya. Mereka rutin mengganti sampul dan menjaga tiap halaman naskah dengan baik supaya tidak ada yang terlepas ataupun hilang. Mereka juga menyucikan dan melestarikan eksistensinya di tengah masyarakat yang lebih menyukai seni pertunjukan visual seperti Reog Bulkiyo dan Jaranan. Setiap kali ada kesempatan, para tetua akan gencar mencari warga desa yang mau belajar membaca Serat Ambiya. Mempelajari aksara pegon serta lagu-lagu tembang Macapat memang akan terasa sulit dan melelahkan, namun Serat Ambiya tetaplah warisan budaya yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya.

Selain Serat Ambiya, Desa Kemloko juga memiliki kebudayaan dan kesenian lainnya yang tak kalah menarik untuk ditelusuri. “Desa Kemloko ini ada banyak kegiatannya. Ada pelestari budaya juga, seperti Reog Bulkiyo, Serat Ambiya, Reog Sawunggaling yang diiringi kendang kempit, Jedor Sholawatan, Diba’an, Jaranan, dan Campursari. Semuanya ditampilkan ketika perayaan hari besar Islam, hari besar nasional, dan saat Pisowanan Agung yang merupakan hari jadi desa Kemloko yang diadakan setiap dua tahun sekali,” ungkap Nasrudin, kepala seksi pemerintahan Desa Kemloko.

Kedatangan mahasiswa disambut dengan hangat oleh warga desa mengingat desa Kemloko telah menjadi desa binaan Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Mereka bahkan menyediakan penginapan dan berbagai fasilitas di samping memperkenalkan berbagai kebudayaan dan kesenian khas Desa Kemloko. Terhitung ada 10 rumah warga yang menjadi tempat menginap para mahasiswa. Yuswinarko selaku koordinator Serat Ambiya Desa Kemloko sangat membantu koordinasi mahasiswa dengan warga desa, dari menyediakan tempat berkumpul hingga konsumsi selama PKL.

“Selama dua hari PKL, mahasiswa tidak hanya menyaksikan pertunjukan tembang Serat Ambiya saja, melainkan juga turun ke lapangan untuk pencarian data dan melakukan wawancara dengan masyarakat serta tokoh budayawan setempat. Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa dosen seperti Bapak Listiyono Santoso, Bapak Moch. Jalal, Bapak Abimardha Kurniawan, Ibu Mardhayu Wulan Sari, dan dosen lainnya. Tidak hanya itu, juga ada Ibu Trisna Kumala Satya Dewi selaku dosen Universitas Sebelas Maret. Sangat menyenangkan dapat mengeksplorasi budaya dan tradisi warga yang telah dijaga lama dan dilestarikan antar generasi. Banyak pengalaman baru yang dapat dipetik dan diimplementasikan dalam keilmuan dan kehidupan sehari-hari,” tutur Ade Irma, ketua pelaksana PKL Folklor 2024 sekaligus salah satu mahasiswa mata kuliah Folklor, Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Penulis: SA-12

Editor: RF-08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *