Sumber Gambar: Tim Liputan LPM Mercusuar
Kabar gembira datang dari PKL Srikana. Penantian yang selama ini ditunggu para PKL Srikana telah terpenuhi mengenai janji kesejahteraan mereka untuk dapat kembali berjualan di Srikana. Proyek pembangunan Sentra Wisata Kuliner (SWK) Srikana yang sempat terlantar selama 8 bulan berhasil diselesaikan oleh pihak pemerintah Kota Surabaya. Keberhasilan pemerintah kota menggarap SWK Srikana disambut antusias oleh pihak PKL Srikana. Pihak Pemkot Surabaya bersama pihak PKL Srikana menggelar hajatan di tenan-tenan baru pada 23 Februari 2024. Selepas menggelar prosesi khusyuk tersebut pada 26 Februari 2024, SWK Srikana mulai beroperasi. Namun, demikian hanya sebagian PKL Srikana yang mulai berjualan di tenan-tenan baru, sisanya tengah menyusun persiapan untuk berjualan kembali.
Perintisan lokasi tersebut diawali dengan pembuatan pedestrian di Jalan Dharmawangsa pada masa Walikota Tri Rismaharini. Melihat banyaknya pedagang di pinggir jalan, spontan mendapat respon dari Bu Risma. Bu Risma menyarankan kepada para PKL untuk pindah ke wilayah Srikana, karena pada saat itu wilayah Srikana merupakan jalan mati, dan tidak mengganggu ketertiban lalu lintas. Area Srikana sendiri dulunya hanyalah lahan kosong yang ditumbuhi tanaman-tanaman lebat nan liar.
Sekitar 2016 wilayah Srikana mulai dipadati oleh PKL dan mahasiswa yang lalu lalang. Saat itu para pedagang membuat petak-petak tempatnya sendiri untuk berjualan. Seiring tahun, area Srikana mulai dilirik oleh instansi setempat, termasuk UNAIR dan pemerintah. Pihak UNAIR memutuskan mengontrak area Srikana untuk dibuatkan paving dan area parkir mahasiswa. Selesai masa kontrak, wilayah Srikana dialihkan ke pihak kecamatan.
Strategisnya lokasi Srikana menarik atensi berbagai pihak untuk merevitalisasi guna kebutuhan estetika tata ruang kota. Terlebih lagi, UNAIR sedang berada di puncak World Class University (WCU), hal ini memantik spekulasi bahwa UNAIR sedang menjaga citranya dari pihak luar. Alhasil rencana revitalisasi berimbas pada pedagang PKL Srikana.
Upaya revitalisasi mendapat kecaman dari elemen PKL dan mahasiswa. Berbagai pengawalan konsolidasi dan audiensi digelar BEM FISIP agar keberlangsungan hidup PKL Srikana tetap sejahtera. Jalur audiensi dengan DPRD dan Pejabat Pemerintah Kota pun dipilih, walau sempat terjadi dinamika dalam mencapai suatu kesepakatan, “Walau terjadi dinamika dalam perjuangan untuk tercapainya kesepakatan saat audiensi DPRD kota surabaya, BEM FISIP Unair tetap konsisten mengawal hingga tercapainya kesepakatan Win-Win solution. Dibuktikan saat diakhir baik kepentingan dari pemerintah terpenuhi dan kepentingan dari PKL terpenuhi juga,” ucap Menteri Kemenpolstrat BEM FISIP UNAIR, Rizaldi Mahendra. Hal ini juga ditegaskan oleh Pak Andre salah satu PKL, “Ya sesuai sih mas, kalau urusan perjanjian antara pihak PKL dengan pihak pemkot sama-sama setuju, jadi pemkot bikin aturan kek gini, PKL bikin kek gini. Kita rapatkan bareng, kita rembukan bareng dengan jalan terbaik.”
Dengan demikian pemerintah kota akhirnya memfasilitasi para PKL dengan kios dan PDAM gratis, listrik token 900 watt, plank usaha dari Dinas Koperasi Kota Surabaya, kebersihan-keamanan dari warga sekitar, serta pengoperasian SWK di bawah Kecamatan Gubeng dan Dinas Koperasi. Menurut penjelasan narasumber PKL, revitalisasi ini merupakan kesempatan dari Eri Cahyadi selaku Walikota Surabaya, sebagai ajang dukungan pemkot dalam menyukseskan UMKM dan warga Surabaya. Tentunya bantuan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan melalui proses administrasi yang jelas.
Saat ini tersedia 25 kontainer di SWK Srikana dengan 23 PKL. Operasional SWK Srikana berlangsung selama 24 jam, tidak ada pembatasan jam. Perihal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Pak Andre, “Enggak ada, enggak ada, loss enggak ada pembatasan waktu.” Dengan demikian memberi peluang leluasa bagi pihak pedagang agar dapat mengais rezeki semaksimal mungkin.
Terkait dengan hajat hidup PKL Srikana, mereka memutuskan akan membuat paguyuban, agar antar PKL dapat bahu-membahu saling membantu dalam kelancaran usaha. Tak lupa harapan para PKL adalah kemajuan bersama dengan jalan damai, tanpa anarkisme.
Penulis: HR-06
Editor: DD-10