Sumber Gambar: Dimas Septo Nugroho
Bertepatan dengan Hari HAM Internasional, Minggu (10/12), Amnesty International Indonesia Chapter UNAIR menyelenggarakan Art Exhibition dan Bilik Kreasi bertajuk “Inclusivity in Creation: Sculpting Humanity Together” di ArtLab Lounge, Surabaya. Pameran ini merupakan satu dari enam agenda Festival HAM Amnesty (Feshama) yang diadakan dalam rangka menyambut dan memperingati Hari HAM Internasional yang dibuka untuk umum pada pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.
Amnesty UNAIR menampilkan beberapa karya berupa fotografi dan ilustrasi berkenaan dengan isu HAM yang sedang dihadapi Indonesia saat ini. Mulai dari isu wadas, pembungkaman kebebasan berpendapat, sampai dengan penggusuran tempat tinggal masyarakat rentan. Seluruh karya yang ditampilkan merupakan hasil dari open submission yang dibuka sejak tanggal 18 November hingga 7 Desember. Selain itu, terdapat pula Bilik Kreasi yang mana para pengunjung dapat melukis di media tote bag yang disediakan secara gratis dan dapat dibawa pulang sebagai cendera mata.
Presiden Amnesty Chapter UNAIR, Wahyuning Mei Savira atau yang akrab disapa Vira mengatakan bahwa Festival HAM Amnesty merupakan program kerja yang telah diinisiasi sejak tahun lalu dan diadakan kembali karena semangat para anggota Amnesty UNAIR dalam memberikan diskursus, pemahaman, dan kesadaran kepada masyarakat mengenai isu-isu HAM dengan mekanisme yang berbeda, salah satunya melalui seni yang direalisasikan dalam Art Exhibition dan Bilik Kreasi ini.
Selain itu, Amnesty ingin menunjukkan bahwa seni tidak hanya merupakan media hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi media yang powerful dalam memberikan kesadaran mengenai HAM kepada masyarakat. Bian, salah satu pengunjung acara juga menyebut bahwa acara ini merupakan salah satu ide yang kreatif dalam menyosialisasikan atau memberikan pemahaman mengenai HAM kepada masyarakat sekaligus dapat menjadi wadah apresiasi seni bagi para pegiat seni.
Namun, nampaknya antusiasme publik dalam acara ini terbilang minim. Vira menyebut bahwa jumlah karya yang terkumpul tidak sesuai ekspektasi. Berkaca dari hal tersebut, Ia berharap Amnesty UNAIR dapat memperoleh kesempatan untuk berkolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan internal UNAIR agar realisasi tujuan dan sasaran Festival HAM Amnesty dapat lebih masif, khususnya di lingkup Universitas Airlangga. Sebab, menurutnya masih banyak isu dan tragedi HAM (khususnya di Indonesia) yang masih perlu dikawal bersama.
Penulis: Dimas Septo Nugroho
Editor: Ghina Salsabila