Dewasa ini banyak dari kita, termasuk saya dan Anda yang membaca ini tanpa disadari sering kali curhat di media sosial. Benar atau benar?
Platform seperti Instagram, TikTok, hingga Twitter di era sekarang sudah menjadi partner komunikasi sehari-hari bagi kita. Sehingga banyak dari kita seolah menganggap bahwa platform-platform tersebut dapat digunakan sebagai tempat untuk curhat dan berkeluh kesah. Bahkan seringkali hal-hal yang diceritakan di media sosial memiliki ranah privat dan tidak berkonteks secara utuh. Misalnya “Oh gini ya rasanya disakiti sama orang yang kita cintai,” yang kemudian memunculkan banyak reaksi polarisasi di kolom komentarnya. Beberapa orang pro memberi dukungan dan semangat, sementara yang lain kontra dengan tanggapan-tanggapan adu nasibnya yang menyebalkan.
Pada dasarnya, curhat merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia. Melalui curhat, kita berusaha memenuhi kebutuhan akan perasaan diterima, dimengerti, dan divalidasi. Ketiga hal tersebut merupakan kebutuhan manusia sejak bayi. Ketika kita bayi, kita memiliki kebutuhan untuk divalidasi oleh orang tua kita. Kemudian memasuki masa anak-anak, kebutuhan validasi mulai meluas kepada saudara, bibi, dan paman kita. Selanjutnya, saat memasuki sekolah dasar, kita mulai membutuhkan validasi dari guru-guru kita. Saat memasuki masa SMP hingga SMA, kebutuhan validasi dari orang tua dan keluarga sudah mulai bergeser. Pada masa ini, remaja lebih membutuhkan validasi dari peer group-nya. Sehingga sering dijumpai remaja yang lebih mementingkan pendapat teman-temannya daripada nasehat dari orang avrupa yakası escort tuanya. Kebutuhan validasi ini akan terus bergeser pada sesuatu yang lebih luas, misalnya saat kuliah atau bekerja. Dengan kata lain, saat kita bertambah dewasa kebutuhan untuk diterima akan semakin meluas. Oleh karena itu, dalam level ini kebutuhan untuk diterima mulai menjadi tricky dan harus berhati-hati.
Dalam batasan-batasan sebelumnya, curhat masih sangatlah sehat. Dengan melalui curhat, kita bisa mendapatkan dan memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia. Namun, bagaimana jika curhatnya di media sosial?
Psikolog asal Sidoarjo, Hasan Askari dalam perbincangannya dengan Habib Husein Ja’far beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa orang yang benar-benar menjadi dewasa adalah orang yang sadar akan kebutuhannya untuk diterima. Mereka memiliki kemampuan untuk menahan diri dan tahu kapan serta kepada siapa mereka sebaiknya bercerita. Oleh karena itu, dalam konteks dewasa, curhat di media sosial dapat berisiko mengundang masalah yang lebih besar apabila tidak berhati-hati.
Sebagai orang dewasa, kita harus memiliki kesadaran penuh bahwa media sosial tidak hanya berisi orang yang benar-benar peduli dengan kita, yang menginginkan kita bahagia, dan yang hanya menginginkan kebaikan untuk kita. Sehingga, media sosial bukan tempat yang tepat untuk kita curhat dan berkeluh kesah. Di media sosial, pertanyaannya adalah berapa jumlah followers kita? Apalagi di TikTok, konten-konten curhat yang kita buat rawan menjadi viral. Cerita kita akan tersebar kepada orang-orang yang tidak mengenal kita, belum lagi akan menambah masalah apabila banyak dari mereka yang hatinya dipenuhi iri dan dengki. Padahal ketika curhat ingat kan, kita membutuhkan apa? Yap, benar sekali perasaan diterima, dimengerti, dan divalidasi.
Jadi, apakah dengan curhat di media sosial yang berisikan orang-orang yang bahkan tidak kita kenal bisa memenuhi tiga hal yang menjadi kebutuhan kita itu? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu, apakah ketika kebutuhan kita akan perasaan diterima, dimengerti, dan divalidasi sebagai manusia tidak terpenuhi akan menyehatkan mental kita? Lagi-lagi, jawabannya pun tidak.
Penulis : Sharisya Kusuma Rahmanda
Editor : Ananda Putra