Pada senin (19/6) lalu, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga angkatan 2020 telah melakukan pagelaran drama satu babak untuk mata kuliah Dramaturgi. Berlokasi di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya, pementasan  dihadiri lebih dari 400 penonton baik mahasiswa UNAIR maupun masyarakat umum yang menyambut dengan antusias pementasan tersebut.  

Sebelum masuk pada inti, acara dibuka dengan penampilan-penampilan epik mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2019, 2020, dan 2021 seperti pembacaan puisi “Sebuah Restoran, Moskwa” karya W.S. Rendra oleh Muhammad Sang Aji dan “Ibu” karya D. Zawawi Imron oleh Meilisa juga musikalisasi puisi individu “Bunga dan Tembok” karya Fajar Merah oleh Teguh. Selain itu juga ada penampilan secara grup oleh Feby, Christopher, dan Habib yang membawakan karya “Di Restoran” milik Sapardi Djoko Damono. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari ‘Aalimah Qurrata A’yun selaku pimpinan produksi, Ki Puji Karyanto selaku dosen pengampu mata kuliah Dramaturgi, dan dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum.

Drama dibuka dengan lakon utama Ani, yang sedang melayani pengunjung rumah makan “Sambara”. Parasnya cantik, namun kecantikannya justru membuat ia “terkurung” dalam rumah makan tempat ia bekerja. Ani juga telah memiliki kekasih seorang tentara bernama Herman. Lalu suatu hari datang Pelancong yang membuka mata Ani terhadap bagaimana ia selama ini hidup penuh kepalsuan alih-alih membikin keonaran. Ditambah pula dengan paman Ani yang seorang kyai gemar menyuruhnya untuk segera kawin. Aklınızı başınızdan alacak istanbul escort bayanlar aramanızı bekliyor. Ani tersadar akan hidupnya dan ia memilih pergi bersama Pelancong itu.

Muhammad Jibril, sutradara Dramaturgi XVIII menjelaskan alasan mengapa ia memilih naskah tersebut dalam pementasan ini, “Kan aku merasa ini naskah udah dibikin jauh-jauh hari tapi sampai sekarang masih relevan sama soalan kita. Memang soalannya mendasar itu yang bikin naskah ini jadi relevan untuk mengingatkan kita, kita berkuasa terhadap diri kita sendiri”, Diketahui naskah ini diciptakan pada tahun 1947 dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1948. Meskipun begitu nilai-nilai yang disampaikan masih relevan hingga 75 tahun setelahnya.

Dramaturgi XVIII ini merupakan pementasan dramaturgi pertama setelah vakum 2 tahun akibat pandemi. Oleh karena itu antusiasme penonton dapat terlihat dari penuhnya kursi ruang pagelaran sebanyak 400 kursi. Panitia yang merupakan mahasiswa angkatan 2020 atau yang saat ini menginjak semester 6 harus membagi waktu antara persiapan drama ini dengan penyusunan proposal skripsi, “Jadi selain temen-temen harus dipressure di dramaturgi ini, mereka juga harus menyusun proposal skripsi. Mengumpulkan revisi hari kamis besok. Jadi besok atau malam ini langsung mereka akan pulang ke kampung halamannya dan mengerjakan revisi proposal sebagaimana mahasiswa semester 6 pada umumnya”, Ungkap A’yun, pimpinan produksi Dramaturgi XVIII. Selain itu persiapan pementasan ini telah dilakukan sejak awal semester atau sekitar Bulan Februari, “Budaya harus senantiasa dikembangkan yang kata Pak Puji, Surabaya itu representatif dengan tamannya, budayanya ini kita gelorakan dengan apa? Salah satunya adalah dramaturgi yang masuk dalam teater sehingga harus senantiasa didukung”, Ucap A’yun ketika ditanya pesan yang ingin disampaikan melalui dramaturgi ini. Selain itu, A’yun juga berpesan untuk angkatan selanjutnya agar melanjutkan dan lebih memeriahkan ibadah ini, “Ibadah ini harus dilanjutkan. Kenapa saya memilih diksi ibadah karena ibadah itu wajib dilakukan karena sudah memilih ini maka wajib dilakukan. Maka untuk adik-adik angkatan 2021 mohon kiranya untuk dilanjutkan dan dimeriahkan lebih dari yang barusan kita lakukan.”

Penulis: Sri Dwi Aprilia dan Savina Rizky Hamida

Editor : Ina Shofiyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *