Beberapa hari lalu, publik sempat menyoroti politik dagelan yang dilakukan oleh Aldi Taher. Pasalnya, ia dikabarkan menjadi bakal calon legislatif dengan diusung oleh dua partai sekaligus yaitu Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) di dua tingkat badan legislatif yang berbeda, yaitu DPRD DKI Jakarta dan DPR RI.

Ketika diwawancarai dalam siaran langsung Kabar Petang tvOne mengenai alasannya bergabung dalam dua partai sekaligus adalah karena ia mencintai semua partai di Indonesia. Namun, ia menyebutkan bahwa dirinya bingung mengapa sekarang ada di Perindo.

“Dua-duanya baik. Dua-duanya keren. Nah kenapa Aldi Taher sekarang ada di Perindo ya qadarullah. Kalau ditanya kenapa saya juga bingung Mbak, jujur Mbak,” terang Aldi Taher.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa semua manusia di muka bumi ini bingung dan akan tidak bingung jika sudah berada di surga. Aldi Taher mengaku bahwa dirinya telah mengundurkan diri dari PBB dan berencana mencalonkan diri sebagai bacaleg Perindo di DPR RI. Terlebih lagi, PBB pun telah mencoret nama Aldi Taher sebagai bacaleg DPRD DKI Jakarta. Adapun motivasinya mencalonkan diri sebagai bacaleg DPR RI adalah ingin membaca Al-Qur’an.

“Saya pengen baca Al-Qur’an di sana, supaya nanti insyaallah Mbak Puan melihat, Pak Bamsoet melihat, semua melihat, selalu menjadi contoh, karena bismillah baca Al-Qur’an (adalah) solusi,” jelasnya.

Melihat politik dagelan Aldi Taher yang cukup menarik perhatian publik, kita harus memahami kembali bagaimana bentuk demokrasi yang ideal, khususnya kriteria legislator dalam sistem demokrasi representatif. Sebab, peran lembaga legislatif cukup besar dalam negara demokrasi, sehingga seharusnya tidak dipandang sebagai panggung bermain.

DPR sebagai lembaga legislatif berperan sebagai kontrol pemerintah, sehingga perlu adanya intelektualitas dalam setiap anggotanya agar mampu mengkritisi setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden beserta kabinetnya. Namun, akhir-akhir ini banyak sekali kalangan selebritas yang ikut terjun ke panggung politik Indonesia. Bahkan banyak di antaranya yang juga mencalonkan diri sebagai bacaleg di Pemilu 2024 nanti. Farklı denyimler için avcılar escort bayanlar sitemizi ziyaret edin. Hal yang perlu dikritisi adalah memastikan para selebritas ini—termasuk Aldi Taher— tidak hanya mengandalkan popularitas, melainkan juga memiliki kredibilitas. 

Sangat disayangkan ketika beberapa netizen merespon secara positif politik dagelan Aldi Taher dengan membandingkan kinerja anggota DPR yang mereka sebut tidak menjanjikan dan tidak dapat dipercaya. Konon R.P. Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ atau Romo Magnis pernah berkata “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa.” Meskipun hal tersebut mungkin konteksnya adalah untuk memilih eksekutif, tetapi dapat juga diterapkan untuk memilih anggota legislatif. Sehingga, yang dapat saya katakan adalah jadilah pemilih yang bijak, cerdas, dan rasional. Ketika tidak ada calon legislatif yang terbaik, setidaknya cegah yang tidak memiliki kredibilitas dan akuntabilitas mewakili di parlemen.

Penulis : Dimas Septo Nugroho

Editor : Myesha Fatina Rachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *