Kementerian Politik dan Kajian Strategis (Polstrat) BEM FISIP Universitas Airlangga gelar peringatan 25 tahun pasca reformasi 1998. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (21/5)  di Taman Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga dengan mengusung tema “Merayakan 25 Tahun Reformasi : Refleksi Jejak Pelanggaran HAM di Indonesia Pasca Reformasi”

Menteri Polstrat BEM FISIP Unair, yaitu Tufa menyampaikan bahwa tujuan dari acara ini adalah sebagai refleksi apakah semangat reformasi sampai hari ini masih relevan atau tidak dengan peran tema-teman mahasiswa saat ini, dan juga apakah pelanggaran HAM sudah dituntaskan oleh pemerintahan dari tahun ‘98 hingga saat ini.

Tim liputan juga menanyakan perihal audiens yang ada pada acara kali ini. “Untuk undangan sendiri, tentu pertama dari pihak BEM Fakultas Unair, lalu juga kebetulan kan barusan presiden dan wapresnya baru terpilih jadi juga ikut diundang. Dikarenakan tema utamanya kan tentang hak asasi manusia, tentunya kami juga memberikan ruang kepada organisasi yang fokus terhadap HAM itu sendiri, seperti Amnesty Unair, Kontras, dan kawan-kawan Herman Bimo” ucap Mahen selaku Ketua Pelaksana.

Dalam peringatan 25 tahun pasca reformasi ini, acara dibuka dengan sambutan Ketua BEM FISIP Unair, kemudian dilanjutkan teatrikal puisi dan sesi diskusi bersama para audiens yang dipantik oleh Fahri (staf Polstrat), Amnesty UNAIR, Kawan Herman Bimo, dan Kontras Surabaya. Acara kemudian dilanjutkan dengan aksi mimbar bebas. Dalam mimbar bebas ini semua pihak yang datang bisa menampilkan dan mengekspresikan apa yang ingin disampaikan. 

“Untuk mimbar bebas kita bebas sebebas-bebasnya, nggak ada batasan, yang mau maju maju aja, mau puisi, main gitar, atau mau apa boleh.” ucap Tufa. 

Dalam kegiatan ini, Kementerian Polstrat juga mengundang Band Lontar sebagai pengisi acara. Band Lontar merupakan salah satu band yang pada zaman reformasi kerap melakukan kritik sosial melalui lantunan lag-lagunya. Salah satu pemain Band Lontar pada waktu itu,  yaitu Mas Bimo atau yang biasa di panggil Mas Bimpet, merupakan aktivis yang berasal dari UNAIR. Beliau merupakan korban yang hilang pada masa perjuangan reformasi ‘98 dan masih belum ditemukan sampai sekarang.

Dengan adanya kegiatan ini, Tufa selaku Menteri Polstrat BEM FISIP Unair memiliki beberapa harapan. Salah satunya ialah agar kegiatan semacam ini mampu menggugah semangat mahasiswa yang saat ini mulai meremehkan gerakan mahasiswa karena dianggap sudah tidak relevan dan bukan prioritas lagi. 

“Kita kan disini menyediakan ruang buat teman-teman siapapun, dari mahasiswa bisa bersentuhan langsung dengan mahasiswa angkatan 1998 dan melakukan diskusi, banyak tanya dan bercerita” tegas Tufa. Ia juga berharap agar semangat pergerakan, perkumpulan, dan semangat diskusi mahasiswa bisa hidup kembali di lingkungan Universitas Airlangga saat ini. 

Penulis:  Fira Ila

Editor: Ina Shofiyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *