Ilustrasi by Warner Bros
Antusias penggemar film Barbie sangat terasa, bahkan sebelum film tersebut dirilis secara resmi di bioskop Indonesia. Selain antusiasme penonton, hal lain yang menjadi sorotan publik adalah poster film Barbie 2023 versi Korea yang menuai kontroversi. Warner Bros mengubah tajuk pada poster yang sebelumnya tertulis “Barbie is everything” menjadi hanya “Barbie”. Hal ini dianggap sebagai bentuk misogini yang memang kerap terjadi di Korea Selatan. Lantas, apa yang dimaksud dengan misogini?
Misogini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai perilaku orang yang membenci perempuan. Menurut Oxford English Dictionary, kata ‘misogyny’ muncul pada pertengahan abad ke-17. Berasal dari bahasa Yunani ‘misos’ berarti kebencian dan ‘gunē’ yang berarti wanita. Sosiolog Allan G. Johnson berpendapat mengenai misogini, “Kebencian terhadap wanita … merupakan bagian sentral dari prasangka seksis dan ideologi dan, dengan demikian, merupakan dasar penting bagi penindasan perempuan dalam masyarakat yang didominasi laki-laki”. Sosiolog Michael Flood dari University of Wollongong juga menambahkan catatan terhadap definisi misogini, “Meskipun paling umum dilakukan oleh pria, kebencian terhadap wanita juga ada dan dipraktikkan oleh perempuan terhadap perempuan lain atau bahkan terhadap diri mereka sendiri. Fungsi misogini sebagai ideologi atau keyakinan sistem yang telah disertai patriarki, atau masyarakat yang didominasi laki-laki selama ribuan tahun dan terus menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dengan akses terbatas terhadap kekuasaan dan pengambilan keputusan….” Aristoteles juga berpendapat bahwa perempuan adalah kelainan yang alami atau ketidaksempurnaan dari laki-laki. Sejak saat itu, peran perempuan dalam budaya Barat telah diinternalisasi sebagai kambing hitam sosial. Pengaruh ini muncul pada abad ke-21 melalui objektifikasi multimedia perempuan dengan kultural sanksi untuk membenci diri sendiri dan fiksasi pada operasi plastik, anoreksia atau bulimia. Bentuk dari misogini diantaranya yakni diskriminasi seksual, fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan. Praktik semacam ini telah berlangsung selama beberapa tahun di Korea Selatan. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
Tak dapat dipungkiri, misogini juga terjadi di Indonesia. Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2023 menyebutkan bahwa terdapat peningkatan angka pengaduan langsung Kekerasan terhadap Perempuan ke Komnas Perempuan dari 4.322 kasus di tahun 2021 menjadi 4.371 kasus di sepanjang tahun 2022. Masalah ketidaksetaraan gender dan stereotip yang terjadi di masyarakat kerap menjadi akar dari kasus ini. Contoh yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari misalnya labelling (pelabelan terhadap sifat perempuan), body-shaming (celaan terhadap kondisi fisik), cat-calling (pelontaran kata atau kalimat tidak senonoh) dan masih banyak lagi. Media televisi pun tak luput dari praktik misogini. Tayangan sinetron, iklan, talkshow, Film Televisi (FTV) merupakan beberapa contoh program yang menjadi wadah konstruksi misogini di dunia hiburan. Misogini membatasi ruang gerak dan ruang ekspresi perempuan. Misoginis juga memberi dampak lain terhadap perempuan misalnya rasa kurang percaya diri, cemas, takut, hingga trauma.
Setelah ditelusuri, ternyata misogini tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa faktor yang dimungkinkan menjadi penyebab munculnya perilaku misogini, diantaranya:
1. Budaya patriarki
Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Dalam sistem ini, posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan dalam segala aspek kehidupan sosial, budaya dan ekonomi (Pinem, 2009:42). Di Indonesia, budaya patriarki masih banyak dijumpai hingga masa kini.
2. Trauma masa kecil
Perlakuan atau pengasuhan yang salah pada perempuan di masa kecilnya dapat memunculkan trauma di kemudian hari. Sehingga, anak perempuan dimungkinkan menyimpan rasa kebencian, bahkan terhadap diri sendiri.
3. Pola asuh diskriminasi
Pembedaan pola asuh antara anak laki-laki dengan anak perempuan juga menjadi salah satu penyebab munculnya misogini. Perlakuan tidak adil yang diterima oleh anak perempuan dapat menimbulkan rasa benci pada ibunya yang bisa berkembang menjadi kebencian terhadap semua perempuan.
4. Pola pikir maskulinitas
Sosiolog dari Universitas Sumatera Utara, Harmona Daulay mengatakan bahwa pola pikir maskulinitas mendoktrin anak laki-laki hingga dewasa. Doktrin tersebut misalnya laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki tidak mengerjakan urusan dapur, harus menjadi pemimpin, dan anggapan semacam itu sehingga perempuan hanya sebagai objek laki-laki dan berujung pada timbulnya perilaku misogini.
Sejalan dengan ini, Komnas Perempuan membagikan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir perilaku misogini, diantaranya:
1. Tidak menempatkan perempuan sebagai penyebab perilaku kekerasan seksual
2. Menolak tegas melekatkan perempuan pada stereotip tertentu
3. Menghindari bias gender dan diskriminasi terhadap perempuan
4. Meningkatkan pemahaman terhadap budaya dan nilai agama, khususnya terkait pandangan terhadap perempuan.
Perempuan sama berharganya dengan manusia lain. Perempuan berhak hidup dengan bahagia dan bebas mengekspresikan diri tanpa takut mendapat diskriminasi. Sudah saatnya kita melawan praktik misogini dan menegakkan kesetaraan gender di segala aspek kehidupan.
Penulis: Dinda Amadea Isnania (Kontributor)
Editor: Arizqa Novi Ramadhani