Rabu (11/04) aksi mahasiswa tolak UU Ciptakerja berlangsung di depan gedung DPRD Jawa Timur. Aksi terdiri dari beberapa universitas yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya, di antaranya Unair, ITS, Untag, dan Uinsa. Ratusan massa aksi berkumpul dan berunjuk rasa atas penolakan UU Ciptakerja yang disahkan secara resmi oleh DPR RI pada (21/03) lalu.
Tuntutan yang dilayangkan salah satunya mendesak Undang-Undang Cipta Kerja dicabut dan melakukan pembahasan serta pengesahan RUU Perampasan Aset. Massa aksi juga menuntut beberapa peraturan pemerintah seperti pendidikan melalui orasi-orasi.
“Di rumah sendiri kami tidak diterima, malah dibatasi pagar kawat. Ayo Bapak Ibu ketua DPRD keluar, atau kami yang akan berusaha masuk”.
Melihat tidak adanya respon cepat dari pemerintah untuk menerima dan menemui mahasiswa yang sudah berkumpul sejak siang, massa aksi melakukan ultimatum dengan hitungan mundur. Akhirnya, Kusnadi dan Wakil Ketua DPRD Jatim, Anwar Sadad keluar menemui massa dan naik ke mobil komando untuk berdialog dengan perwakilan mahasiswa.
“Tuntutan yang dibawa bukan hal baru lagi, dari dulu saya sudah tahu tuntutan masyarakat jatim dan mahasiswa”, tegas Kusnadi.
Merasa tidak puas akan jawaban yang diberikan, perwakilan mahasiswa bergantian mengajukan aspirasi agar ada tindakan pasti bukan hanya janji-janji. Berbagai macam permintaan dan kesepakatan telah disampaikan mulai dari respon tindakan cepat, sampai sidang rakyat. Namun semua ditolak dengan alasan DPRD Jatim telah bekerja keras dan berusaha maksimal.
“Kami meminta Bapak Kusnadi untuk menelepon Ibu Puan Maharani selaku Ketua DPR RI secara langsung hari ini, disaksikan oleh mahasiswa”, ucap perwakilan mahasiswa yang ikut berada di atas mobil komando.
Penolakan tetap menjadi langkah konkrit pihak DPRD Jawa Timur yang mengakibatkan aksi berbuntut memanas ketika Kusnadi dan para jajarannya turun dari mobil komando meninggalkan massa yang masih belum puas. Beberapa botol air mineral dilemparkan saat Kusnadi meninggalkan lokasi. Aksi ricuh dan panas diwarnai dengan dilemparkannya bola asap oleh aparat untuk mengakhiri kemarahan massa aksi yang tak kunjung reda. Mahasiswa pun memilih mundur dari lokasi demonstrasi.
Penulis: Annisaa Dwi Damayanti
Editor: Mutiara RJ
