/Uni Eropa Menetapkan Nuklir sebagai Green Energy
Sumber Foto : id.pinterest.com

Uni Eropa Menetapkan Nuklir sebagai Green Energy

(DW,2022)

Perang antara Rusia dan Ukraina tampaknya membawa tantangan baru bagi negara-negara di Uni Eropa. Pasalnya, dalam menyongsong musim dingin tahun ini, Eropa harus memutar otak guna mencukupi kebutuhan energi yang besar selama musim dingin. Dibatasinya pasokan minyak bumi akibat adanya perang, membuat mau tidak mau Eropa harus segera mencari jalan keluar terbaik selain melakukan kampanye hemat energi untuk warganya.

Beberapa waktu belakangan ini, bangsa Indonesia mulai menyadari bahwa terdapat potensi besar yang belum dikembangkan secara optimal untuk menyelamatkan Indonesia dari adanya krisis energi. Potensi yang dimaksud adalah green energy. Nampaknya, green energy sendiri mulai dilirik sebagai solusi utama dalam permasalahan krisis energi yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Green energy atau energi hijau merupakan  merupakan energi dari biomassa. Energi ini merupakan energi terbaharukan yang  tidak akan habis selama tanah, air, dan matahari masih tersedia.

Berbicara lebih jauh mengenai green energy ini, perkembangannya sudah mulai meranah hingga ke mancanegara. Tidak hanya negara-negara dengan sumber hayati yang melimpah saja namun negara-negara non tropis seperti di kawasan benua Eropa juga mulai melihat potensi baru yang bisa mereka manfaatkan sebagai green energy-nya mereka. Melihat krisis energi yang ada didepan mata, pada 2 Februari 2022 lalu Komisi Eropa yang terdiri dari 27 negara mendeklarasikan bahwa potensi yang dimiliki Eropa untuk menyelamatkan Eropa dari krisis energi adalah nuklir.

Pendeklarasian ini berdasarkan studi yang dilakukan oleh European Commission Joint Research yang menyatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah bahwa energi nuklir lebih membahayakan manusia dan lingkungan daripada teknologi listrik lainnya. Selain itu, banyak ahli juga memvalidasi fakta bahwa nuklir memang memproduksi emisi CO2 yang rendah dan ramah lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan banyak negara maju di Eropa mengandalkan nuklir untuk memproduksi listrik nirkabon.

Mesksipun demikian, hal ini masih menjadi perdebatan dikalangan Komite Eropa. Beberapa negara di Uni Eropa masih menolak keras untuk memasukkan nuklir dalam Taxonomy green energy. Jerman menjadi salah satu negara maju yang menolak pemasukan nuklir dalam Taxonomy green energy ini. Jerman lebih memilih memperluas infrastruktur tenaga angin dan surya sehingga dapat memberi kontribusi terhadap pasokan listrik yang aman dan ramah iklim.

Kita tidak dapat menampik fakta bahwa nuklir memberi efek yang kurang baik terhadap kesehatan dan lingkungan. Melihat kembali peristiwa memilukan dimasa lalu mengenai pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki terdapat lebih dari 100.000 orang yang tewas, ratusan ribu lainnya tewas karena luka-luka dan dampak radiasi yang mereka derita. Belum lagi kanker yang meluas pada beberapa tahun setelahnya. Tentu karena adanya peristiwa ini kita tidak bisa serta merta menutup mata pada fakta sejarah yang ada, pasalnya ini semua menyangkut nyawa sesama manusia. Fakta sejarah lainnya terjadi pada peristiwa Chernobyl tahun 1986 ketika reaktor nuklir milik Uni Soviet meledak, dimana debu radioaktif akibat ledakan sampai pada Eropa dan diyakini menjadi penyebab kanker tiroid pada anak anak.

Selain fakta sejarah yang ada, sejumlah penelitian yang dilakukan oleh WHO dan beberapa perguruan tinggi di seluruh dunia terkait kecelakaan nuklir Fukushima di Jepang diketahui bahwa melalui inversi paracentric kromosom pada jalur MPAK kecelakaan ini dapat memicu adanya kanker tiroid akibat radiasi nuklir. WHO menyatakan bahwa penduduk yang berada didekat lokasi nuklir Fukushima mengalami kenaikan potensi kanker tiroid.

Meskipun banyak ilmuan menyatakan bahwa nuklir merupakan pemasok energi yang ramah terhadap anak dan lingkungan. Tetapi fakta yang terjadi tidak bisa membantah bahwa nuklir memberi efek negatif baik untuk kesehatan manusia maupun kondisi lingkungan. Meski efeknya bisa jadi tidak langsung dirasakan tetapi banyaknya korban yang berjatuhan di masa silam seharusnya tidak membuat kita menutup mata kewaspadaan sehingga terima-terima saja terhadap hasil penelitian yang ada. Keberlanjutan kehidupan generasi pada dekade berikutnya tetap menjadi tanggung jawab kita yang hidup di zaman sekarang.

Oleh karena itu, apabila nuklir memang akan dimasukkan dalam Taxonomy green energy dan menjadi green energy-nya Uni Eropa maka perlu diperhatikan lebih jauh mengenai penanggulangan dari dampak yang akan ditimbulkan dengan adanya penggunaan nuklir ini. Perkembangan nuklir sebagai pemasok listrik dan solusi dari adanya krisis energi yang membayangi Uni Eropa hendaknya diimbangi dengan pengembangan teknologi baru sebagai jawaban atas dampak negatif yang membingkai perkembangan nuklir ini. Perlu adanya inovasi yang dibuat agar bisa menjawab sekaligus menjadi penyeimbang antara penggunaan energi nuklir dan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan manusia pada generasi selanjutnya.

Dengan begitu dampak negatif yang akan ditimbulkan dengan penggunaan nuklir sebagai pemasok energi dapat ditekan sampai angka seminimal mungkin. Selain itu, perlu sekiranya dibentuk tim evakuasi khusus yang terlatih secara professional, agar ketika terjadi kebocoran nuklir atau hal-hal yang tidak diinginkan dalam penggunaan nuklir sebagai green energy dapat dilakukan evakuasi secara tepat. Dengan evakuasi yang cepat maka, angka penyebaran kanker dan resiko lainnya dapat semakin ditekan.

Penulis : Sharisya Kusuma R.

Editor : Reno Eza M.

REFERENSI :

Artikel Berita

Ariyanti, Hari. (2022). Ilmuwan Beberkan Dampak Mengerikan dari Uji Coba Nuklir bagi Manusia [daring]. link: https://www.merdeka.com/dunia/ilmuwan-beberkan-dampak-mengerikan-dari-uji-coba-nuklir-bagi-manusia-hot-issue.html

Cahyono, M Sigit. (2008). “Green Energy” Solusi Terbaik [daring]. link: https://nasional.kompas.com/read/2008/08/30/10520270/.Green.Energy.Solusi.Terbaik?page=all

CNN Indonesia. (2022). Hadapi Krisis Energi, Eropa Mulai Waswas di Musim Dingin [daring]. link: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221009104545-85-858170/hadapi-krisis-energi-eropa-mulai-waswas-di-musim-dingin

Hermawan, Fajar Wahyu. (2021). Lebih Jauh tentang Energi Hijau [daring]. link: https://infopublik.id/kategori/sorot-sosial-budaya/572865/lebih-jauh-tentang-energi-hijau

Kompas. (2013). Radiasi Nuklir Tak Picu Peningkatan Kanker di Jepang [daring]. link: https://health.kompas.com/read/2013/06/01/13474748/Radiasi.Nuklir.Tak.Picu.Peningkatan.Kanker.di.Jepang?page=all

Tempo. (2022). Ukraina Klaim Bebaskan 600 Pemukiman dari Pendudukan Rusia [daring]. link: https://dunia.tempo.co/read/1645440/ukraina-klaim-bebaskan-600-pemukiman-dari-pendudukan-rusia

Wauran, Markus. (2022). Nuklir adalah Energi Hijau di Uni Eropa [daring]. link: https://mediaindonesia.com/opini/494826/nuklir-adalah-energi-hijau-di-uni-eropa

Jurnal

T. MILE. (2011). RADIASI IODIUM 131 AKIBAT KECELAKAAN NUKLIR FUKUSHIMA: Jurnal Ism 1(1), 49-55.file:///C:/Users/acer/Downloads/admin,+10-9-1-PB.pdf.