Bagaimana Anak-Anak Miskin Mengenyam Pendidikan?

Khofifah Indar Parawansa, ketika masih menjabat sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia pernah menyebut bahwa masih ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia yang belum mengenyam pendidikan disebabkan oleh permasalahan sosial, salah satunya adalah kemiskinan. Kemiskinan menghalangi kesempatan anak-anak Indonesia untuk bisa bersekolah. Padahal, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar dan menjadi aspek penting dalam proses pembangunan negara.

Sulitnya masuk Lembaga Pendidikan

Kita tahu bahwa sekolah negeri merupakan impian bagi banyak anak Indonesia, sebab pemerintah memberikan kemudahan untuk bisa “sekolah gratis”. Tetapi, dalam prosesnya sekolah negeri menetapkan seleksi yang tidak mudah untuk menjaring calon siswanya. Disini, kita dapat melihat kesenjangan yakni antara yang “pintar” dan “tidak pintar”. Anak-anak miskin dengan pengetahuan yang terbatas dipaksa bersaing dengan anak-anak dari kalangan lain. Ketika tidak mampu menembus persaingan untuk masuk sekolah negeri, maka masih ada sekolah swasta yang dapat dijadikan batu loncatan. Namun, sekolah swasta juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pilihan tersebut sangat dilematis dan terus menjadi lingkaran setan. Lantas, bagaimana langkah yang efektif untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan bagi masyarakat miskin?

Bantuan Dana Pendidikan

Pendanaan pendidikan bagi masyarakat miskin seperti beasiswa pemerintah, Kartu Indonesia Pintar (KIP) serta KIP-Kuliah telah dapat dinikmati oleh sebagian masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Sebagiannya lagi, kembali menjadi pertanyaan apakah bantuan tersebut telah tersalurkan pada sasaran yang tepat. Program sekolah gratis yang dianggap dapat memberikan kesempatan pada anak-anak miskin untuk bisa bersekolah juga masih dilematis dalam praktiknya. Bagaimana tidak, biaya sekolah memang gratis tetapi uang saku, alat tulis, dan lain-lainnya tentu tidak didapat secara cuma-cuma.

Kurikulum yang Sederhana

Anak-anak dengan keterbatasan pemahaman memerlukan sistem pembelajaran yang sederhana saat mereka menginjak bangku sekolah. “Sederhana” yang dimaksud adalah model belajar yang tidak menuntut mereka untuk menguasai atau menangkap hal-hal diluar batas kemampuannya. Realitas dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah anak-anak “dijejali” materi yang cenderung sulit, apalagi dalam satu kelas terdiri dari banyak siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada sistem pembelajaran yang perlu dibenahi disini, supaya anak-anak dengan pemahaman yang tertinggal dapat menikmati proses sekolah yang sesungguhnya, bukan justru malah menurunkan semangat mereka.

Tenaga Pendidik Profesional

Peran guru sangat penting untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, yakni anak-anak bangsa yang ikut serta dalam proses pendidikan & pengajaran. Mengajar anak-anak dari kalangan menengah ke bawah tentu memerlukan strategi yang tepat untuk menyesuaikan kondisi psikis dan fisik mereka. Menyambung narasi sebelumnya yang menuntut adanya kurikulum yang sederhana, anak-anak yang baru mengenal tulisan tidak bisa dipaksakan untuk serta merta mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang semakin hari semakin modern. Tenaga pendidik harus paham bahwa anak-anak tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh, melalui YouTube atau Zoom Meetings, karena beberapa kendala seperti tidak memiliki perangkat dan finansial untuk memenuhi itu semua.

Pada intinya, tidak mudah bagi kita untuk mewujudkan kesempatan pendidikan bagi masyarakat miskin hanya melalui slogan dan visi-misi belaka. Perlu adanya sistem yang aktual dan bergerak untuk memberi ruang pada anak-anak kalangan menengah ke bawah agar bisa merasakan bangku sekolah. Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah miskin bukan berarti bodoh. Hanya saja, kecerdasan dan kreativitasnya dibatasi oleh lingkungannya sehingga meraka tidak memiliki kesempatan untuk dapat menyalurkannya secara optimal. Inilah yang sebetulnya menghambat keberhasilan pendidikan bangsa ini.

Penulis : Arizqa Novi R.

Editor : Primanda Andi Akbar

Referensi

Fatur. (t.thn.). Diambil kembali dari Pendidikan untuk “Kaum Kecil”: https://fatur.staff.ugm.ac.id

M, A. (2017, April 5). Tirto.id. Diambil kembali dari Masih Ada 4,1 Juta Anak di Indonesia Tak Bersekolah: https://tirto.id/masih-ada-41-juta-anak-di-indonesia-tak-bersekolah-cmed

Wardah, F. (2011, Agustus 28). Voaindonesia.com. Diambil kembali dari 11,7 Juta Anak Indonesia Belum Tersentuh Pendidikan: https://www.voaindonesia.com/a/jutaan-anak-indonesia-belum-tersentuh-pendidikan-126587263/96246.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *