Gelar maha melekat pada raga
Almameter seakan buatnya bangga
Teriak membelangga
Hingga tak sadar beban berat di pundaknya.
Miris,
Ketika ia tak menangis.
Tak bergubris,
Walau negeri sedang terkikis
Bangga itu buatnya lupa,
Tuk abadi dan memberi sumbangsih nyata.
Wahai maha,
Seharusnya kau tahu
Bahwa maha ialah yang tertinggi.
Ialah yang paling mengerti,
Dan wajib peka bukan hanya pandai bercerita.
Untukmu maha,
Kopimu dan tembakaumu boleh menjadi cerita.
Namun jangan lupa kau gores peran berbeda,
Agar cerita tak sekedar ampas dan kebulan asap di udara.
Penulis : Samsul Arifin
Editor : Primanda Andi Akbar
