/Mengapa di Indonesia Terdapat Budaya Mudik?
Sumber Foto : id.pinterest.com

Mengapa di Indonesia Terdapat Budaya Mudik?

Mudik sudah menjadi tradisi secara turun menurun yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Biasanya mudik berkaitan erat dengan hari libur besar keagamaan seperti hari raya Idulfitri, Idul adha, Natal, dan sebagainya. Kegiatan yang dilakukan pada saat mudik adalah mengunjungi kampung halaman tempat tinggal dari daerah asal. Biasanya hal ini dilakukan oleh para pekerja imigran yang bekerja di kota-kota besar. 

Kaitan budaya mudik lebih erat dengan hari raya umat Islam yaitu Idulfitri. Sejalan dengan makna dari hari raya Idulfitri yang berarti kembali suci. Mayoritas masyarakat Indonesia beragama muslim, oleh karena itu pada hari lebaran atau Idulfitri tiba maka umat muslim berbondong-bondong untuk melakukan kegiatan mudik ke kampung halaman. Tujuan dari kegiatan bermudik adalah bertemu dengan sanak saudara untuk bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan. 

Makna dibalik Kata Mudik 

Kata mudik berasal dari Bahasa Jawa Ngoko “mulih disik” yang berarti pulang dulu. Kemudian, dalam bahasa Betawi kata mudik berarti udik atau kampung. Budaya mudik sudah ada sejam zaman dahulu lebih tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit. Ketika itu para imigran atau perantau pulang ke kampung halaman dengan tujuan untuk membersihkan makan para pendahulunya. 

Menurut dosen sejarah Universitas Sanata Darma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno dalam laman Kompas TV, sejarah mudik berasal dari kekuasaan kerajaan Majapahit yang luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Pemimpin kerjaan tersebut menempatkan para pejabat di berbagai daerah. Ketika sang raja memerintahkan para pejabat tersebut untuk menghadap maka para pejabat tersebut pulang dan mengunjungi kampung halaman. 

Pada tahun 1970-an istilah mudik berkembang di Indonesia. Salah satu kota terbesar yaitu Jakarta menjadi sebuah kota perantauan yang menjanjikan bagi masyarakat daerah. Dengan demikian, banyaknya masyarakat daerah yang merantau ke Jakarta, membuat mereka pulang ke kampung halaman pada saat hari raya telah tiba. 

Eksistensi Mudik Pada Saat Ini

Pada saat ini, pandemi Covid-19 menjadi sebuah permasalahan bagi seluruh masyarakat dunia. Dimana segala aktivitas dan mobilitas menjadi terhambat oleh pandemi ini. Mudik yang biasa dilakukan oleh masyarakat harus dibatasi dan dibuat aturan demi terjaganya kenaikan kasus Covid-19. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan masyarakat untuk melanjutkan perjalanan mudik ke kampung halaman demi bertemu sanak saudara. 

Melalui laman databoks, Kemenhub memperkirakan 79 juta orang akan mudik pada lebaran 2022. Perkiraan ini berasal dari hasil survey Balitbang Kemenhub dalam Rapat bersama Komisi V DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (6/4). Jika dilihat dari data tahun sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat jumlah pemudik selama Lebaran 2021 sebanyak 1,5 juta orang. Para pemudik tersebut nekat mudik meski pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik pada 6-17 Mei 2021.

Dengan demikian, antusias masyarakat untuk melakukan mudik terpantau meningkat. Meski adanya pandemi Covid-19, masyarakat tetap melaksanakan mudik. Masyarakat juga harus menerapkan protokol kesehatan dalam melakukan perjalanan dan menghindari larangan yang ada demi menjaga kasus Covid-19 di Indonesia. 

Penulis : Dhiyah Basith Fauzian

Editor : Primanda Andi Akbar

REFERENSI 

https://www.kompas.tv/article/171993/asal-usul-tradisi-mudik-lebaran-ternyata-sudah-ada-sejak-zaman-kerajaan-majapahit
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/04/07/kemenhub-perkirakan-79-juta-orang-akan-mudik-pada-lebaran-2022
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210515130721-20-642716/menhub-15-juta-orang-mudik-selama-lebaran-2021