Darurat Sampah Plastik, Ecoton Gelar Aksi di Hari Bumi

Hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April lalu menjadi peringatan bagi setiap manusia untuk semakin mencintai bumi, salah satu wujudnya yang dilakukan oleh Ecoton.id dengan melakukan aksi tolak sampah plastik. Dengan mengundang partisipan dari beberapa mahasiswa di berbagai kampus, aksi yang bertempat di depan gedung negara Grahadi tersebut berjalan dengan damai & lancar.

Koordinator aksi tolak plastik sekali pakai Ecoton, Muhammad Kholid mengatakan bahwa ada 3 tuntutan yang disampaikan oleh Ecoton. Yang pertama kepada masyarakat, agar masyarakat khususnya di surabaya sadar bahwa plastik sekali pakai terutama sachet itu sangat berbahaya bagi sungai, laut, bahkan tubuh manusia sendiri. Yang kedua, kepada pemerintah supaya segera menerbitkan regulasi terkait pembatasan plastik sekali pakai, dengan harapan mengurangi kontaminan sampah plastik/sachet di lingkungan. Selain itu, pemerintah juga diharapkan giat melakukan sosialisasi terkait bahaya sampah plastik. Yang terakhir kepada Perusahaan, supaya mematuhi regulasi yang sudah ada.

“Bila berkaca pada UU no. 18 tahun 2008, terkait pengolahan sampah di pasal 15 menyebutkan bahwa perusahaan yang menghasilkan sampah sachet harus melakukan pemulihan lingkungan. Salah satunya dengan mengambil sampah-sampah sachet di lingkungan. Atau melakukan EPR(Extended Producer Responsibility)”. Ucap Kholid.

Selanjutnya, Kholid juga menuturkan bahwa alasan melakukan demo pada hari bumi tersebut didasarkan pada banyaknya temuan Ecoton yang perlu disuarakan pada aksi kemarin. Contohnya, Ecoton telah melakukan berbagai pengambilan sampel di beberapa tempat seperti Gresik, Sidoarjo, Mojokerto serta Surabaya dan menemukan bahwa udara di kota-kota tersebut telah terkontaminasi mikroplastik.

“Bahkan kontaminasi mikroplastik di udara, kita mengambil sampel positif pada daerah yang jarang terdapat aktivitas disitu”. Tak hanya di udara, Ecoton juga menemukan positif kontaminasi mikroplastik pada perairan di Indonesia. “Ecoton sudah melakukan riset di tiga sungai yaitu bengawan solo, brantas, serta citarum. Semuanya positif terkontaminasi mikroplastik” ujar Kholid.

Di akhir, Kholid berpesan kepada pabrik-pabrik industri penghasil sampah plastik supaya melakukan redesign ulang sampah-sampah plastiknya.

“Mungkin bisa dengan kemasannya yang lebih ramah lingkungan, tidak menggunakan sachet yang berlapis-lapis ataupun tidak bisa didaur ulang”.

Lebih lanjut, kholid juga berharap kepada produsen supaya tidak hanya menambah pabrik baru yang akan memproduksi sachet lebih banyak. Namun sepatutnya harus memikirkan cara mengurangi sampah-sampah yang ada di lingkungan. Salah satunya adalah ikut andil dalam menyediakan fasilitas pembuangan sampah.

“Jadi mulai dari fasilitas, me-redesign ulang hasil produksinya, serta mematuhi regulasi yang ada” tutup kholid.

Perlu diketahui, aksi berlangsung mulai pukul 14.50, dan berakhir pada 16.30, diwarnai dengan beberapa aksi yang berusaha menarik perhatian pengguna jalan seperti tampilan manekin yang dilapisi dengan sampah plastik, orasi dari peserta aksi, hingga yel-yel tolak sampah plastik.

Penulis : Danar Trivasya Fikri

Editor   : Primanda Andi Akbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *