/Strategi Mengerjakan UTS Real Time atau Take Home ala Ksatria Airlangga ?
Sumber Foto : Pexels.com

Strategi Mengerjakan UTS Real Time atau Take Home ala Ksatria Airlangga ?

Ujian Tengah Semester (UTS) merupakan momen yang (tidak) ditunggu-tunggu semua mahasiswa. Di beberapa kampus, sistem UTS dilaksanakan dengan dua model, yaitu real-time dan model take-home. Apa perbedaannya?

Real-time merupakan model UTS yang dilaksanakan secara langsung pada waktu dan tempat tertentu. Sifat UTS ini mengikat sehingga menuntut mahasiswa untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mematuhi peraturan yang ditetapkan. Apalagi jika UTS model ini dilaksanakan secara offline (tatap muka), suasana ujian bisa menjadi sangat horor. Mahasiswa dipantau penuh oleh pengawas ujian sehingga menjadikannya tidak dapat berkutik. Pengawasan yang (super) ketat membuat mahasiswa harus memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi UTS ini, sebab tidak memungkinkan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan sesama.

Sedangkan, UTS dengan tipe take-home lebih fleksibel dan menjadi pilihan banyak mahasiswa. Model take-home merupakan kebalikan dari real-time, yakni UTS dapat dikerjakan dari rumah masing-masing. Tidak seperti ujian, UTS model ini lebih cenderung seperti penugasan yang pengerjaannya diberikan kelonggaran waktu. UTS yang demikian juga membuat mahasiswa lebih leluasa dalam mengerjakan soal. Tetapi, meskipun begitu, UTS dengan tipe ini juga tidak dapat diremehkan.

Baik UTS real-time maupun take-home, keduanya ada strateginya, loh! Simak ulasannya di bawah ini:

  1. Istirahat yang cukup

Tidur yang cukup menjadi poin penting sekaligus ‘sentilan’ bagi mahasiswa yang sebagian besar atau bahkan semuanya memiliki kualitas tidur yang buruk. Kebiasaan tidur hingga larut malam beresiko terhadap keterlambatan bangun yang berarti juga terlambat menuju kampus. Selain itu, tidur yang kurang juga menyebabkan badan tak segar, pikiran tidak fresh dan rasa kantuk ketika di dalam kelas. Sehingga, mahasiswa tidak cukup siap untuk menghadapi UTS real-time.

2. Persiapkan keperluan yang penting

Terlambat bangun menuntut mahasiswa jadi serba cepat dalam bersiap diri. Dikejar waktu akan membuat semua persiapan menjadi berantakan dan tidak maksimal. Padahal, UTS memerlukan sedikit banyak hal yang harus dipersiapkan dan dibawa ke kampus, contohnya seperti kartu peserta ujian/KTM. Hal sepele seperti diatas jika luput dipersiapkan bisa jadi menghambat mahasiswa untuk mengikuti UTS, boleh jadi dicekal atau tidak diperkenankan mengikuti ujian.

3. Review materi

Sistem UTS real-time yang super ketat membuat mahasiswa tidak bisa mencari contekan kesana-kemari. Perlu bekal yang cukup dalam menghadapi hal ini. Materi yang diterima dari awal sampai pertengahan semester tentu saja banyak dan tidak cukup waktu untuk mempelajari satu per satu. Untuk itu, review merupakan pilihan yang tepat. Mereview bukan membaca keseluruhan materi dari awal sampai akhir melainkan hanya fokus pada outline atau poin-poin pentingnya saja. Membuat peta konsep juga akan sangat memudahkan mahasiswa dalam memahami alur berpikir sebuah materi. Review membuat mahasiswa ingat terhadap cakupan materi dan tentunya tidak membuang-buang waktu.

4. Jangan hafalkan, pahami konsepnya

Dalam kondisi tertentu, ada mata kuliah yang jika materinya dihafalkan akan sangat menguras waktu (bahkan juga menguras emosi). Menghafal materi terkadang hanya akan membuat mahasiswa stuck pada poin-poin tertentu saja dan tidak memiliki daya parafrase yang kuat. Alangkah lebih baik jika materi yang diterima dipahami konsepnya. Pemahaman terhadap konsep materi akan membuat mahasiswa lebih kreatif dan dapat mengembangkan kata-kata dengan bahasa sendiri sehingga dapat terhindar dari plagiarisme. Cara mudah memahami konsepnya yakni menentukan kata kunci pada setiap materi yang hendak diserap dalam kepala. Cara ini lebih efektif dibanding menghafal per kata atau per kalimat sebab hal tersebut juga berarti memeras kerja otak.

5. Jangan grogi

Deg-degan boleh, tapi jangan berlebihan. Grogi bisa membuat mahasiswa menjadi blank atau mengalami kebuntuan dalam menjawab pertanyaan yang diujikan, terlebih pada UTS real-time. Kuncinya adalah rileks agar dapat berpikir jernih.

6. Perhatikan waktu pengerjaan

Jangan asal menjawab soal, tapi membaca aturan  pengerjaan itu penting. Disini, kemampuan mahasiswa dalam memanajemen waktu sangat diuji. Durasi pengerjaan soal mestinya menjadi patokan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan. Agar tidak salah perhitungan, mahasiswa hendaknya membagi waktu (menit) dengan jumlah soal yang diberikan, sehingga nampak jelas satu soal harus terselesaikan dalam waktu berapa menit. Cara lainnya adalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang dianggap mudah terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari stuck atau macet pada satu soal tertentu.

Begitu juga dengan UTS take-home, memperhatikan waktu juga sangat penting. Jangan terlena dengan sistem UTS yang fleksibel sampai-sampai lupa terhadap batas waktu yang diberikan.

7. Berdoa

Terakhir yang justru paling utama adalah doa. Setelah kita mengusahakan UTS ini sebaik mungkin, juga jangan lupa bahwa ada pengaruh yang datang dari Tuhan. Melibatkan Tuhan dalam setiap urusan berarti titik tertinggi dari sebuah usaha.

Penulis : Arizqa Novi Ramadhani

Editor  : Balqis Primasari