Dokumentasi acara bedah buku. Dok. Mercusuar/Mutiara

Dokumentasi acara bedah buku. Dok. Mercusuar/Mutiara

Jawa Pos bersama Perusahaan Listik Negara (PLN), Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan Komunitas Alumni Perguruan Tinggi menyelenggarakan bedah buku karya Eko Sulistyo “Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901-1957” pada (15/01). 

Acara ini berlangsung sejak pukul 14.15 hingga 16.15 yang berlokasi di Newsroom Jawa Pos, Graha Pena Lantai 4, Surabaya. Acara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S, M.Hum. selaku guru besar dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga sebagai narasumber juga Gong Matua Hasibuan selaku Direktur Utama PT PJB. 

Menurut Gong, buku ini hadir di tengah masyarakat merupakan ‘sesuatu’ yang baru dan selama ini perlu diketahui oleh masyarakat mengenai jejak listrik masuk ke tanah air.

“Buku ini ‘sesuatu’, ya. Hal baru yang selama ini justru dibutuhkan masyarakat untuk bisa tahu bagaimana listrik bisa tersalurkan dengan bahasa-bahasa yang non teknis,” ungkapnya.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Wuri Baskoro selaku moderator, Eko Sulistyo selaku penulis buku dan Komisaris PT. PLN mengungkapkan bahwa buku ini terdiri atas enam bab yang menggambarkan perjalanan kota Surakarta berproses menjadi kota modern dengan listrik sebagai penggeraknya. 

“Kalau biasanya listrik sampai ke pada masyarakat dengan bahasa-bahasa teknis, penuh rumus, maka melalui buku ini masyarakat bisa tahu bagaimana listrik bisa sampai ke tanah air, dengan bahasa yang mudah dipahami,” terang penulis.

Eko Sulistyo yang dulunya mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret dan melanjutkan studinya di National Monitoring for Fair and Free Election (Namfel) Filipina ini juga menjelaskan bahwa adanya listrik di Indonesia zaman dulu dikelola oleh banyak perusahaan. Salah satu perusahaan terbesar yang mengelola bisnis listrik adalah Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits Maatschappij (ANIEM). 

“Saya tidak ada latar belakang pendidikan kelistrikan, tetapi yang harus diketahui masyarakat dalam buku ini juga diangkat mengenai unsur politik. Dulu, Mangkunegara VII secara mandiri mampu mendirikan perusahaan listrik dan membangun pembangkit di Kali Samin Tawangmangu tetapi perusahaan tersebut dianggap oleh kolonial sebagai ancaman bagi kelangsungan bisnis listrik Belanda di Solo sehingga akhirnya ditutup,” paparnya.

Prof. Dr. Purnawan Basundoro sebagai narasumber dengan latar belakang akademisi mengungkapkan bagaimana buku yang ditulis oleh Eko Sulistyo mengenai jejak listrik di Surakarta sebagai kota kedua di Indonesia yang teraliri listrik ini mampu memberi banyak informasi kepada masyarakat.

“Sampai saat ini historiografi Indonesia mengenai listrik masih sangat langka, sehingga kehadiran buku ini patut disambut dengan gembira”, terang Purnawan.

Selain itu, Dekan FIB Unair ini juga menjelaskan bahwa listrik sangat berdampak di masyarakat. Listrik mampu mengubah lanskap Surakarta berubah menjadi kota terang-benderang di malam hari saat listrik sudah menerangi jalanan dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat semakin beragam.

“Tempat untuk bersenang-senang di luar namanya dulu sositet. Di Surakarta sositet bukan hanya tempat bersantai-santai untuk orang Belanda, namun ada pula sositet untuk para priyayi Bumiputra yaitu Sositet Abhipraya. Dengan adanya listrik sositet bisa dinikmati hingga larut malam,” tambahnya.

Guru besar Universitas Airlangga ini juga menerangkan, berkat adanya listrik, aspek ekonomi juga mengalami perubahan signifikan seperti adanya budaya lembur dan munculnya angkringan di malam hari. Hal tersebut juga sejalan dengan perkembangan budaya di tengah masyarakat Surakarta yang perlahan mulai mengenal budaya asing.

“Adanya listrik membuat masyarakat Surakarta mulai mengenal budaya orang Eropa melalui pemutaran film dengan proyektor, sehingga kehidupan orang-orang Barat akhirnya diketahui dan mampu memengaruhi kondisi sosial masyarakat,” pungkasnya.

Sejarah kelistrikan di Surakarta dalam buku “Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta 1901-1957” pada akhirnya memberi gambaran dan informasi pada masyarakat untuk memahami bahwa hadirnya listrik kemudian menjadi teknologi yang dengan cepat menjalar ke berbagai daerah di Indonesia dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia.

Penulis: Mutiara RJ

Editor: Tata Ferliana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *