Dunia Si Pengantar Pesan

Sumber: Freepik

Aku mengeraskan rahangku ketika melewati lorong gelap yang benar-benar gelap, hanya ada sedikit cahaya dari senter ponselku. Tatapanku fokus ke depan, sesekali menyipitkan mata untuk memperhatikan jalan. Dalam hati kurutuki Big Boss yang memberiku tugas untuk mengantarkan pesan. Dia tidak tahu betapa suram dan menakutkannya tujuanku. Aku bergidik ngeri ketika mengingat pada siapa aku harus mengantar amplop merah ini.

Kulirik sekilas nama yang tertera di amplop itu, Untuk Si Kembar, kemudian aku bergidik ngeri lagi. Kembar Gila lebih tepatnya! Orang waras mana yang mau tinggal di rumah besar suram seperti ini dan hanya keluar rumah untuk melakukan pekerjaannya?

Ketika sampai di ujung lorong, di depan pintu kayu dengan lubang kecil untuk mengintip tamu, aku bergegas mengetuk pintu, tak sabar rasanya ingin keluar dari tempat muram ini dan menghirup udara segar. Sesosok mata muncul di lubang pintu, dan langsung membelalak begitu bertemu mataku.

Pintu berderit ketika terbuka, menampakkan gadis remaja berkulit pucat dengan mulut belepotan, entah apa yang habis ia makan. Gadis itu memelukku hangat bak saudara jauh. Aku hanya bisa membalas pelukannya sambil meringis ketakutan.

“Aku merindukanmu, Om.” Gadis itu tersenyum mengerikan lalu meraih amplop merah di tanganku dengan kegembiraan yang luar biasa. “Maro! Kita dapat tugas!” teriak gadis itu kencang.

Lengang, tak ada jawaban kecuali angin yang enggan berhembus.

Gadis di hadapanku meringis, kemudian menarik nafasnya, dan keluarlah racauanya. “AMARO, KAU MAU KUBUNUH?! BAJINGAN GILA! PALING TIDAK TAMPAKKAN BATANG HIDUNGMU DI HADAPAN TAMU KITA! DASAR ANAK HARAM!”

Beberapa saat kemudian muncullah remaja laki-laki dengan mulut belepotan yang berkulit sama pucatnya dengan gadis itu. “Kau berisik sekali, Amara! Aku sedang mengunyah makananku, mana bisa menjawab? Dasar haram sinting!”

Aku meringis mendengar umpatan kasar yang keluar dari mulut si kembar. Tebersit sedikit simpatiku untuk mereka mengingat tidak ada yang merawat mereka sejak kecil kecuali perawat dan bajingan-bajingan tengik.

“Ehem.” Aku berdehem meminta perhatian. “Kalian dapat tugas dari Big Boss.”

“Berisik, kami sudah tahu!” tandas Maro. Ia mengambil amplop merah dari tangan saudaranya, membuka isinya, dan mendadak tertawa.

Aku dan Mara berpandangan, tidak mengerti di mana kelucuan yang ditertawakan Maro. Mara yang kesal karena ketidaktahuannya bergegas mengambil amplop merah dari tangan Maro. Kemudian ia ikut tertawa terbahak-bahak seperti saudaranya.

“Sebenarnya kenapa kalian?” tanyaku penuh kebingungan.

Maro berdehem, menghentikan tawanya. “Tugas dari Big Boss kali ini benar-benar konyol.”

Aku mengernyitkan dahi. “Konyol bagaimana?”

“Kami bahkan tidak perlu keluar rumah untuk melakukannya,” tambah Mara.

Aku melongo. “Apa maksud kalian?”

“Sebenarnya aku agak sedih dengan tugas kali ini. Benar kan, Maro?”

Maro mengangguk, ia mengangkat ujung bibirnya sedikit membuat senyuman menyeramkan. “Yup! Aku benar-benar sedih kali ini!”

Aku menelan ludah. Keringatku tanpa terasa mengucur deras. Apa aku target berikutnya? Tapi kenapa? Seingatku aku tidak melakukan kesalahan apapun pada Big Boss. Aku mengantarkan pesan sesuai tujuan dan selalu tepat waktu. Aku menelan ludah ketika melihat Maro melemparkan pistol pada saudaranya. Keringatku mengucur makin deras. Astaga, sebenarnya apa dosaku?

Si kembar mengacungkan pistol mereka tepat ke arah mukaku. Alamak, sepertinya akulah target berikutnya! Aku memejamkan mata, pasrah dengan keadaan, mulutku komat-kamit berdoa, semoga nanti Tuhan memberiku neraka yang paling dingin.

“Merunduk!” seru si kembar bersamaan. Aku refleks merunduk dan bersembunyi di belakang lemari tepat ketika baku tembak tejadi antara si kembar dan orang-orang di belakangku. Aku tidak tahu siapa mereka, yang jelas jumlah mereka banyak, terdengar jelas dari suara tembakan beruntun mereka. Kuambil segera pistol di saku, setelah mengisi peluru, bergegas kutembakkan ke kaki mereka.

“Ayo, Om! Jumlah mereka terlalu banyak!” Mara memberikan kode untuk mengikutinya.

Kami bertiga akhirnya lari sambil tetap melancarkan tembakan ke arah musuh berpakaian hitam-hitam dan bersenjata lengkap. Kami berlari melintasi berbagai ruang yang selama ini belum pernah kumasuki, hingga akhirnya kami tiba di halaman belakang. Aku terpaku melihat berbagai kendaraan yang terparkir di sana.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan?!” teriak Maro yang sudah ada di dalam helikopter.

Aku tersadar dari lamunan kekagumanku, bergegas kususul si kembar yang sudah ada di dalam helikopter. Namun, terlambat sebuah peluru sempat menyasar ke kakiku hingga aku terjatuh. Namun aku bergegas bangun dan tetap berjalan terseok-seok. Mara mengulurkan tangan padaku begitu aku sudah dekat dengan helikopter. Akhirnya, kami bertiga terbang menggunakan helikopter meninggalkan pasukan hitam-hitam yang menembaki kami dengan putus asa.

“Kau tahu bagian terserunya, Om?” tanya Mara.

Aku menggeleng. “Apa itu?”

Si kembar tersenyum sadis ketika Mara mengeluarkan benda mirip bolpoin.

“Nyalakan kembang apinya, Mara!” seru Maro.

Mara menekan tombol di benda tersebut, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras di bawah. Rumah itu meledak bersama para pasukan hitam-hitam.

“Ah, mobil-mobilku!” teriak Maro frustasi.

Mara terkikik. “Kau masih bisa beli seribu lagi kalau mau!”

Maro melotot, Mara ikut melotot.

“Umm, siapa sebenarnya mereka?” tanyaku memecah hawa pembunuh di sekitar mereka.

“Siapa lagi kalau bukan polisi! Kau tahu sendiri kami buronan!” jawab Maro.

Mara mengangguk. “Mereka mengikutimu. Big Boss menyuruh kami membereskan mereka untukmu.”

Mataku berkaca-kaca.

“Dasar cengeng! Kami turunkan kau di lapangan dekat rumahmu, ya?” ujar Maro.

Aku mengangguk, masih berkaca-kaca.

Si kembar menurunkanku di lapangan dekat rumah. Untung sedang tengah malam, jadi tidak ada orang yang akan menonton helikopter di tengah lapangan perumahan. Aku melambaikan tangan ketika helikopter si kembar menjauh.

“Ayah!” seru suara di belakangku.

“Ana!” panggilku ketika kusadari siapa pemanggilku. “Kenapa di sini malam-malam?”

Ana tersenyum. “Cari angin saja. Kebetulan ketemu Ayah!”

Aku tertawa. “Ayah habis bekerja. Baiklah, mari kita pulang!”

“Ayah pulang duluan saja! Aku masih cari angin,” ujar Ana.

“Baiklah, jangan pulang malam-malam, ya!” pesanku pada anak sulungku, kemudian aku berjalan menuju rumah.

***

Ana tersenyum sedih menatap punggung ayahnya. Tiba-tiba ada panggilan masuk. Dari Roy ternyata, temannya yang bekerja di rumah sakit Jiwa. “Halo, Roy! Iya, besok akan kubawa Ayahku ke tempatmu! Aku mengikutinya seharian ini. Kau tahu dia memasuki rumah kosong, bicara sendiri kepada Mara dan Maro padahal adik kembarku itu meninggal setelah dilahirkan, kemudian ia berperan seolah dalam adegan baku tembak di film laga. Entahlah, sepertinya dia mengidap skizofrenia! Aku tidak mau mendiagnosis sendiri, Roy! Biar kau saja ya besok? Baik, terima kasih, Roy!”

Penulis: Amelia Rahima
Editor: Baitiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *