Pandemi, Kita, dan Cara Pandang terhadap Alam

Pandemi, Kita, dan Cara Pandang terhadap Alam

Hampir setahun semenjak informasi mengenai kasus pertama pasien positif Covid-19 dikonfirmasi. Hingga kini, virus tersebut telah menyebar ke berbagai penjuru dunia dan mempengaruhi banyak sektor. Tak hanya berdampak besar bagi ekonomi, pandemi juga mempengaruhi kondisi sosiologis hingga psikologis masyarakat. Penelitian-penelitian mengenai asal mula virus masih terus digencarkan sebagai bagian dari usaha untuk menemukan obat dan vaksin yang aman.

Meski masih menjadi perdebatan, banyak ilmuwan sepakat bahwa virus Covid-19 berasal dari satwa liar. Mirip seperti SARS, virus itu dapat berpindah antar spesies, berevolusi dan mengalami mutasi hingga akhirnya menginfeksi manusia. Transmisi penyakit dari hewan ke manusia ini disebut juga dengan istilah zoonosis. Zoonosis sangat erat kaitannya dengan hilangnya habitat para satwa liar. Penebangan hutan secara masif akan menyebabkan para satwa berpindah tempat ke lokasi yang lebih dekat dengan permukiman manusia. Padahal, banyak satwa liar yang sebetulnya membawa virus-virus tak teridentifikasi. Resiko perpindahan penyakit menjadi semakin besar ketika banyak manusia yang memang secara sengaja berburu satwa liar tadi dan menjadikannya santapan.

Jika hasil penelitian di atas adalah benar, maka pandemi bisa dipandang sebagai peringatan dari alam untuk kita. Pandemi adalah karma yang didapatkan manusia setelah gagal menjalin relasi yang baik dengan alam. Selama ini, banyak pihak yang masih dibutakan oleh paham antroposentrisme. Dengan paham tersebut, manusia menganggap dirinya sendiri sebagai pusat dan memandang alam sebagai materi yang terpisah.  Antroposentrisme berimbas pada pemikiran bahwa manusia bisa menata alam dan akhirnya bebas untuk melakukan eksploitasi.

Menurut estimasi EcoHealth Alliance, sebuah LSM global yang berfokus pada pencegahan penyakit menular, di luaran sana masih ada 1,7 juta virus pada satwa liar yang belum teridentifikasi. Setengah dari jumlah tersebut diperkirakan mampu menginfeksi manusia. Artinya, tanpa pencegahan berarti, pandemi akan terjadi lebih sering dan menimbulkan dampak yang lebih besar. Kita, sebagai manusia, sebaiknya memahami posisi kita dengan benar. Pada kenyataannya, manusia tidak bisa menata alam. Manusia adalah bagian dari alam. Yang bisa kita lakukan adalah mencari tahu hal-hal apa saja yang kiranya dapat merusak alam dan melakukan pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi.

Pandemi kali ini memberi waktu jeda bagi kita untuk melakukan refleksi. Alam sudah banyak memberi, maka kita juga harus merawatnya. Alam sudah memperingati, maka kedepannya kita tak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Jika bukan karena alasan-alasan tersebut, setidaknya kesehatan kita bisa menjadi pertimbangan kuat untuk menumbuhkan kesadaran agar meninggalkan gaya hidup konsumtif. Mengandalkan pemerintah saja untuk mengatasi pandemi tidaklah cukup, kita semua punya peran yang sama pentingnya

Penulis: Siti Nur Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *