(Sumber : Google)

Penulis : Abdullah Faqih

Setiap pembukaan semester ganjil, adik-adik dari sekolah menengah atas yang baru dinyatakan diterima di universitas berduyun-duyun datang untuk melanjutkan rasa hausnya akan ilmu pengetahuan. Namun, realita kampus dan sekolah adalah dua hal yang sangat berbeda. Universitas sudah menjadi miniatur Indonesia tidak hanya dalam hal-hal fisik, tetapi juga hal-hal politis. Di universitas, adik-adik mahasiswa baru ini akan menemukan kenyataan permainan politik di kampus yang akan kurang lebih sama dengan yang ada di pemerintahan negara. Tetapi hal ini bukanlah isu penting yang akan penulis bawa dalam tulisan kali ini. Melainkan mengenai penyelenggaraan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). 

Ospek menjadi salah satu agenda yang menjadi tradisi disetiap kampus negeri maupun swasta. Penyelenggaraan Ospek sendiri merupakan salah satu peninggalan jaman penjajahan Belanda demi mempertahankan feodalisme dalam ranah pendidikan. Tradisi Ospek yang ada sejak jaman Belanda ini tidak hanya dimasukkan dalam permasalahan pengenalan kampus, tetapi adanya unsur kekerasan baik fisik maupun verbal yang terjadi. Penulis sendiri meyakini bahwa ranah Ospek yang menyangkut kekerasan adalah pendidikan pendidikan militer yang memang membutuhkan fisik yang kuat dalam mempertahankan negara, berbeda dengan pendidikan-pendidikan yang ada di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang justru diuji dengan daya intelektualitasnya. 

Beberapa tahun belakang, mulai ada kesadaran untuk mengubah skema Ospek yang telah mendarah daging dengan unsur kekerasan dalam perguruan tinggi negeri maupun swasta, namun masih banyak juga yang mempertahankan tradisi kekerasan dalam Ospek sampai sekarang. Setidaknya terdapat lima kategori yang dapat kita amati dalam pengadaan ospek dengan kekerasan. Pertama adanya kontak fisik langsung. Kedua, kontak verbal langsung. Ketiga, perilaku non verbal langsung. Keempat, perilaku non verbal tidak langsung. Dan yang terakhir, pelecehan seksual.

“Setidaknya terdapat lima kategori yang dapat kita amati dalam pengadaan ospek dengan kekerasan. Pertama adanya kontak fisik langsung. Kedua, kontak verbal langsung. Ketiga, perilaku non verbal langsung. Keempat, perilaku non verbal tidak langsung. Dan yang terakhir, pelecehan seksual.”

Kekerasan baik dari kategori pertama sampai terakhir tersebut tentu akan menimbulkan dampak dampak negatif terhadap mentalitas mahasiswa baru yang sedang berada dalam masa Ospek. Anggapan bahwa kekerasan akan menimbulkan rasa hormat kepada senior tetap dijaga sampai sekarang sehingga tradisi kekerasan akan terus berlanjut dan menjadi mata rantai yang tak putus. Penulis sendiri bukanlah orang yang setuju dengan anggapan bahwa kekerasan yang digunakan dalam masa Ospek merupakan medium satu-satunya untuk membuat maba menghormati senior, pun dengan mengenalkan liku-liku pelik dunia kampus yang akan mereka hadapi. Ospek yang seharusnya digunakan untuk ajang pengenalan kampus justru menjadi sarana perpeloncoan. Maba justru setelah Ospek tidak tahu menahu hal-hal terkecil dalam kampus, mulai dari sekadar meminjam buku di perpustakaan, atau menggunakan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. 

Mengenai kekerasan yang dilaksanakan dalam Ospek, penulis masih ingat betul hakikat adanya pendidikan yang pernah disampaikan oleh salah satu guru besar sekaligus pendiri FISIP Unair, Prof Soetandyo Wignjoesoebroto, beliau mengungkapkan bahwa “Bagiku, pendidikan itu ‘educating the heart’… tapi di negeriku, pendidikan itu ‘educating the brain’…. hasilnya, ‘A flock of new barbarian’ yang cakap cerdas dan berpengetahuan tinggi untuk siap bekerja dan dipekerjakan sebagai ahli bayaran.” 

Penulis sendiri sebenarnya tidak meragukan kadar intelektualitas seorang mahasiswa baik yang menyelenggarakan Ospek dengan kekerasan ataupun tidak. Apa yang membedakan antara mahasiswa yang tetap berpegang pada tradisi kekerasan adalah mereka terdidik hanya dalam ranah otak atau “educating the brain” yang akhirnya menjadikannya sebagai kaum-kaum intelektual nihil nilai-nilai kemanusiaan seperti rasa simpati dan empati. 

Mungkin, inilah saat yang tepat untuk kembali pada nilai-nilai humanisme yang telah diangkat oleh Prof Soetandyo Wignjoesoebroto. Kembali memperlakukan mahasiswa baru layaknya memperlakukan manusia lainnya, bukan malah ditindas atau bahkan diperlakukan layaknya sebagai binatang yang tidak tahu apa-apa. Mungkin, penulis akan malu jika suatu saat menjadi senior yang berlagak berkuasa saat Ospek. Tetapi nanti kenyataannya, penulis akan duduk bersama di kelas yang sama dengan maba atau justru lebih malu lagi jika maba yang saya jadikan objek kekerasan saat ospek akan lulus terlebih dulu daripada saya. Pun penulis akan lebih malu lagi jika menjadi aktivis yang menolak dengan lantang adanya kekerasan, pelanggaran HAM dan militerisme dalam tubuh pemerintah tetapi menjadi tidak lebih baik dari apa yang saya tolak dengan lantang dibawah terik matahari dan dengan semangat yang menyala-nyala.

*Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Buletin Kompilasi LPM Mercusuar tahun 2016, dan telah mengalami penyuntingan minor sebelum diterbitkan kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *