sumber : Weheartit

Penulis : nic

“Tidak Ada New York Hari Ini”. Ya, layaknya judul dalam kumpulan puisi itu. Tak ada lagi kau hari ini, esok, lusa, juga seterusnya. Halaman demi halaman kusinggahi, sampai akhirnya kujamah halaman 76 karya Aan Mansyur ini. Tanganku terhenti, airmata mulai memenuhi pelupuk mataku. Pipiku terasa hangat dialiri air. Ternyata bayangmu memang tidak pernah bisa hilang dengan mudah. Kuakui, aku rindu.

Apakah kau takut kehilangan atau sedang mencari sesuatu?

Selarik kalimat tertera pada bait kedua dalam puisi tentang rindu. Seolah mewakili keadaan jiwaku yang sedang meraung saat ini. Ya, aku mencari sesuatu sekaligus takut kehilangan. Berkali-kali aku mencoba menutup mata dan telinga, menghindari kata demi kata yang menyeruak masuk memenuhi rongga otakku.

Dengan kasar kututup buku itu. Rambut yang semula tergerai rapi, kini kusut masai akibat berontakku pada gema diksi yang masuk tanpa permisi. Aku beranjak dari ruang keluarga menuju kamar tidur pribadiku. Kututup pintu kamarku sedikit lebih keras agar tertutup dengan sempurna. Bersama dengan buku yang kudekap, aku menenggelamkan diri di atas kasur. Sedikit berharap, tidur mampu mengurangi kegelisahanku sore ini.

Belum lama aku memejamkan mata, ponselku berdering. Ah sial, aku lupa tidak menonaktifkan ponsel. Kuraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari sisi kepalaku. Tertera nama “Lia” di layarnya. Tanpa sempat berpikir panjang. Segera kuangkat telepon itu.

“Ada apa, Lia?”

“Bisa kita bertemu sekarang?”

***

“Kau masak apa hari ini?” seloroh Ade yang tiba-tiba berada di dapurku.

“Ah kau ini, tentu saja ayam panggang favoritmu.”

“Kau tahu? Aromanya tercium sampai keluar rumah. Liurku tergugah sejak memasuki rumahmu. Perlu kubantu agar lekas selesai?” Ade merengkuh pinggangku, tangannya yang kokoh terasa hangat menenangkan. Ia menempelkan dagunya diatas bahuku. Manja.

“Tidak perlu, sebentar lagi selesai. Tunggu saja di ruang tamu.”

“Baiklah,” ia melepaskan rengkuhannya, lalu menuju ruang tamu.

Ade memainkan sendok dan garpu sembari menungguku menghidangkan menu. Aku meletakkan nampan berisi ayam kecap panggang bersama sepiring nasi putih yang masih mengepul ke atas meja makan.

“Aroma kecap yang sangat menggoda, kau lebih pantas menjadi koki daripada duduk bersamaku di sini,” timpalnya, kemudian ia mengacak rambutku.

“Kau ini selalu saja. Seminggu yang lalu kau mengatakan bahwa aku sangat cocok menjadi penyanyi. Dua hari lalu kau katakan pula bahwa aku cocok menjadi tukang pangkas rambut pribadimu. Dan sekarang? Koki katamu? Tidak konsisten.”

Ia terkekeh mendengar penuturanku. Tanpa dipersilakan, ia melahap dengan semangat masakan yang aku hidangkan. Aku mengulum senyum. Tak perlu waktu lama untuk melicin-tandaskan  ayam kecap panggang di hadapannya. Ade bersendawa. Kami tertawa. Sederhana sekali bahagia yang tercipta. Usai makan, kami menemui mama untuk berpamitan keluar.

“Ade pergi dulu ya tan, Arin saya pinjam dulu. Hehe,” Ia mencium telapak tangan mama seperti ia berpamitan pada orang tuanya. Manis sekali.

“Jangan pulang larut malam!”

“Tenang, Tante. Besok pagi akan saya bawa pulang,” canda Ade dengan santainya. Mama bersiap melayangkan tinjunya pada Ade, sebelum aku menengahi dan berpamitan. Kami bertiga tertawa.

Katakan padaku, apa yang lebih indah? Selain dibonceng motor vespa biru menuju pertengahan kota yang mulai disibukkan oleh sorot lampu malam hari. Aku memeluk pinggang Ade, aroma maskulin menguar dari balik jaketnya. Seperti biasa, ia memaparkan banyak cerita selama perjalanan. Sayup-sayup terdengar, terdistraksi oleh berisik lalu lalang kendaraan bermotor. Sesekali  kami mencuri pandang lewat spion kiri. Sadar bahwa kita tak lagi remaja, tetapi raga masih ingin bermanja.

“Kau yakin akan memulangkanku besok pagi?”

“Bila perlu, kita tak perlu lagi pulang ke rumah, sayang.”

Pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibirku mendapat tawa dari angin malam. Aku menenggelamkan wajahku dibalik punggungnya. Menyembunyikan rona merah yang mampir di kedua pipiku.

“Bercandamu tak pernah lucu.”

“Hahaha..”

Motor vespanya terparkir rapi bersama puluhan motor milik pengunjung lain. Kami memesan dua capuccino hangat untuk diseduh. Bersamaan dengan hadirnya tawa di sela obrolan, ia tiba-tiba mengeluh, lupa tidak membawa harmonika merah kesukaanku. Perihal ingatan dan memori, ia sama payahnya denganku. Dasar bodoh.

Bagiku, Ade sudah seperti saudara, teman, sekaligus kekasih. Ia mengenal keluargaku dengan baik, juga mengenalku dengan segala kemakluman atas kekurangan yang kupunya. Bukan tanpa sebab, ia bisa leluasa keluar masuk rumahku. Lebih dari lima tahun kita menjadi teman bermain, mama pun telah hafal seluruh tingkah lakunya. Lalu, apakah ia mencintaiku? Tak perlu kau tanya, jawabannya tentu saja iya. Tapi sekali lagi, kita bukan sepasang kekasih.

“Izinkan aku cemburu,” celetuknya suatu hari.

“Silakan, kau berhak atas itu.”

“Aku tahu kita bukan sepasang kekasih dan tak akan mungkin menjadi sepasang kekasih. Tapi yang pasti, aku mencintaimu.”

Alisku bertaut, apa maksudnya dengan “tak akan mungkin”? Berjuta tanya hadir di dalam benakku. Aku tahu, cinta bukan perkara dimiliki dan memiliki. Sebab itu, segera kutepis angan yang tak perlu agar enyah dari pikiranku. Sampai saat ini pun, belum kutemukan alasan mengapa ia tak ingin menjadi kekasihku. Kembali, aku tak ambil pusing. Selama ia mencintaiku, itu lebih dari cukup untuk merasa berharga.

Malam semakin larut, membawa angin dengan sombongnya. Berhembus menerpa anak rambutku. Aku menikmati. Ade yang sedari tadi duduk di sebelahku merapatkan diri. Tak kudengar lontaran kritik pedas dari bibirnya. Yang kutahu, ia kini mencondongkan tubuhnya di hadapanku. Napasnya memburu, hembusan aroma sigaret filter yang dihisapnya tadi sanggup kuhirup.

Kini jarak wajah kita hanya terpaut beberapa senti saja. Hidungnya mulai menyentuh hidungku. Wajahku memanas. Lengan Ade melingkari pinggangku. Terbit senyum di bibirnya. Aku gemas ingin segera melumatnya.

Aku memejamkan mata, perlahan ia meraih daguku. Bibir kami pun bersilaturahmi. Mulailah kami saling bertukar  saliva. Kami berpagutan. Ade melumat bibirku tanpa jeda, halus dan penuh gairah. Aku menikmatinya. Bukan hanya lumatan yang membuatku lupa berpijak, tetapi juga  hisapan yang mulai  ia layangkan menuruni bawah dagu menuju leherku. Aku menggeliat.

Ade menghentikan aksinya. Jantungku masih berdebar tak keruan. Aku ingin lagi. Namun, Ade menekuri tangannya.

“Maaf.”

“Untuk apa?”

Sekali lagi, tak ada jawaban untukku.  Ade menggamit lenganku, kode agar lekas pulang.  Aku mengekor, mengikuti langkahnya menuju tempat parkir. Selama di atas motor, kami saling melontar kebisuan. Aku menenggelamkan kepalaku pada punggungnya. ‘Tenang, ia masih Ade yang sama’, sangkalku.

Tak ada ucapan selamat malam seperti yang ia ucapkan pada malam-malam sebelumnya. Tak ada kecupan di kening untuk memastikan agar aku tenang memasuki rumah. Tak ada senyuman untuk mengantarkan tidur nyenyakku. Ia langsung pulang, hanya menitip salam untuk mama. Aku tak mengerti apa yang salah pada diriku.

Aku merasa baik-baik saja, hingga matahari  mulai menggelintir  ke ufuk barat. Masih tak kudapati kabar tentang Ade. Aku mulai cemas, apakah dia baik-baik saja? Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata itu bukan dari Ade. Zul mengajakku bertemu, ia akan sampai di rumah pada pukul tujuh malam. Semoga aku mendapat informasi tentang Ade darinya.

“Silakan masuk tuan putri,” ia membukakan pintu mini coopernya untukku. Aku masuk, disusul Zul duduk di bangku kemudi.

Zul adalah teman mainku dengan Ade sejak kami duduk di bangku menengah atas. Kami biasa pergi bertiga, namun kali ini Zul hanya ingin berdua saja denganku. Katanya ia sedang dirundung gelisah, ia sedang menyukai seseorang. Namun, ia tidak menyebutkan ciri fisiknya. Rupanya ia belum berani mengungkapkannya.

“Omong-omong, bagaimana Ade? Dua hari lalu ia mengirim pesan padaku bahwa ia sudah memiliki kekasih. Bukankah semalam kalian keluar bersama?”

“Apa maksudmu Zul? Memang benar kami keluar semalam di kedai kopi biasanya, tetapi Ade tak mengatakan apapun mengenai kekasihnya.”

“Maafkan aku Rin, mungkin Ade tidak sampai hati memberitahumu. Kau baik-baik saja bukan?”

Melihat wajahku yang pucat, Zul memaksa mengantarku pulang. Dan melupakan niat awalnya ingin berbagi informasi. Informasi yang diberikan Zul cukup membuatku menangis semalaman. Mungkinkah ucapan maaf yang kemarin untuk menyatakan bahwa ia tidak lagi untukku? Aku menangis di dalam mini cooper milik Zul.

Zul  berinisiatif mempertemukan aku dengan Ade malam ini. Aku menuruti dan menolak untuk pulang ke rumah. Zul tahu bahwa hubungan kami—Aku dengan Ade tak hanya sebatas teman, entah apa yang membuat Ade berpaling hati pada Aliani alias Lia. Tiga puluh menit berlalu, Ade memarkirkan motor mendekati mini cooper milik Zul berhenti. Zul memberi ruang pada kami berdua untuk menyelesaikan ini.

“Arin, kurasa tak perlu berbasa-basi denganmu. Dua hari yang lalu aku resmi menjadi kekasih Lia, teman kampusku. Maaf, aku tak bisa tak menciummu malam itu. Aku merindukanmu, aku masih mencintaimu.” Jelas Ade padaku yang berada di hadapannya.

“Omong kosong! Jika kau masih mencintaiku, mengapa kita tak bisa menjadi sepasang kekasih?”

Hening tercipta, sejenak sebelum Ade menjawab pertanyaanku.

“Kau tak cantik.”

“Sungguhkah kau telah buta, De? Bagaimana mungkin aku kalah telak dengan definisi cantik milik Lia? Apakah ia juga gadis yang memiliki spesifikasi se-spesial aku di matamu?”

“Tidak, tapi akan. Aku mencintaimu sekaligus membencimu. Kita tak bisa bersama, sudah itu saja. Aku pergi dulu, jangan pernah menghubungiku lagi,” ujarnya, lantas meninggalkanku begitu saja.

Apa? Bagaimana mungkin ia menomorsatukan “kecantikan”? aku terpaku, membiarkan punggung Ade ditelan kegelapan malam bersama kenangan yang pernah singgah. Tunggu, ada apa pula aku dilarang menghubunginya? Sudah separah itu kah rasa benci yang ia tanam padaku?. Baiklah, mungkin ada baiknya aku segera pulang. Aku menghampiri Zul yang sudah menungguku di mobil sejak tadi dan pulang menuju rumah.

Sejak malam itu, telah kuputuskan aku akan hidup tanpa Ade maupun Zul seperti biasa. Aku akan baik-baik saja. Dunia akan tetap berjalan seperti biasa, ada atau tanpanya.

***

Aku bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Lia. Sepuluh menit perjalanan, aku sampai di tujuan. Aku menemui Lia yang telah terisak di bangkunya. Matanya bengkak, rupanya ia telah lama menangis di sini. Tanpa bicara panjang lebar, Lia mengarahkan telunjuknya ke arah pojok kedai. Kutangkap dua sosok manusia yang sedang bercumbu di sana, Ade dan Zul!

Tanpa menghiraukan larangan Lia, aku menghampiri mereka berdua. Satu tamparan mendarat mulus di pipi Ade. Zul terkejut. Pias wajah Ade pucat pasi mengetahui aku memergoki mereka berdua. Aku mencoba setenang mungkin untuk mendengarkan penjelasan mereka.

“Jadi, Ade lah orang yang aku maksud malam itu Rin. Itulah mengapa aku tak memberikan ciri fisiknya untukmu. Aku yakin kau tak akan terima, dan mengenai Lia kau tanyakan langsung saja pada Ade. Maafkan aku Rin.”

“Aku mencintaimu Arin,” ucap Ade dengan nada serius.

“Tolong,  jangan membual sekali lagi, tidak bisakah kau tidak bermain-main dengan hati, De?”

“Aku memang tergila-gila dengan kecantikan Lia, tapi aku tak bisa memungkiri jika aku hanya mencintaimu Rin. Sungguh. Perkara dengan Zul, aku hanya bingung bagaimana aku harus menolaknya. Lalu bagaimana aku bisa berhenti bermain-main, jika kau saja tak pernah bertanya pada hatiku?”

Aku terdiam, mataku berkaca-kaca tak tahu harus berbuat apa mendengar pengakuan tak terduga dari Ade. Sungguh, ia gila. Aku berlari keluar meninggalkan kedai kemudian pergi menuju taman. Melihat sekawanan burung-burung pasti sangat menenangkanku dari segala kenyataan yang kualami hari ini. Aku melewati Lia. Ade menghampiriku. Ia duduk di sebelahku.

“Kau lihat sepasang burung jalak bali yang bertengger di dahan pohon itu?” Telunjukku mengarah ke salah satu pohon yang besar dan lebat.  Saling berpagutan, bersender dan mengepakkan sayap bersama. Seolah mereka hidup selamanya, mereka lupa bahwa cinta selalu hadir di hati mereka.

“Tidakkah kau ingat tentang itu, De? Kita bahkan lebih dari sepasang burung jalak bali itu. Kita adalah sepasang burung merpati yang dijadikan sebagai lambang dari penyatuan janji suci.”

Ade menekuri kerikil dan menendangnya ke arah selokan. Mungkin Arin benar, ia hanya diam.

“Mungkin kau lupa juga, bahwa kau selalu tergila-gila dengan masakanku. Dengan suaraku yang katamu merdu, dan hasil cukur rambut yang selalu kau puja dibandingkan tukang cukur profesional. Kau juga selalu mengatakan bahwa kau selalu tergila-gila dengan aroma bibirku. Kupikir semua itu berharga untukmu. Ternyata aku salah, aku kalah telak dengan definisi cantik milik Aliani. Haha, lucu ya, De?”

“Maafkan aku, mulai saat ini kita tidak perlu bertemu lagi. Dan perihal Zul aku memang menaruh rasa iba pada perasaannya yang timbul sejak bertemu denganku di bangku SMA. Aku membalasnya dengan memberinya ciuman. Katakan apapun untuk mendefinisikan kegilaanku. Aku tetap mencintaimu.”

Ade meninggalkanku di taman, tanpa penjelasan. Selalu seperti itu.  Jarak tak akan berarti bagi dua insan yang sedang merindukan pungguk bulan. Tak akan berarti tanpa hadirnya kekasih yang dinanti. Ya, aku takut kehilangan pun aku sedang mencari sesuatu. Sesuatu yang ia sembunyikan jauh di dasar hatinya, di dasar yang tak dapat kusentuh. 

“Terima kasih, De,” ujarku pada Ade yang telah berjalan menjauh. Biar angin menyampaikan terima kasihku pada raga yang tak habis berpikir. Yang tak lekang sirna walau kegelapan membungkusnya.

One thought on “Ade”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *