oleh: Miftahul Ulum (Menko Pergerakan BEM Unair 2018)
Apa kabar kawan-kawanku DLM? Semoga anda sekalian sehat selalu. Sehat badan dan jiwa. Karena seringkali politisi badannya sehat tapi jiwanya sakit, seperti mereka anggota dewan yang tak masuk ketika sidang. Ada juga yang jiwanya sehat tapi badannya sakit. Mereka kasihan karena jiwanya yang sehat tidak bisa berbuat baik, dan bermanfaat buat sekitar karena badannya tidak mendukung.
Saya tidak ingin kedua hal itu dialami oleh anda sekalian. Kawan-kawanku yang kebetulan diberikan amanah menjadi legislator di kampus. Kesehatan badan dan jiwa sangat penting dalam mengemban amanah berat dari kami, mengawasi BEM, menyerap aspirasi kami yang tidak pernah habis. Maka dari itu, saya ingin anda sekalian sehat badan dan jiwa.
Bukan hal yang luar biasa ketika seorang mahasiswa menulis surat terbuka untuk kawannya sebagai DLM. Saya pikir ini hal wajar, sebagai mahasiswa yang baik berkeinginan kampusnya, organisasi di dalamnya bekerja sesuai prosedur yang benar, mengarah pada tujuan yang baik. Semua mahasiswa Unair saya pikir berkeinginan untuk menjadikan Unair kampus yang Excellence with Morality, sesuai dengan jargon kita.
Kawan-kawan DLM-ku yang baik, saya mulai geram dengan kawan-kawan yang kerjaanya mengeluh saja, ia cerewet soal gazebo yang dibongkar, mengeluh soal ELPT yang sulit, mengeluh soal parkir yang semakin sulit untuk didapatkan, bahkan sampai mengeluh UKT-nya yang menurutnya semakin sulit untuk dibayar (bukan semakin mahal). Bahkan ada kawan-kawan yang mengeluh di akun medsos anonim untuk menyerang pihak sana-sini bahwa BEM tidak transaparan, bahwa kampus bla-bla-bla. Saya pikir mereka orang-orang yang sebenarnya juga peduli terhadap kampus kita tapi tidak punya saluran aspirasi yang jelas. Sekaligus sedikit pengecut.
Maka dari itu, kawan-kawan DLM-ku yang baik. Saya seringkali menyarankan mereka untuk menyampaikannya pada kalian, daripada menggerutu di medsos lalu saling tubir diantara sesamanya tanpa mengubah apapun selain kegaduhan atau paling-paling meme. Saya sudah mewanti-wanti pada mereka agar tidak reaksioner memposting yang ia keluhkan terkait kampus di medsos, karena apa? Karena sama pula dengan tidak menganggap kawan-kawan DLM yang sudah menjadi penyambung lidah mahasiswa Unair. Saya tidak ingin kawan-kawan semua mengalami hal itu. Pelecehan terhadap jabatan kawan-kawan dewan yang terhormat.
Sayangnya perasaan gembira saya mulai terusik ketika suatu saat saya secara kebetulan dipilih oleh Presiden BEM Unair mengisi jabatan di BEM untuk menggantikan pengurus yang sudah lulus. Sedianya, saya akan diperkenalkan di muka publik bersamaan dengan Monev oleh DLM awal bulan Oktober, yang belum pasti kejelasannya sampai hari ini. Kepedulian dan keinginan saya untuk menyapa kawan-kawan dewan yang terhormat sebagai partner ormawa sampai sekarang tidak pernah terjadi karena terhalang komunikasi kita yang buruk.
Saya mendengar beberapa kali Monev akan dilangsungkan pada bulan November, sempat singgah kegembiraan itu. Akan tetapi, lagi-lagi gagal. Lalu saya mulai berhenti berharap akan dipernkenalkan di muka publik bersamaan dengan Monev. Toh, kinerja saya juga sudah saya lakukan meskipun tanpa diperkenalkan secara langsung ke publik. Sempat terpikir, jangan-jangan apa yang pernah Gus Dur kelakarkan dulu tentang anggota dewan di senayan sebagai sekumpulan anak TK itu benar. Cepat-cepat saya buang pikiran negatif itu. Karena kawan-kawan pasti tahu, pikiran negatif akan sangat buruk pada perilaku kita.
Lalu saya mulai mencari tahu, bagaimana kabar kawan-kawan DLM-ku yang terhormat. Apakah mereka sedang merancang GBHO (Garis Besar haluan organisasi mahasiswa), apakah mereka sedang berkreasi untuk membuat SOP (Standar Operasional Pengawasan) yang efektif, apakah mereka sedang turun ke fakultas-fakultas, jurusan-jurusan, tiap mahasiswa untuk menyerap aspirasi mahasiswa. Ataukah mereka sedang sibuk berkunjungan untuk studi banding tentang legislasi kemahasiswaan di kampus-kampus lain. Ternyata tidak. Saya kecewa dan berhak untuk itu. Tapi saya tidak punya hak untuk membenci kalian semua. Karena itulah saya layangkan surat ini untuk menyapa kawan-kawan tersayangku.
Sekira seminggu yang lalu, tersebar sebuah kuisioner di grup-grup mahasiswa terkait kinerja DLM dan aspirasi untuk DLM. Tertera disana LPM Mercusuar yang ingin mencari tahu sejauh mana kinerja DLM. Saya berbaik sangka bahwa ini adalah langkah yang baik untuk memperbaiki apa yang telah terlupakan selama ini. Maka dari itu, saya coba untuk menanyakan pada salah satu pengurus LPM Mercusuar apakah ini sebuah inisiatif bersama dengan DLM? Ternyata bukan. Kuisioner yang disebar adalah murni inisiatif dari kawan-kawan LPM Mercusuar. Bukan main kagetnya. Ekspresi saya hanya tersenyum kecut mengenai hal ini. Mungkin kawan-kawanku DLM berkenan untuk menjawab ini?
Saya pikir keseimbangan sebuah organisasi kemahasiswaan adalah seimbangnya antara BEM, DLM, UKM dan Mahasiswa (secara umum). Ketika salah satu elemen ini tidak bergerak, maka kekacauan yang terjadi. Contohnya saat ini, ketika kawan-kawan DLM tidak menjalankan tugasnya, BEM akan punya kesempatan besar untuk melakukan kesewenang-wenangan. Bahkan kritik terhadap BEM pun, dilancarkan oleh akun-akun anonim yang validasi informasinya sulit dilakukan. Bahkan cenderung mengarah pada fitnah dan ujaran kebencian. Saya pikir hal semacam itu juga menjadi hal yang tak diharapkan oleh kawan-kawan DLM.
Saya ingin bergerak bersama kawan-kawan DLM membangun sistem organisasi yang sehat melalui pengawasan kinerja organisasi. Bersama-sama membangun kanal komunikasi dan penyampaian aspirasi mahasiswa. Tentu inilah yang ditunggu-tungu oleh kawan mahasiswa sekalian. Kehadiran organisasi mahasiswa di tiap-tiap pribadi mahasiswa Unair. Saya ingin melihat DLM menjadi kawan yang baik dalam menerima aspirasi mahasiswa, kawan yang baik bagi BEM dalam menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan, serta kawan yang baik dalam membangun Unair.
Saya tidak ingin mendengar lagi bahwa kawan-kawan DLM hanya berguna semasa MPM untuk memilih ketua dan wakil BEM. Sebagaimana kawan-kawan DLM pun tak berharap dianggap seperti itu. Saya tak ingin lagi membaca status-status kritik mahasiswa terhadap kampus di media sosial karena tidak adanya kanal penyampaian aspirasi. Saya juga sudah muak dengan segala kerumitan terkait birokrasi organisasi dan rektorat yang berbelit-belit. Saya yakin DLM-lah jawaban dari itu semua.
Saya rasa tidak ada kata terlambat dalam bergerak. Masih ada satu bulan terakhir untuk memperbaiki ini semua. Kalau tidak, mungkin perkataan Gus Dur dulu masih relevan bagi kawan-kawan DLM. Sekumpulan mahasiswa yang berkepentingan dalam pemilihan ketua BEM tanpa benar-benar tahu tugas dan fungsinya. Di akhir saya tegaskan, bahwa ini murni surat terbuka dari saya pribadi. Salam hangat.