Labeling Terorisme dan Peran Lembaga Filantropi Islam di Indonesia untuk Menanggulanginya

Oleh: Muhammad Sajidin Nur (Wakil Pemimpin Umum LPM Mercusuar 2018, FV 2016)

Asal mula labelling terorisme diberikan pada apapun yang menggangu ataupun mengancam kehidupan ummat manusia secara umum, salah satunya ke lingkungan yaitu bioterorisme. Yaitu segala yang merusak tanaman. Namun semakin berkembang pesatnya ilmu bahasa, kini kata terorisme kerap menjadi labelling pasca aksi pengeboman. Aktor yang kerap dicurigai dan “dicurangi” mengarah pada umat dengan busana serba tertutup baik bagi laki-laki maupun perempuan. Siapa lagi jika ummat muslim. Padahal masalah ini perlu ditangani bersama dengan bijak.

By the way, apa yang menyebabkan terorisme ini terjadi dan bagaimana cara menanganinya? Simak ulasan berikut menggunakan teori “Staircases to Terrorism” dari Fathali Moghaddam (2005) beserta solusi yang ditawarkan.

Ground floor: search for meaning. Mencari makan diri dan sosial menjadi awal atau modal dasarmenjadi terorisme, walaupun tidak semua orang yang sedang mencari makna akan terjerumus ke dalam aktivitas terorisme.

First floor: presenting the ideology. Muncul semangat untuk mencari musuh dan melawan pihak (kambing hitam) yang dianggap melakukan ketidakadilan terhadapa kelompok sendiri.

Second floor: cultivate stage. Pada tahap ini terjadi pengolahan ideologi untuk melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang telah membuat ketidakadilan terhadap kelompok sendiri.

Third floor. yaitu aktivitas yang dilakukan dalam bentuk melihat dunia sebagai hal yang hitam dan putih. Hanya ada benar dan salah. Dimana penilaia benar dan salah didasarkan pada “fatwa leader”.

Fourth floor: moral engagement. Pada tahap ini terjadi proses polarisasi kelompok kawan dan lawan. Identitas sosial terbentuk secara mantap, yaitu identitas sebagai mujahid dan orang/kelompok yang tidak sejalan adalah musuh.

Fifth floor: recruitment. Pada tahap ini seseorang mulai terlibat dalam aksi terorisme yang mencengangkan dunia.

Salah satu permasalahan sosial yang masih berkonteks dengan tema ini adalah kemiskinan dan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Masalah kemiskinan menjadi muara munculnya masalah-masalah lainnya seperti konflik sosial karena kecemburuan sosial, rendahnya kualitas hidup seperti tingkat kesehatan dan pendidikan, serta bagi sebagian kalangan, munculnya penderitaan yang mendorong lahirnya radikalisme dan terorisme.

Solusi maupun gagasan yang bisa dipandang, salah satunya lembaga filantropi. Lembaga ini berperan di level tersebut untuk mengurangi kesenjangan yang bisa menyebabkan masyarakat terpicu untuk melakukan tindakan terorisme.

Tugas lain lembaga filantropi untuk menanggulangi terorisme adalah dengan terus melakukan sosialisasi perdamaian atapun dengan melakukan penelitian. Saat ini lembaga filantropi harus membangun masyarakat yang mempunyai visi positif, bukan masyarakat yang “frustasi” yang menimbulkan antipasti terhadap pemerintahan yang berujung timbulnya sel-sel terorisme.

Rujukan

Filantropi Islam, Perdamaian dan Keadilan Sosial. Maarif Fellowship 2017 Maarif Insttute for Culture and Humanity. Diambil pada 18 Mei 2018 03.45 WIB

Gazi dan Ikhwan Lutfi. 2011. Dari Orang Biasa Menjadi Teroris: Telaah Pasikologi Ats PErilaku Teror. Laporan Penelitian Kolektif Fakultas PSikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diambil pada 18 Mei 2018 04.00 WIB

Moghaddam, F.M. 2005. The Staircase to Terorism: A Psycological Exploration. Jurnal American Psycologist. Vol. 60, No. 2, 161-169. Fathalimoghaddam.com 2013/10 diambil pada 18 Mei 2018 04.12 WIB

Yulianto, Agus dan Muhyiddin. 2017.Peran Filantropi Islam untuk Tanggulangi Terorism. https://www.google.com/amp/m.republika.co.id/amp_version/orjae1 diambil 17 Mei 2018 23.51 W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *