Mahasiswa sebagai Pendorong Kegiatan Bermedia Sosial yang Beretika, Bijak dan Berkualitas

Oleh: Islamiyah Nauroh Izzati (FV 2016, Kadiv Humas LPM Mercusuar)

Menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya, media sosial saat ini sangat digandrungi masyarakat umum termasuk pelajar dan mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang hidup di era sekarang, tidak dipungkiri bila kita tidak bisa lepas dari media sosial. Media sosial saat ini memiliki berbagai macam bentuk, dari awal diluncurkannya Friendster, lalu Facebook yang masih booming sampai sekarang, Twitter, Youtube yang semakin banyak penggunanya dan satu lagi platform media yang saat ini sedang naik daun yaitu Instagram.

Platform ini menawarkan media dengan bentuk visual, jadi penggunanya tidak hanya membagikan post berupa tulisan seperti yang Facebook dan twitter lakukan, namun mewajibkan penggunanya untuk mengunggah gambar yang disertai kolom untuk menambahkan caption sesuai gambar. Didalamnya juga terdapat fitur terbaru yaitu Insta-story yang kita bebas merekam kegiatan kita sehari-hari untuk dibagikan dan akan hilang dalam kurun waktu 24 jam.

Dewasa ini, media sosial tidak hanya digunakan untuk mencari popularitas yang semakin banyak diburu remaja jaman sekarang atau sekarang sedang booming kata ‘kids jaman now’, namun juga dimanfaatkan oleh beberapa pedagang online shop untuk mempromosikan jualannya. Yang semula memanfaatkan Facebook, kini mereka juga merambah ke Instagram. Misalnya saja salah satu teman saya yang berjualan buku preloved miliknya sendiri, atau ada beberapa merupakan titipan teman. Terlebih, di Instagram sendiri ada fitur promosi yang terhubung ke Facebook bagi pengguna business profile, untuk memudahkan dalam mempromosikan barang dagangannya.

Bahkan sekarang pun, lembaga lembaga besar juga tak mau kalah dengan memiliki akun akun media sosial untuk menginfokan kegiatan mereka ataupun membuat pengumuman lewat media sosial mereka, terlebih targetnya adalah mahasiswa atau pelajar. Media sosial memang menebarkan manfaat yang banyak sekali, namun tak dapat dipungkiri media sosial juga memiliki banyak sisi negatif bagi para penggunanya, terlebih masih banyak sekali pengguna yang kurang cerdas dalam memanfaatkan media sosial dengan baik.

Lantas bagaimana peran mahasiswa dalam bijak untuk menggunakan sosial media? Mari kita kupas.

Pertama, kita sebagai mahasiswa adalah pelajar yang dididik di universitas baik negeri maupun swasta, untuk menambah intelektualisasi diri, dimana kita biasanya akan dipandang lebih baik dibandingkan mereka yang hanya lulusan sekolah menengah atas, namun saya kurang setuju dengan pemikiran ini. Karena tidak jarang pula yang bahkan belum lulus SMA bisa menjadi orang besar, seperti contoh ibu Susi Pudjiastuti yang diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan oleh Presiden Jokowi karena dirasa mampu menangani masalah Kelautan yang banyak terjadi di Indonesia saat ini.

Kembali lagi, kita sebagai mahasiswa, baiknya sosial media digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan peran sebagai mahasiswa, contohnya dengan mengikuti akun-akun yang memberikan dampak positif, semisal Kemendikbud RI, akun-akun yang sekiranya menebar kemanfaatan dan menambah pengetahuan, hindari akun akun yang bersifat negatif seperti akun yang memberikan contoh buruk bagi khalayak.

Kedua, gunakan sosial media seperlunya saja, tidak usah terlalu sering, dan mengertilah waktu dan tempat. Jangan gunakan media sosial disaat sedang ada dosen yang menjelaskan didepan, bisa bahaya. Kalau endingnya ketahuan, bisa jadi ponsel kamu akan diambil, atau absen kamu akan dicoret dan paling buruk, nilai kamu jadi E jadi harus ngulang semester depan, ngeri gak tuh?

Tapi tak jarang kalau dosen yang baik biasanya dibiarin, tapi tetap hal hal seperti itu harus dihindari karena itu tidak menunjukkan attitude yang baik, sebagai mahasiswa  kita dituntut untuk memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi serta semakin paham mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri sendiri.

Ketiga, hanya unggah hal-hal positif, seperti menebar kebaikan, tidak terlalu mengekspos kehidupan pribadi, karena tidak jarang itu malah jadi bumerang buat diri sendiri, karena  cyberbullying itu nyata ada di mana-mana. Bisa juga kamu meng-share info kompetisi, atau beasiswa, kan siapa tau salah satu followers kamu lagi butuh informasi itu, kan jadi bisa jadi tambahan amal baik buat kamu sendiri.

Percaya atau tidak, saat ini, peran mahasiswa sebagai pendorong perubahan kegiatan bermedia sosial semakin diperlukan, karena berdasarkan riset terbaru yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pada kategori umur 20-24 tahun ditemukan 22,3 juta jiwa pengguna sosial media yang setara 82 persen dari total penduduk. Sedangkan pada kelompok 25-29 tahun, terdapat 24 juta pengguna internet atau setara 80 persen total jumlah jiwa.

Maka, kita terutama sebagai generasi milenial yang sekarang harus pandai dan bijak mengelola dan memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Satu lagi, mengenai hoax dan media massa, dengan adanya kemudahan informasi yang kita dapat melalu sosial media, prosentase kemungkinan terjadinya berita hoax sangat amat besar. Jadi bagaimana mau jadi mahasiswa berkualitas kalau yang kita baca sehari hari merupakan berita tidak benar atau hoax.

Perbanyak wawasan dengan membaca buku, memang terdengar mainstream sekali, tapi itu benar sekali bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku A kita bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di negara Jepang hanya dengan membaca buku itu saja, misalnya.  Berupa novel atau majalah, buku motivasi, atau bahkan buku pelajaran. Dengan semakin banyaknya kita memiliki wawasan yang luas, tentu tidak akan mudah termakan hoax yang marak beredar di jaman yang saat ini informasi sangat mudah dan cepat didapat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *