Di era real-time saat ini, arus informasi terus bergerak seperti tanpa jeda. Suatu peristiwa muncul di media sosial, lalu dengan cepat menyebar ke berbagai platform dan menjadi pembicaraan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, pers mahasiswa memiliki tuntutan untuk bisa tetap hadir secara cepat tanpa menghilangkan ketepatan.
Pers mahasiswa tidak hanya bersaing dengan media alternatif lain. Mereka juga harus menghadapi pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin cepat. Kondisi tersebut disebabkan oleh masyarakat yang sudah terbiasa mencari dan menemukan informasi melalui media sosial dengan format tulisan yang singkat dan judul yang menarik perhatian. Reuters Institute dalam Digital News Report 2026 mencatat, rata-rata konsumsi berita masyarakat terus berubah dari yang awalnya menggunakan media cetak bergeser ke platform digital hingga media sosial. Salah satu contohnya di Indonesia yang tercatat 64% responden membaca berita melalui platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan terhadap berita di Indonesia berada pada angka 32%.
Di tengah situasi seperti ini, headline menjadi hal yang sangat penting bagi penulis karena merupakan pintu pertama yang menentukan apakah masyarakat akan berhenti untuk membaca tulisan tersebut atau justru tidak peduli dan melanjutkan scroll-nya. Kondisi tersebut menjadi masuk akal jika terdapat banyak penulis yang memiliki dorongan untuk membuat judul semenarik mungkin untuk menarik engagement masyarakat. Namun, yang menjadi pertanyaan bukan tentang apakah headline dapat menarik perhatian, tetapi sejauh mana judul boleh dibuat menarik tanpa menghilangkan akurasi dan kepercayaan pembaca?
Headline yang menarik tidak dapat secara langsung dikatakan sebagai clickbait. Sebuah judul bisa dibuat menjadi padat, ringkas, dan menarik rasa ingin tahu masyarakat dengan syarat tetap sesuai dengan fakta dan isi berita yang sebenarnya. Permasalahan dapat muncul ketika judul yang dibuat mulai terkesan melebih-lebihkan suatu peristiwa sebenarnya, menghilangkan konteks senyatanya, atau bahkan tidak sesuai dengan isi berita yang ditulis. Permasalahan headline tidak hanya tentang penggunaan gaya bahasa penulis, tetapi juga berkaitan dengan cara suatu fakta akan dipahami oleh masyarakat saat membaca tulisan tersebut. Dewan Pers mencatat bahwa selama Januari hingga November 2025 terdapat 1.166 pengaduan masyarakat terhadap pers, data tersebut menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan tahun 2024 sebanyak 626 pengaduan. Mayoritas pengaduan ditujukan kepada media sosial dengan permasalahan yang banyak diadukan salah satunya berupa penggunaan judul yang terlalu sensasional atau clickbait.
Ketika pers mahasiswa juga ikut mengejar engagement dengan menggunakan pemikiran yang sama seperti media digital mainstream, akan muncul pertanyaan yang lebih mendasar, apakah pers mahasiswa masih tetap menjalankan fungsi jurnalistiknya atau justru ikut memperkuat budaya informasi yang serba cepat tetapi dangkal? Pertanyaan ini penting, karena pers mahasiswa memiliki kondisi yang berbeda dengan media pada umumnya. Redaksi yang bekerja hanya dengan sumber daya yang terbatas, beberapa reporter juga berperan sebagai editor, serta proses peliputan yang sering kali dilakukan di tengah aktivitas perkuliahan. Di saat yang sama, terdapat tekanan untuk tidak kalah cepat dari media lain atau informasi yang sudah beredar di media sosial.
Padahal, kecepatan dalam dunia jurnalistik seharusnya bisa berjalan bersama dengan proses verifikasi bukti dan sumber. Lebih baik berita terlambat terbit beberapa menit daripada menerbitkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ketika kesalahan sudah tersebar, maka koreksi tulisan yang selanjutnya dilakukan tidak bisa selalu dapat menghapus kesan pertama pembaca yang telah terbentuk. Pada kondisi ini, pers mahasiswa juga dapat terjebak dalam pemikiran yang sama ketika jumlah tayangan, engagement, atau kecepatan publikasi menjadi ukuran utama keberhasilan. Sebelum menerbitkan sebuah tulisan, redaksi perlu berfikir apakah judul yang telah dibuat benar-benar merepresentasikan isi berita? Apakah setiap kata dalam headline memiliki dasar fakta yang jelas? Apakah judul dapat membantu pembaca memahami peristiwa atau justru membentuk kesimpulan sebelum berita dibaca?
Pers mahasiswa tidak seharusnya terlalu memikirkan antara judul yang menarik atau judul yang akurat karena keduanya bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Pers mahasiswa tetap dapat membuat headline yang jelas, kreatif, dan menarik perhatian tanpa harus mengubah fakta atau menghilangkan konteks senyatanya. Tantangan pers mahasiswa di era real-time bukan hanya tentang memilih antara kecepatan atau ketepatan, tetapi pada pembuktian bahwa kecepatan dan ketepatan dapat berjalan bersama. Pers mahasiswa dapat mengikuti perkembangan masa, tetapi tidak seharusnya kehilangan alasan mengapa mereka ada, yaitu memberikan informasi yang dapat dipercaya, dipertanggungjawabkan, serta memberi pemahaman yang lebih nyata tentang suatu permasalahan kepada masyarakat. Dalam ruang informasi yang semakin ramai, menjadi yang pertama mungkin dapat membuat berita lebih terlihat, tetapi menjadi berita yang tepat pasti akan membuatnya lebih layak untuk dipercaya oleh pembaca.
Referensi
Dewan Pers. Catatan akhir tahun Dewan Pers 2025: Kemerdekaan pers, profesionalisme, dan ekonomi media jadi tantangan. https://dewanpers.or.id/read/news/30-12-2025-catatan-akhir-tahun-dewan-pers-2025-kemerdekaan-pers-profesionalisme-dan-ekonomi-media-jadi-tantangan.
Reuters Institute for the Study of Journalism. Digital News Report 2026: Indonesia. University of Oxford. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2026/indonesia
Penulis: Ninis
Editor: Chicki