Sumber Gambar: kabardamai.id

Feminisme kerap dianggap serupa gerakan yang dipelopori oleh sehimpun kaum perempuan untuk menggebrak ketidakadilan gender. Banyak komponen masyarakat memahami ketidakadilan gender sebagai fenomena yang hanya merugikan perempuan semata. Namun, dunia dihadapkan pada realitas sosial bahwa budaya patriarki yang terus mengakar menyuguhkan babak baru dalam perjuangan kesetaraan. Patriarki mampu mencekik kedua gender dengan memblokir ruang gerak perempuan dan membebani laki-laki sepenuhnya atas tanggung jawab berat. Perbedaan aksi dalam dinamika gender dipengaruhi oleh seks. Seks yang berbeda akan melahirkan gender sesuai perannya masing-masing. Peran gender tercipta sebagai konsekuensi dalam kehidupan lingkup masyarakat yang bersifat tetap. Sederhananya, perempuan melangkah bersama kodratnya, yakni menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Tak lupa, peran yang kerap melekat dalam diri perempuan, yaitu membesarkan dan mendidik anak. Pada persoalan domestik, kaum perempuan menggugat kenihilan peran laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga.

Peran domestik sering diartikan sebagai wilayah perempuan, dan peran publik dianggap sebagai wilayah aktualisasi laki-laki. Sekat peran ini merupakan warisan kultural yang berupaya menempatkan perempuan pada posisi kedua dan menyerahkan beban punggung berat bagi laki-laki. Untuk mencapai kesetaraan kedua gender tak perlu saling sikut sebab sokongan sebagai wujud utuh dari buah kesadaran yang wajib ditumbuhkan dalam diri tiap individu diyakini mampu meminimalisir tafsir ganda. Umumnya kaum perempuan nyaris selalu menjadi sasaran utama penyiksaan batin dari budaya patriarki, sebab itu patriarki dipandang merajakan laki-laki atas kuasa dalam dinamika sosial. Lantas, apakah laki-laki begitu digdaya dan tak pernah merasa keberatan atas eksistensi patriarki?

Anggapan laki-laki sebagai sosok yang tangguh, kuat, bijaksana dalam memimpin, dewasa dalam memutuskan, tak boleh cengeng, bahkan menangis sesuka hati memaksa laki-laki hidup dalam tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang sekitar. Pembelahan tugas gender membuat laki-laki selalu menerima yang lebih berat dibanding perempuan. Situasi ketidakadilan ini dianggap lumrah oleh sekelompok masyarakat. Laki-laki seolah didorong untuk terus terlibat dalam kegiatan maskulin sebagai standarisasi supaya layak disebut “laki-laki”. Praktisnya, laki-laki yang enggan terlibat dalam pertandingan olahraga kompetitif seakan tak berhak menyandang gelar “laki-laki” seyogya filosofinya. Kenyataannya, patriarki menindas dan menyebabkan laki-laki hidup dalam ketakutan besar akan kehilangan identitas kejantanannya. Kondisi ini menyengsarakan batin laki-laki karena harus mengisolasi tangisnya dan tak pernah diberi ruang mengekspresikan perasaannya. Situasi ini tak berlaku bagi perempuan, misalnya perempuan yang mengikuti kompetisi olahraga, seperti sepak bola akan dianggap biasa, pun permainan ini umumnya dimainkan oleh kelompok laki-laki.

Feminisme Terus Berupaya Menelusuri Pintu Keluar

Feminisme hadir untuk mengikis bias gender yang selama ini menguasai pikiran, akal, dan tindakan masyarakat. Rendahnya kesadaran tentang edukasi gender di kalangan masyarakat mempersulit paham feminisme dikonsumsi secara serta merta. Lahirnya stigma-stigma yang menyudutkan kaum perempuan menggenapkan gerakan feminisme untuk melawan ketidakadilan. Namun, kesetaraan juga diperlukan oleh laki-laki yang turut dirugikan akibat mengakarnya budaya patriarki. Laki-laki dianggap sebagai tumpuan hidup dalam rumah tangga, memercikkan tekanan tersendiri bagi dirinya. Feminisme seharusnya meringankan standar maskulin dalam dinamika gender demi mewujudkan kesetaraan tanpa dominasi, diskriminasi, opresi, dan kekerasan. Sejak feminis gelombang kedua, sekitar tahun 70-an, gerakan ini tak lagi hanya memperjuangkan pemenuhan hak perempuan, melainkan berjuang atas kesetaraan. Secara implisit, feminisme bicara perihal kemanusiaan. Oleh sebab itu, kontribusi laki-laki juga diperlukan untuk menciptakan kawasan aman bagi kedua gender. 

Patriarki terus mempersempit ruang gerak perempuan, juga memaksa laki-laki habis-habisan dalam mendominasi segala aspek kehidupan. Tuntutan gender ini kerap menyodorkan beban luar biasa. Mencopot belenggu patriarki mampu dilakukan manakala masyarakat sadar akan aliansi positif antar gender. Pandangan perempuan lebih rendah dari laki-laki harus dilenyapkan, penyiksaan laki-laki sebagai korban tak kasat mata patriarki harus dihentikan demi mencapai kesetaraan gender yang sesungguhnya.

Penulis: S2P06

Editor: AK-20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *