Sistem teknologi yang semakin canggih membuat jejak digital di era saat ini sangat mudah untuk ditemukan. Perilaku sosial (Social behavior) yang melekat dan dilakukan oleh manusia dapat secara langsung terekam dan secara mudah untuk dideteksi. Apalagi fitur sharing di media sosial membuat motif-motif pelanggaran di masyarakat dapat terungkap dalam waktu singkat. Melihat kecanggihan tersebut, seharusnya masyarakat dapat menyikapi dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Kemudahan seperti itu mampu meminimalisasi terjadinya kasus pembohongan, pelecehan, pencurian, serta kasus-kasus lain yang bisa diungkap melalui media sosial.
Meninjau dari pembahasan tersebut, kasus rasisme di dunia sepak bola Indonesia nampaknya masih marak terjadi. Biasanya, kasus rasisme terjadi kepada masyarakat berkulit hitam dan putih, rambut keriting dan botak, serta postur tubuh yang kecil. Ujaran kebencian semacam itu yang dilontarkan oleh supporter pun membuat Ketua Umum PSSI Erick Thohir geram, pasalnya regulasi sepak bola di Indonesia mengizinkan WNA menjadi pemain dalam klub lokal.
Merespon tanggapan Erick Thohir itu, Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB) Ferry Paulus mengatakan bahwa kasus rasisme tertuang dalam regulasi hukum Liga 1 2023 saat pertama kali diresmikan beberapa bulan lalu. Dalam regulasi tersebut berbunyi bahwa seseorang yang bertindak rasisme melalui media apapun akan ditindak secara tegas dan tidak diberikan toleransi. Kemudian, muncul juga isu bahwa pelaku akan disidang oleh Komdis PSSI untuk diusut lebih lanjut. Namun, alih-alih mengusut, saya rasa warga Indonesia dan PSSI masih belum tegas dalam menindak pelaku rasisme.
Seperti halnya kasus bek tengah PSM Makassar Yuran Fernandes yang pada laga melawan Persija Jakarta sempat berduel dengan Riko Simanjuntak yang tersorot media membuat banyak ungkapan rasis banyak terlontar oleh warga Indonesia. Pelbagai sosialisasi sering dilakukan oleh media-media resmi, tetapi kasus rasisme masih terus terjadi. Walaupun aturan sudah tertuang dalam regulasi hukum, kita tetap harus berpikir mengapa kasus rasisme itu masih banyak terjadi dan sampai kapan akan terus berulang.
Kasus serupa juga terjadi baru-baru ini, laga Persebaya Surabaya melawan Borneo FC Samarinda. Saat itu, saya menonton langsung pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo merasakan sendiri seperti apa atmosfernya. Persebaya yang mulanya unggul 1-0 atas Borneo FC harus menelan skor imbang menuju penghujung babak pertama. Apalagi, gol dari Borneo FC berasal dari pemain Persebaya yang melakukan kesalahan. Setelah peluit ditiup tanda berakhirnya babak pertama, banyak ujaran kebencian dan rasisme kepada Yohanes Kandaimu, pemain Persebaya yang berasal dari Timur. Mendengar hal tersebut, saya merasa risih dan berpikir bahwa kesalahan yang dilakukan itu masih dalam kategori wajar, karena sebelumnya Kandaimu juga banyak melakukan penyelamatan penting dari serangan lawan.
Setelah laga usai, saya mendengar kabar bahwa ada seseorang melalui media sosial yang berkata rasis dan menyebut nama binatang kepada Kandaimu. Padahal, belum tentu ia mampu bermain sepak bola sebaik Kandaimu. Dengan jejak digital yang sangat canggih, pelaku berhasil ditemukan dan sempat viral di media sosial Instagram. Pelaku juga ditunggu untuk mendatangi mes Persebaya yang berlokasi di Tambaksari. Tak lama kemudian, pelaku pun mendatangi mes dan saya memperoleh informasi bahwa pelaku sudah meminta maaf. Mengingat perkataan yang diungkapkan belum lama setelah pertandingan itu, mengapa ia harus menyamakan seseorang dengan binatang yang pada akhirnya juga meminta maaf.
Patut ditunggu, apakah dengan kasus ini PSSI akan benar-benar mengusut tuntas kasus rasisme? Dan apakah Persebaya dapat melaporkan kejadian ini? Jika tidak, saya rasa isu rasisme akan terus berlanjut di laga-laga berikutnya. Bahkan, tidak hanya di dunia sepak bola saja. Namun, bilamana kasus ini benar-benar terselesaikan, tentu masyarakat Indonesia tidak mengulang hal yang sama dan akan mengurangi tindakan rasisme. Maka dari itu, jika memang supporter kesal terhadap pemain, supporter dapat memberikan kritikan yang membangun dan bukan dengan ungkapan rasisme yang merendahkan. Para pemain pasti akan terbangun dan termotivasi jika yang diberikan itu adalah sebuah kritikan, bukan ujaran kebencian.
Penulis : Firtian Ramadhani
Editor : Dimas Septo Nugroho