Keberadaan asrama sebagai fasilitas kampus ternyata sangat membantu mahasiswa dan mahasiswi Universitas Airlangga yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Dengan berada di asrama, biaya hidup yang seharusnya digunakan untuk menyewa kos dan memakan biaya yang cukup banyak dapat sedikit terbantu. Dengan bantuan fasilitas dari kampus ini, asrama juga dapat dijadikan sarana beradaptasi dan bersosialisasi di lingkungan yang baru. Asrama putri Universitas Airlangga, asrama yang memiliki tampilan cantik dan modern. Meski begitu, tidak menutup akan adanya kekurangan-kekurangan yang ada pada asrama putri ini. 

Menurut pengakuan dari beberapa mahasiswi yang tinggal di asrama putri, ternyata ada banyak kekurangan yang ada pada asrama putri ini. Mulai dari fasilitas, hingga pelayanannya yang kurang maksimal. Dengan adanya pengakuan ini, sudah sepatutnya hal ini harus segera diperbaiki oleh pihak resmi asrama secepatnya. 

Beberapa mahasiswi juga mengeluhkan persoalan biaya asrama yang meningkat. “Kalau misalkan aku dulu itu daftar lewat web, aku dapat harga waktu 1 semester itu bulan februari sampai bulan juli dapet harga 3.7 jt sudah termasuk listrik. Terus waktu perpanjangan itu isinya pake g-form di bulan juni-juli, biayanya itu 7.2 jt setahun belum termasuk listrik.” Ujar seorang mahasiswi yang sudah menempati asrama putri sejak Februari 2022.

“Waktu aku jadi maba, asrama itu belum semahal sekarang. Waktu itu kalau gak salah 3 jutaan dan bayarnya 10 bulan di awal. Kalau sekarang bayarnya seperti normal 12 bulan, tapi sebulannya 600 ribu dan biaya listrik ditanggung sendiri pakai token. Beda seperti tahun lalu yang biaya sewanya lebih murah dan listrik gak perlu bayar lagi. Bayarnya makin mahal, tapi listriknya makin membebani. Dari harga 300 an jadi 600 an, kok signifikan banget kalau naik harga. ” Tambah seorang mahasiswi lain yang juga telah tinggal di asrama putri sejak masih menjadi maba angkatan 2021. 

Sejak adanya kenaikan harga yang disertai dengan pengurangan fasilitas pada asrama putri, banyak komplain yang diutarakan para penghuni asrama putri saat ini. 

Selain keluhan mengenai kenaikan biaya dan pengurangan fasilitas, komplain lain mengenai  limitasi barang elektronik juga menjadi keluhan lain para penghuni asrama, “Sekarang pas listriknya bayar sendiri, juga tetap gak boleh bawa alat listrik tambahan.” Ujar salah seorang penghuni.  “Aku cuman bawa drawing board, itu pun sudah izin. En güzel escort kızlar avcılar escort bayan internet sitemizde. Yang boleh itu alat yang menunjang kebutuhan kuliah kayak printer itu boleh,, tapi kalau panci listrik itu gak boleh.” tambahnya lagi. 

Pihak asrama melimitasi barang barang elektronik yang bisa dibawa ke asrama meskipun kini biaya listrik sudah ditanggung sendiri oleh para penghuni dan hanya beberapa peralatan saja yang diperbolehkan untuk dibawa ke asrama. 

Fasilitas terhadap mobilitas para penghuni asrama juga menjadi hal yang masih dipertanyakan. “Pintu yang menuju dapur lantai 2, itu dikunci biasanya. Jadi penghuni kalau mau ke lantai 2 harus turun ke lantai 1 dulu, terus ke lantai 2 naik tangga. Kalau bisa kayak dulu aja, soalnya dulu itu dibuka.” ujar seorang mahasiswi. 

“Jadi kita kalau mau ke kantin antara lewat tangga darurat atau kita turun dulu ke lantai 1 terus ke lantai 2 lewat bawah, jadinya muter-muter. Liftnya gak bisa berhenti di lt 2 dan itu ganggu banget, jadinya gak efisien.” ujar mahasiswi lainnya.

Tidak hanya itu, ada pula kendala yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pihak asrama. Fasilitas yang sering mengalami kendala menjadi permasalahan yang krusial bagi para penghuni. “Selama di asrama seminggu, dua minggu itu masih oke aja, mulai jalan sebulan udah mulai banyak gak enaknya. Kayak air tiba tiba mati, listrik padam, suasana udah nggak kondusif. Kamar temenku waktu itu AC-nya rusak, udah beberapa bulan laporan diajukan bolak-balik. Servisnya AC-nya juga udah dateng bolak-balik, tapi kamar temenku nggak dikunjungi sama sekali sampai akhirnya temanku pindah ke kamarku.” ujar mahasiswi yang sempat tinggal di asrama putri.

Fasilitas yang seringkali rusak, ditambah dengan layanan pengaduan yang kurang responsif menambah kesulitan bagi para mahasiswi yang tinggal di asrama. “Di asrama ada tempat pengaduan, bentuknya g-form. Jadi misal kita mau ngelaporin plafon bocor terus kita isi g-form, udah foto juga buktinya, abis itu di follow up-nya sekitar dua mingguan malah. Jadi lebih cepet kita lapor ke penjaga asramanya gitu loh.”

“Kadang walaupun sudah isi g-form lama, sudah isi 2 kali, tapi kadang belum diperbaiki. Jadi kalau terlalu lama kita mengingati lagi ke bapak-bapak satpam atau ke staff asrama. Dari saya dulu kamar saya AC-nya pernah bocor, dan udah isi g-form nya dua kali, udah lapor satpam sering, tapi masih belum ditangani kurang lebih 1,5 bulan – 2 bulan.” kata mahasiswi yang AC kamarnya sempat bocor.

“Untuk menanggapi keluhan memang gak bisa diatasi sehari dua hari, tapi untuk AC temanku itu kayaknya sekitar 3 bulan laporan itu baru naik. Dari lantai 10 ada problem sampai lantai bawah, cuman kamar temanku yang nggak dibenerin. Udah di follow up tiap bulan untuk diperbaiki, cuman ya tetep aja, kamar lain yang semisal laporannya baru masuk itu langsung dibetulin sementara laporan lama kayak temenku nggak langsung dibetulin.” komplain mahasiswi yang merasa kurang puas terhadap pelayanan pengaduan asrama. 

Tidak hanya evaluasi terhadap pihak asrama, keamanan fasilitas yang berada di asrama juga perlu dijaga oleh pengunjung yang berasal dari luar. “Kantin yang ada bangku di lantai 2 kan ada tulisan ‘no smoking’, tapi banyak mahasiswa cowok yang ngerokok, yang ngevape, terus beberapa pengunjung kantin itu sehabis makan gak pernah beresin bangku dan mejanya.”

Setelah mendengar berbagai pernyataan yang dilontarkan oleh para penghuni asrama putri Universitas Airlangga, ternyata ada banyak kendala dan persoalan yang menjadi sumber keluhan para penghuni selama ini. Menilik dari banyaknya komplain terhadap fasilitas dan layanan yang disediakan oleh pihak asrama, sudah semestinya pihak asrama lebih meninjau dan memperhatikan lagi tiap keluhan yang ada sekaligus memperhatikan lagi sikap dan kinerja dari para pihak yang bertanggung jawab terhadap permasalahan yang terjadi. 

Penulis: Nico Gilang

Editor: Fira Ila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *