sumber : pixabay.comsumber : pixabay.com

Jagat media sosial pada beberapa waktu yang lalu sempat panas mengenai bahasan tentang Childfree. Bermula dari seorang konten kreator bernama Gita Savitri yang berpendapat bahwa dia awet muda dikarenakan childfree. Lantas saja pernyataan itu meledak menjadi pokok bahasan di berbagai macam media sosial selama beberapa minggu, ditambah lagi tokoh-tokoh ternama dan akun media sosial dengan jumlah followers yang banyak turut mengomentari isu ini sehingga menambah pembahasan tersebut lebih panas. 

Diambil dari indonesiaindicator.com, data riset menampilkan bahwa dalam kurun waktu 1-15 Februari 2023 telah terdapat lebih dari 11 ribu unggahan mengenai isu childfree yang berasal lebih dari 9 ribu akun di media sosial dengan persentase terbanyak di platform Twitter. Unggahan terdiri dari sentimen positif dari netizen sejumlah 30%, sentimen negatif sejumlah 44%, dan 26% lainnya netral. Narasi pro dan kontra datang dari berbagai pihak di media sosial.

Childfree itu sendiri adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, baik secara sementara atau permanen. Mereka yang memilih untuk childfree memiliki berbagai alasan tersendiri, beberapa terdiri dari seperti ingin fokus pada karir, merasa tidak tertarik dengan pengasuhan anak, ingin memprioritaskan gaya hidup atau hubungan mereka, atau karena alasan medis dan lingkungan. Penting untuk dipahami bahwa childfree bukanlah hal yang sama dengan infertilitas atau ketidakmampuan untuk memiliki anak. Childfree adalah pilihan sadar untuk tidak memiliki anak dalam kehidupan mereka.

Awal mula konsep dari childfree susah untuk dilacak, namun para sejarawan dan sosiolog telah meneliti perkembangan dari konsep childfree sudah ada sejak abad ke-19. Pada abad ke-19, gerakan feminis mulai mengadvokasi hak-hak wanita untuk memiliki kontrol atas tubuh mereka dan mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Gerakan ini terus berkembang pada abad ke-20, ketika alat kontrasepsi yang lebih aman dan efektif mulai tersedia. Gerakan childfree modern dikaitkan dengan buku-buku seperti The Childless Revolution oleh Madelyn Cain pada tahun 1997, dan film dokumenter No Kids pada tahun 2015.

Pendapat Pro dan Kontra dari bahasan childfree bisa sangat bervariasi dan subjektif. Dari sisi pro berpendapat bahwa mereka yang childfree dapat mengambil keputusan tentang bagaimana mereka ingin hidup, tanpa tekanan atau harapan untuk memiliki anak, sehingga pasangan memiliki lebih banyak waktu, energi, dan sumber daya untuk mengejar karir, hobi, dan kepentingan pribadi lainnya. Ketika childfree, pasangan juga dapat menghindari tekanan finansial yang disebabkan oleh biaya besar yang terkait dengan pengasuhan anak. 

Sedangkan dari sisi kontra berpendapat bahwa memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab moral dan sosial yang membawa kebahagiaan dan memperkuat ikatan keluarga, sehingga pasangan yang childfree akan kehilangan pengalaman hidup yang unik dan berharga seperti menjadi orangtua. Pendapat kontra lainnya menyangkut keberlangsungan masa depan seperti jika tidak memiliki anak dapat menyebabkan kesepian di masa tua, atau pendapat yang berada di sudut pandang lebih luas seperti populasi manusia yang menurun dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam piramida usia dan masalah ekonomi karena jumlah penduduk yang semakin sedikit.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia lantasnya masih memiliki sumber daya manusia yang cukup mumpuni untuk beberapa tahun ke depan, ditambah lagi dengan ancang-ancang Indonesia dengan bonus demografinya pada tahun 2030 kelak. Berbeda dengan Negara Jepang atau Korea yang sedang dilanda krisis sumber daya manusianya akibat penduduknya mengadopsi konsep childfree dikarenakan biaya hidup dan tanggungan serta tanggung jawab yang akan diembannya jika memiliki anak lebih berat ketika tidak memiliki anak. 

Dari permasalahan diatas, timbullah satu pertanyaan, apakah bermasalah apabila seseorang lebih memilih untuk childfree akibat kondisi eksternal yang kurang mendukung situasi pasangan? Terlebih lagi dengan kondisi masa depan yang tidak menentu, semakin memantapkan seseorang untuk childfree. Kondisi masa depan yang tidak menentu tentulah harus ditangani dengan perencanaan yang matang dan tepat, maka dari itu dalam perencanaan untuk memiliki anak tidak bisa hanya sekedar bergantung pada keberuntungan saja. Memiliki anak adalah sebuah tanggung jawab sekaligus komitmen, butuh sumber daya dan tenaga yang besar dalam membesarkan seorang individu agar menjadi seseorang yang fungsional di masyarakat. 

Disinilah letak childfree sebagai kedua jawaban yaitu preferensi dan solusi. Ketika sebuah pasangan lebih memilih untuk childfree terlebih dahulu dikarenakan kemampuan mental dan finansialnya yang belum cukup, childfree bisa menjadi sebuah solusi untuk pasangan dalam masa persiapannya. Childfree juga bisa menjadi preferensi ketika pasangan lebih memilih untuk tidak memiliki anak, hak dan pilihan merekalah yang memutuskan jalan hidup mereka sendiri yang bagaimanapun juga tetaplah hal yang harus dihormati. Dikarenakan menjadi childfree adalah sebuah pilihan, maka akan ada juga pasangan yang lebih memutuskan untuk memiliki anak. Setiap orang memiliki alasan dan pertimbangan yang berbeda dalam membuat keputusan tersebut, dan tidak ada pilihan yang benar atau salah. Alangkah baiknya dalam sebuah hubungan untuk kedua belah pihak mendiskusikan terlebih dahulu tentang pilihannya. 

Penulis : Nico Gilang

Editor : Sri Dwi Aprilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *