Sumber Gambar: Dokumentasi Tim Liputan LPM Mercusuar

SURABAYA, Senin (22/6) — Koalisi Masyarakat Sipil Surabaya menggelar aksi long march dari Taman Bambu Runcing menuju Gedung Negara Grahadi sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi bertajuk “Reformati Indonesia” tersebut merupakan respons kekecewaan masyarakat Surabaya terhadap berbagai kondisi yang terjadi di bawah rezim Prabowo-Gibran. Aksi ini menyoroti sembilan persoalan mendasar yang mereka sebut sebagai Nawa Nestapa serta menyuarakan 3 tuntutan utama, yaitu pengunduran diri Prabowo-Gibran, pembentukan pemerintahan transisi, dan transformasi sistem politik.

Sejak pukul 13.00 WIB, peserta aksi mulai berkumpul di Taman Bambu Runcing untuk melakukan konsolidasi. Berbagai poster dan spanduk dibagikan kepada massa yang berisi berbagai tuntutan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari seruan pembentukan pemerintahan transisi, penolakan terhadap eksploitasi dan penggusuran di Papua, hingga kritik terhadap menguatnya kembali praktik dwifungsi militer dalam ruang sipil. Salah satu hal yang menonjol dalam aksi tersebut adalah berbagai peralatan dapur yang dibawa oleh peserta aksi sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Massa aksi mulai bergerak menuju Grahadi pada pukul 14.50 WIB dengan mengikuti mobil komando. Sepanjang perjalanan, peserta menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti Buruh Tani dan Darah Juang sambil terus membunyikan peralatan dapur yang mereka bawa. Dalam orasinya, komando aksi menyoroti sejumlah persoalan yang dianggap mencerminkan kontradiksi dalam praktik pemerintahan saat ini, mulai dari represi dan penggusuran masyarakat adat di Papua, penangkapan dan penindasan peserta aksi dalam demonstrasi agustus, serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menyebabkan keracunan di berbagai daerah. Komando aksi juga mengajak masyarakat yang melintas untuk membunyikan klakson sebagai bentuk solidaritas terhadap tuntutan yang disuarakan.

Setibanya di depan Gedung Negara Grahadi, massa kemudian membentuk lingkaran mengelilingi mobil komando dan melanjutkan rangkaian orasi. Berbagai elemen masyarakat turut menyampaikan pandangannya, mulai dari perwakilan BEM Nusantara dan Aliansi BEM Jawa Timur, Serikat Pekerja Kampus, mantan aktivis Reformasi 1998, Koordinator Aksi Kamisan Surabaya, hingga kelompok masyarakat sipil lainnya. Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Surabaya, Bu Kandi, menjelaskan bahwa Grahadi dipilih sebagai titik aksi karena memiliki nilai simbolis sebagai representasi kekuasaan di tingkat daerah sekaligus ruang yang dekat dengan aktivitas masyarakat.

“Grahadi dipilih karena merupakan simbol kekuasaan di tingkat lokal serta berada di pusat aktivitas masyarakat Surabaya. Karena itu, Grahadi dinilai strategis sebagai lokasi penyampaian aspirasi yang dapat dilihat masyarakat secara terbuka,” ujarnya.

Aksi ditutup dengan pembacaan tiga tuntutan utama oleh massa aksi yang menjadi fokus gerakan, sebelum kemudian membubarkan diri pada pukul 17.30 WIB. Gerakan tersebut diharapkan menjadi awal dari berbagai rangkaian upaya yang lebih luas untuk mengkonsolidasikan masyarakat sipil dalam mendorong pertanggungjawaban pemerintah atas berbagai persoalan yang berkembang saat ini.

“Aksi ini kami harapkan menjadi salah satu langkah awal dari berbagai gerakan masyarakat sipil ke depan untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat,” kata Bu Kandi.

Penulis: Mirza

Editor: Wira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *