Sumber Gambar: Salah satu postingan akun X @unairmfs
Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan komitmen kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui berbagai inisiatif nyata, salah satunya di bidang lingkungan. Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan, UNAIR meluncurkan UNAIR Bike sebagai transportasi ramah lingkungan.
UNAIR Bike merupakan alternatif transportasi yang memanfaatkan sumber daya listrik dengan cara pengisian daya di beberapa titik charging station—meskipun menggunakan tenaga listrik, bukan berarti otomatis sepenuhnya ramah lingkungan. Melansir dari UNAIR News, artikel yang berjudul “UNAIR Bike: Inovasi Ramah Lingkungan untuk Mobilisasi Sivitas Akademika”, mengungkapkan bahwa Direktorat Sarana dan Prasarana UNAIR menghadirkan inovasi ini guna menunjang mobilitas civitas academica di area kampus. Apalagi, penggunaan tenaga listrik turut berkontribusi dalam menekan emisi karbon dari kendaraan bermotor.
Dengan begitu, UNAIR Bike tak hanya memfasilitasi mobilitas antarfakultas, tetapi juga mendukung upaya UNAIR menjadi kampus berkelanjutan. Namun, belakangan ini, UNAIR Bike ramai menjadi perbincangan di media sosial X (dulu Twitter).
Akun @unairmfs atau kerap dikenal sebagai Menfess UNAIR mengunggah postingan keluhan kenaikan tarif UNAIR Bike. Jika sebelumnya, pengguna cukup membayar Rp500 per menit, unggahan tersebut menunjukkan lonjakan tarif yang mencolok. Dalam salah satu tangkapan layar riwayat transaksi pengguna, biaya pemakaian selama 31 menit 1 detik pada Kamis (06/3) mencapai Rp15.000. Namun, pada Senin (07/7), biaya untuk durasi 28 menit 1 detik melonjak menjadi Rp27.000.
Kenaikan hampir dua kali lipat ini sontak menuai kritik dari berbagai pihak, khususnya mahasiswa. Banyak yang merasa kebijakan ini memberatkan. Di kolom komentar, kekecewaan pun diluapkan secara terbuka.
“Wallahi larange (mahalnya)”
“Iyaa jadi mahaall skrngg apalagi kalau pause tuh juga kena, makin makin dah”
“Hey mahal kali 😔, 30 menit ga berasa sumpah (turunin harganya pls 🧎🏻♀️)”
Banyak yang menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, UNAIR Bike sangat membantu civitas academica terutama mahasiswa dalam mobilisasi di area kampus. Selain itu, harga UNAIR Bike yang sebelumnya dirasa memberikan kemudahan kepada mahasiswa untuk bisa mobilisasi dengan mudah tapi tetap hemat.
UNAIR kerap membanggakan komitmennya terhadap prinsip SDGs, termasuk melalui penyediaan transportasi ramah lingkungan. Namun, bagaimana mahasiswa dapat terus mendukung upaya tersebut jika pada praktiknya kampus justru membuat mahasiswa harus berpikir dua kali sebelum menggunakan fasilitas yang ada.
Apalagi, komitmen lingkungan tidak bisa dipisahkan dengan aspek sosial. Ketika harga UNAIR Bike naik drastis dan tanpa kejelasan regulasi, mahasiswa merasa disingkirkan dari ruang partisipasi. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan resmi dari pihak kampus terkait alasan dibalik kenaikan harga UNAIR Bike. Ketidakjelasan ini memunculkan spekulasi di kalangan mahasiswa, apakah kampus sedang mengalami tekanan anggaran atau ini langkah mencari pemasukan tambahan? Terlepas dari alasan sebenarnya, mahasiswa berharap bahwa kampus tak kehilangan esensinya sebagai ruang belajar, bukan ruang dagang.
Penulis : Ismail Marzuki
Editor : Priska Dwita Aulia