Sumber gambar: Tim Penelitian.
Potret kondisi beberapa fasilitas di Kampus B Universitas Airlangga.
Survei yang dilakukan pada Kamis (01/05) hingga Sabtu (25/05) menunjukkan bahwa sejumlah fasilitas di Universitas Airlangga (UNAIR) masih perlu adanya pembenahan dan peningkatan. Sebanyak 289 responden dari kalangan mahasiswa dan staf pekerja UNAIR turut berpartisipasi dalam survei ini. Tujuannya adalah untuk menilai tingkat kepuasan terhadap berbagai fasilitas kampus.
Survei ini menyoroti lima aspek utama, yakni kamar mandi, kantin, area parkiran, aturan jam malam, serta pendanaan kegiatan mahasiswa. Hasilnya mencerminkan perlunya perhatian lebih dari pihak kampus dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana demi kenyamanan seluruh civitas akademika.
Perlu dicatat bahwa urutan pembahasan fasilitas didasarkan pada jumlah tanggapan yang diberikan oleh responden terhadap masing-masing pertanyaan. Artinya, fasilitas yang paling banyak terisi menjadi prioritas penjabaran yang tertulis pada sajian berikut.
Kamar Mandi
Fasilitas kamar mandi di lingkungan UNAIR menjadi sorotan setelah sejumlah mahasiswa mengungkapkan keluhan melalui survei dan rekapitulasi komentar terbuka. Dari total tanggapan yang masuk, 47 persen menyatakan tidak puas, sementara 53 persen menyatakan puas tetapi disertai berbagai catatan dan saran perbaikan.
Lebih dari 50 persen pengguna kamar mandi merasa kebersihannya tidak terjaga dengan baik. Tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kebersihan lantai dan dinding kamar mandi tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa yang mengeluhkan bau tidak sedap, tidak adanya tempat sampah tertutup, serta saluran air yang bocor. Di beberapa kamar mandi, ditemukan gayung pecah, kunci pintu rusak, dan bidet tidak bisa digunakan.
Mayoritas responden juga menyoroti minimnya ketersediaan kebutuhan esensial di kamar mandi. Lebih dari 70 persen responden mahasiswa mengaku tidak menemukan tisu, sabun, ataupun pembalut yang menjadi fasilitas dasar. “Sekelas kampus top 5 nyediain tisu buat toilet pelit banget,” kritik seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atas kurangnya penyediaan tisu di kamar mandi.
Lebih memprihatinkan lagi, beberapa fasilitas di kamar mandi ditemukan rusak, seperti wastafel yang mati, flush toilet yang tidak berfungsi, dan pintu yang tidak bisa dikunci. “Airnya sering mati, bahkan saat mendesak pengen BAB harus nahan karena gak bisa disiram,” tulis seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Salah satu responden juga menyoroti minimnya pencahayaan dan ventilasi yang menyebabkan ruangan lembab dan gelap. Kondisi ini dinilai berbahaya dan tidak nyaman, terlebih untuk mahasiswa perempuan.
Temuan masalah serius lainnya pada fasilitas ini adalah minimnya privasi, terutama di kamar mandi perempuan. Tidak sedikit bilik yang ditemukan dalam kondisi tidak layak, seperti pintu yang tidak bisa tertutup rapat. “Mohon ditingkatkan kembali privasi setiap orang, karena masih ada beberapa pintu kamar mandi perempuan yang sedikit rusak dan mudah terlihat dari arah depan,” keluh seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya.
Hal serupa juga disampaikan oleh seorang mahasiswa dari Kampus FIKKIA Banyuwangi. Ia mengeluhkan kurangnya privasi di fasilitas kamar mandi. “Ruang privasinya kurang, terutama pintunya tidak ada kuncinya, kemudian pintu bawah jebol sehingga bisa diintip,” ungkapnya. Sementara itu, seorang mahasiswa Fakultas Vokasi juga menyoroti kurangnya perhatian terhadap kebersihan. “Sebaiknya tingkat kebersihan lebih diperhatikan lagi,” sebutnya.
Selain aspek fisik, mahasiswa juga menyayangkan pengelolaan akses yang tidak memadai, seperti kamar mandi yang dikunci terlalu cepat sebelum waktu kuliah selesai. Hal ini menyulitkan mahasiswa yang masih memiliki aktivitas kampus pada sore hari. Tak hanya mahasiswa, pedagang kantin fakultas pun turut merasakan dampaknya. Mereka mengeluhkan sulitnya mengakses kamar mandi kampus, terutama saat akhir pekan.
Kantin
Sebesar 19 persen responden menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap fasilitas kantin di lingkungan kampus. Meski mayoritas mahasiswa lainnya menyatakan cukup puas, sebagian besar dari mereka tetap memberikan masukan kritis mengenai berbagai aspek yang dinilai masih perlu ditingkatkan.
Kapasitas ruang makan yang terbatas menjadi keluhan yang paling dominan. Banyak mahasiswa mengaku kesulitan mendapatkan tempat duduk, terutama saat jam makan siang ketika antrean makanan memanjang dan suasana kantin menjadi sesak. Terdapat banyak mahasiswa yang menyebutkan bahwa jumlah kursi dan meja tidak sebanding dengan lonjakan pengunjung, terutama Cafe Eatery Kampus C yang menjadi tumpuan berbagai civitas akademika. Beberapa mahasiswa juga mempertanyakan fungsi ruang kosong di Fakultas Keperawatan yang tidak digunakan, sementara tidak tersedia kantin di fakultas tersebut.
Lebih lanjut, kondisi yang lebih memprihatinkan ditemukan di Kampus Sobo FIKKIA, karena dilaporkan tidak memiliki fasilitas kantin sama sekali. “Di kampus kami tidak ada kantin, mushola, ataupun kamar mandi yang memadai. Mahasiswa kesulitan beraktivitas dengan nyaman,” ujar seorang mahasiswa FIKKIA.
Sementara itu, mahasiswa yang merasa cukup puas tetap memberikan banyak saran perbaikan, terutama terkait kenyamanan fisik. Banyak dari mereka mengeluhkan suhu panas di dalam kantin karena kurangnya ventilasi dan kipas angin. Penerangan yang redup serta minimnya stopkontak untuk mengisi daya perangkat elektronik juga menjadi perhatian. Selain itu, kebersihan meja makan, ketersediaan sabun cuci tangan di wastafel serta kesadaran pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya disebut perlu ditingkatkan.
Masalah lain yang mencuat adalah variasi menu yang terbatas dan porsi makanan yang dinilai kurang mengenyangkan. Mahasiswa berharap agar makanan yang dijual bisa lebih beragam, sehat, dan ramah untuk berbagai kebutuhan diet. Isu harga juga disinggung, dengan banyak yang mengeluh harga makanan di kantin kampus dinilai terlalu mahal.
Selain itu, kebijakan pembayaran non-tunai menggunakan QRIS menuai kritik karena dianggap tidak fleksibel. “Uang tunai sebaiknya masih bisa digunakan sebagai alat transaksi,” saran seorang mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi.
Mahasiswa juga meminta agar jam operasional kantin diperpanjang, mengingat aktivitas perkuliahan dan organisasi kerap berlangsung hingga malam hari. Beberapa mengusulkan agar kantin juga tersedia di masing-masing fakultas demi mengurangi kepadatan di satu titik tertentu.
Parkiran
Sebesar 76 persen mahasiswa tidak puas terhadap fasilitas parkiran yang telah disediakan oleh kampus. Terdapat beberapa mahasiswa merasa fasilitas ini sudah cukup baik, namun tetap memberikan kritik dan saran sebagai perbaikan. Keluhan mahasiswa berupa kurangnya lahan parkiran; jalan yang rusak, berlubang, dan licin; beberapa rambu tidak jelas; minimnya penerangan; dan fasilitas berupa toilet dan lift yang rusak.
Dari jumlah responden yang memilih parkiran, sebagian besar menggunakan kendaraan untuk menuju kampus. Mereka merasa jumlah lahan parkir tidak mencukupi kebutuhan untuk menampung kendaraan mahasiswa sehingga sering kesulitan menemukan tempat parkir pada jam sibuk. “Akan lebih baik lagi jika parkir makin ditata dan diperluas, karena saya seringkali kesulitan mencari parkir saat sedang di kampus (terutama saat jam sibuk),” tulis seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Hal serupa juga dirasakan oleh seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran. “Kampus A sangat kurang sarana perihal parkir. Sedikit teratasi dengan pembatasan akses, tapi kadang masih dirasa kurang, bahkan oleh dosen,” ungkapnya.
Fasilitas parkiran ini jauh dari ekspektasi mahasiswa dan kesesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mereka bayarkan. Selain itu, beberapa mahasiswa juga merasa lokasi tempat parkir jauh dari fakultas mereka. “Untuk lahan parkir masih kurang memadai karena tempatnya jauh dari fakultas,” kritik seorang mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi.
Pada fasilitas parkir motor, mahasiswa menyoroti ketidakrapian dalam tatanan sepeda motor sehingga parkiran dirasa semakin sempit. Selain itu, di beberapa lokasi parkiran UNAIR, terdapat parkiran yang tidak memiliki pelindung cuaca. “Parkiran di bawah terik matahari, tidak ada kanopi. Kalau hujan, kendaraan akan basah. Kaca speedometer bisa retak terkena matahari langsung. Jika hujan bingung pulangnya karena sulit mengambil jas hujan di motor,” kritik seorang mahasiswa FIKKIA Banyuwangi.
Beberapa mahasiswa juga menyoroti lantai parkiran gedung warna-warni Kampus B yang terasa licin sehingga sangat berbahaya bagi pengendara, terlebih setelah hujan. Tidak sedikit dari mahasiswa terpeleset karena hal ini, tetapi masih belum ada tindakan. Padahal, petugas parkir sudah melaporkan hal tersebut.
Petugas parkir menyayangkan pihak kampus yang kurang responsif terhadap beberapa keluhan. “Atasan kurang respon, nunggu jebol baru antisipasi,” ucap seorang petugas parkir. Selain itu, kamar mandi perempuan di lantai 1B parkiran yang masih belum diperbaiki hingga sekarang menjadi sorotan petugas parkir dan mahasiswa.
Selain jalan yang licin, jalan berlubang menuju parkiran juga dinilai berbahaya. Meskipun sudah diperbaiki, masa perbaikan yang lama perlu menjadi evaluasi bagi kampus. Selama beberapa bulan, jalan berlubang tersebut berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mahasiswa saat berkendara menuju parkiran motor.
Pada fasilitas parkiran mobil, mahasiswa menilai kurangnya perhatian pihak kampus terhadap struktur bangunan. Mayoritas mahasiswa pernah mengalami kerusakan pada mobil. “Bentuk tiang kotak membuat beberapa mobil baret, seharusnya dibuat melingkar,” saran seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Tidak adanya rambu yang jelas mengenai parkiran juga menjadi sorotan mahasiswa. “Rambu dan marka rusak sering membahayakan,” kritik seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pendapat lain juga diajukan oleh seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya mengenai rambu untuk masuk parkiran yang kurang jelas. Selain itu, seorang mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi juga menilai bahwa marka kurang jelas.
Kurangnya lahan dan fasilitas parkir dinilai tidak sebanding dengan UKT serta tarif Rp.5.000 yang dikenakan setiap kali masuk, sehingga banyak mahasiswa merasa keberatan dan terbebani. Pihak kampus diketahui tidak melakukan sosialisasi terkait penarikan tarif kepada mahasiswa sehingga mahasiswa merasa tidak ada transparansi kemana uang ini akan dialokasikan. Hal ini menuai protes dari mahasiswa, mereka merasa kebijakan ini seharusnya dihapuskan. “Parkir tidak perlu bayar 5.000, cukup 1.000 atau kalau bisa gratis. UNAIR bukan kampus miskin, jadi tidak perlu menarik biaya parkir,” komentar seorang mahasiswa Fakultas Hukum.
Keluhan terkait fasilitas parkiran menjadi evaluasi besar bagi Universitas Airlangga. Tidak hanya parkiran mobil, tetapi juga parkiran motor; dan tidak hanya di kampus B, tetapi juga di seluruh kampus Universitas Airlangga.
Pembatasan Jam Malam
Aturan pembatasan jam malam di lingkungan UNAIR menuai kritik dari mayoritas mahasiswa. Berdasarkan hasil survei yang dihimpun, sebanyak 91 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kebijakan tersebut. Mahasiswa menilai pembatasan jam waktu akses hingga pukul 22.30 terlalu ketat dan tidak sesuai dengan kebutuhan aktivitas akademik serta organisasi yang sering berlangsung hingga larut malam.
“Menurut saya terlalu ketat jika jam malam hanya sampai pukul 22.30, dikarenakan ketika banyak tugas dan kerja kelompok di luar, kita sebagai partisipan akan menyelesaikan tugas sampai selesai dan biasanya memakan waktu hingga pukul 00.00,” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Permintaan agar jam malam dilonggarkan hingga pukul 00.00 menjadi saran yang paling banyak diutarakan, apalagi dari mahasiswa yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka berharap mendapat toleransi waktu lebih panjang serta lahan parkir khusus agar tidak was-was saat meninggalkan kendaraan. “Berikan lahan parkir sementara (hanya sampai jam 00.00) di jalan sekitar Student Center khususnya di Kampus C, sehingga keamanan kendaraan bisa dijaga dan diawasi bersama oleh anggota UKM yang sedang beraktivitas,” tulis seorang mahasiswa Fakultas Vokasi.
Tidak hanya soal waktu, mahasiswa juga menyoroti akses terhadap fasilitas kampus saat malam hari. “Gedung, khususnya dalam toilet, pada saat jam malam tidak bisa digunakan sehingga susah untuk ke kamar mandi,” keluh seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Usulan agar perpustakaan buka 24 jam juga muncul dalam secara berulang dalam saran. “Perpustakaan, tolong dibuat 24 jam. Jujur, sebagai mahasiswa yang Wi-Fi kosnya lemot, membutuhkan fasilitas tempat nyaman dengan Wi-Fi untuk mengerjakan tugas kapan pun,” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Meski begitu, sebagian kecil mahasiswa mengaku memahami alasan pembatasan ini. “Sebenarnya ingin dilonggarkan, tapi saya setuju untuk sekarang agar tidak sembarangan dan tahu waktu,” tulis seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya.
Berbagai masukan ini menjadi catatan penting bagi pihak kampus untuk meninjau ulang kebijakan jam malam, agar bisa mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tanpa mengabaikan aspek keamanan dan ketertiban.
Pendanaan Kegiatan Mahasiswa
Sejumlah mahasiswa menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap fasilitas pendanaan kegiatan mahasiswa yang dianggap masih belum transparan dan tidak efisien. Berdasarkan survei yang dilakukan, sebanyak 44 persen mahasiswa menyatakan tidak puas terhadap mekanisme dan ketersediaan dana untuk kegiatan mahasiswa.
Mahasiswa merasa tidak mudah dalam mengakses informasi terkait pengajuan dana sehingga prosedur seringkali dirasa tidak jelas dan sulit untuk dipahami. Lebih dari 25 persen responden menilai kualitas komunikasi antara pihak kampus dan mahasiswa terkait pendanaan berada pada tingkat yang rendah. “Sebaiknya diberitahukan lebih jelas lagi tentang alur pengajuan dana ke kampus atau fakultas,” saran seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya.
Lambatnya pencairan dana juga menjadi sorotan utama. Mereka mengeluhkan bahwa pengajuan dana seringkali memakan waktu lebih dari satu bulan, terkadang menyebabkan dana tidak cair tepat waktu sesuai dengan jadwal kegiatan. “Mungkin kurun waktu yang tidak terlalu lama dan mahasiswa tidak dipersulit,” tulis seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dalam kolom saran.
Dari segi transparansi, mahasiswa mengeluhkan penolakan dana tanpa alasan yang jelas serta ketidaksesuaian jumlah dana yang diajukan dengan yang diterima. Mereka menyatakan bahwa dana yang diberikan hanya mampu mengakomodasi kurang dari 50 persen dari kebutuhan kegiatan. Hal ini tidak jarang membuat mahasiswa harus mencari dana tambahan melalui usaha pribadi kegiatan untuk menutupi kekurangan tersebut.
“Pengajuan dana yang diajukan terkadang tidak sesuai dengan nominal yang diajukan, jadi perlu adanya transparansi mengapa dana yang diajukan oleh mahasiswa ditolak atau dikurangi,” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi. Pernyataan ini sejalan dengan kritik lainnya yang menyoroti ketidakseimbangan antara biaya pendidikan dengan dukungan aktivitas mahasiswa dari pihak kampus. “Prevalensi UKT dan UKA sangat timpang dengan pendanaan kegiatan mahasiswa,” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Beberapa responden juga menyatakan terdapat petugas yang meminta pungutan selama proses pengajuan dana kegiatan mahasiswa. Meskipun tanpa paksaan, hal ini tetap menimbulkan ketidaknyamanan dan mengurangi transparansi dalam administrasi.
Walaupun sebesar 56 persen mahasiswa merasa puas dengan sistem pengajuan dana kegiatan, mereka tetap menekankan pentingnya transparansi, komunikasi, dan kecepatan dalam proses pencairan dana. Mahasiswa berharap pihak kampus dapat melakukan evaluasi terhadap sistem pendanaan kegiatan mahasiswa agar memberikan dukungan secara optimal.
Penulis: Tim Penelitian Redaksi
Editor: Hana F. Lisdanta