Sumber Gambar: Depositphotos
“Ya, jadi untuk rencana pemasangan lampu ini akan dilakukan di beberapa titik dusun, untuk titiknya sendiri itu ada…” dan fokus saya terhenti di situ. Di malam itu, setelah lelah mengikuti beberapa kegiatan, tetapi ternyata masih belum bisa istirahat atau call it a day kalau bahasa Inggrisnya. Di rapat kali itu, yang merupakan gabungan dari tiga divisi, RND (research and development), medis, dan acara, kami membahas tentang mata acara yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian masyarakat di Dusun Mendiro. Satu hal yang membuat saya berpikir adalah memang segelap apa di sana? Atau memang selama ini ga ada penerangan ya? Di titik itu lah saya sedikit menyesal tidak bisa mengikuti survei lokasi yang telah dilangsungkan dua kali sebelumnya.
Tidak lama dari rapat itu, kami kembali mengunjungi Dusun Mendiro. Pada survei ketiga ini barulah saya merasakan sendiri bagaimana gelapnya dusun ketika matahari telah bergeser. Cahaya-cahaya kecil yang ada hanya berasal dari rumah warga yang jaraknya cukup jauh sehingga sebagian besar jalan dipenuhi gulita. Untuk berjalan saja, rasanya perlu mengarahkan senter dari gawai ke segala arah. Pasalnya, jalan di sekitar sana tidak semulus itu. Di situ saya rasanya senang, senang karena di pengalaman pertama terjun dalam pengabdian masyarakat. Meski saat itu masih persiapan, saya sudah dapat gambaran bahwa apa yang akan kami kerjakan nantinya bisa bermanfaat bagi warga. Pemasangan lampu di sana juga tidak akan sesulit itu, sih. Sebab perkiraan saya di dusun ini telah dijamah energi listrik. Ya, setidaknya di dusun ini sudah ada listrik karena memang tidak bisa dipungkiri, hampir setiap hari ada saja kegiatan yang bersinggungan dengan energi satu itu.
Fakta itu tidak terlalu terpikirkan oleh saya, hingga beberapa hari setelah pulang dari survei saya sempat berpikir bahwa, “Iya juga ya. Terus daerah-daerah yang ga terjangkau listrik, gimana ya selama ini? Atau malah daerah yang menolak pakai listrik, kenapa coba? padahal kan teknologi udah maju ya?” Hal tersebut di otak awam saya ini rasanya aneh. Mulai dari sini saya tertarik mencari tahu, terutama profil dari daerah yang menolak bersentuhan dengan energi listrik. Dari penelusuran melalui Google, saya menemukan dari laman iNews bahwa ada beberapa daerah di Indonesia yang menolak masuknya listrik, yaitu Kampung Naga, Ammatoa, dan Baduy. Secara permukaan alasan ketiganya cukup sama, mereka ingin hidup dengan apa yang disediakan secara natural oleh alam. Mereka juga ingin mempertahankan adat dan budaya. Hal ini membuat saya tertarik untuk menyelami lebih dalam tentang adat budaya tersebut.
Informasi lebih lanjut mengenai Kampung Naga, saya dapatkan dari laman detik.com. Kampung Naga ini cukup menarik menurut saya. Sudah ada sedikit dari warga yang menggunakan ponsel, televisi, bahkan peralatan bahan plastik. Saat mengetahui hal tersebut, impresi pertama saya adalah “Wah, ternyata ga se ketat itu ya, aku kira bakal yang benar-benar terisolasi gitu.” Ya, mereka memang cukup terbuka, tetapi tetap ada larangan tersendiri dan budaya yang wajib dipatuhi. Salah satunya ya, tidak adanya instalasi listrik itu. Jadi kalau untuk alat-alat elektronik tadi, mereka menggunakan accu atau pengisian baterai dari luar kampung. Intinya, kalau sudah di dalam kampung sumber listrik sama sekali tidak ada. Merasa informasi tadi belum cukup, saya pun mencoba berselancar kembali di internet. Tidak lama saya menemukan sebuah artikel dari laman sosiologi.upi.edu. Di dalam artikel ini saya jadi mengetahui tentang berbagai alasan ditolaknya listrik, selain menjaga adat budaya, warga juga menjaga agar tidak terjadi kesenjangan. Kenapa? Karena yang kita tahu kan kalau pemasangan listrik ini berbayar, yang belum tentu semua warga mampu. Lagi pula alat-alat elektronik dianggap bisa menciptakan jarak antar warga. Terlepas dari itu, masyarakat Kampung Naga memang sangat menjaga alam tempat tinggal mereka, hal ini terlihat dari adanya berbagai aturan untuk menjaga ekosistem lingkungan.
Setelah puas menjelajahi Kampung Naga, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Beberapa laman kemudian, saya menemukan masih dari iNews membahas tentang Ammatoa. Adat istiadat menjadi dasar kukuhnya mereka menolak masuknya listrik. Kepercayaan warga bahwa yang berkaitan dengan teknologi, salah satunya bisa membawa dampak negatif. Setelah dipikir-pikir, ya benar juga, melihat teknologi yang belakangan ini malah jadi sumber masalah. Ambil contoh paling gampang deh, seperti penipuan yang makin canggih. Kembali lagi, masyarakat Ammatoa juga disebutkan sangat menjaga hubungan baik dengan alam. Orang-orangnya percaya menjaga kelestarian lingkungan adalah hal yang utama, sebab itulah sumber kehidupan. Ya, bisa dibilang kalau orang kota kebanyakan ga bisa hidup tanpa listrik, kalau orang Ammatoa ini alam lah yang jadi sumber hidupnya. Jadi mau apa-apa ya kembali lagi ke yang natural, alias yang alami-alami aja.
Tidak jauh berbeda dengan masyarakat Ammatoa, yakni urang kanekes, sebutan bagi Orang Baduy-Dalam. Mereka juga menekankan adanya adat-istiadat yang mengharamkan segala bentuk pengubahan alam. Kali ini informasi saya dapatkan dari salah satu artikel jurnal yang berjudul Kearifan Lokal Masyarakat dari Sudut Pandang Hukum Lingkungan: Studi pada Suku Baduy, Provinsi Banten. Peneliti di sini terjun langsung untuk bercengkerama dengan urang kanekes. Urang kanekes hidup benar-benar bersahabat dengan alam, begitu lah kira-kira kalimat yang pas. Mereka menjaga sedemikian rupa ikatan dengan alam. Ekosistem hutan harus dijaga agar tetap terjadi keseimbangan. Intinya ya, Orang Baduy-Dalam ini punya nilai yang sama lah dengan orang Ammatoa, alam adalah sumber kehidupan. Sudah sewajarnya saling menjaga, alam memberikan mereka kehidupan, mereka juga menjaga keaslian alam.
Dari fakta-fakta ini ada satu hal baru yang rasanya mengobrak-abrik stereotip kuno yang bercokol di kepala. Stereotip bahwa daerah yang menolak listrik adalah orang-orang yang kolot sama sekali tidak benar. Sebenarnya ini hanya masalah nilai yang dipegang, pandangan kita terhadap suatu hal. Ada orang yang beranggapan bahwa listrik adalah sumber energi yang mempermudah hidup, ada juga yang memegang nilai bahwa alam lah sumber energi kehidupan itu. Karena pada dasarnya energi kan segala sesuatu yang menunjang kegiatan sehari-hari, jadi tidak ada yang salah. Kita semua punya hak untuk memilih dan memegang teguh pilihan itu. Yang salah adalah ketika mereka yang merasa membutuhkan energi listrik tidak bisa mendapatkannya, yang salah adalah ketika mereka yang menjunjung adat dan budaya sehingga menolak listrik justru dipaksa untuk menerimanya.
Penulis: Rumaisya Milhan
Editor: RF-08