Sumber Gambar: Tim Liputan LPM Mercusuar
Sabtu (22/06/2024), pementasan Dramaturgi XIX sukses digelar. Bertempat di Gedung Cak Durasim, Surabaya, pementasan yang mengusung naskah “Semar Gugat” karya Nano Riantiarno ini ditampilkan dengan begitu megah dengan alunan seperangkat gamelan dan dukungan properti serta kostum yang menawan. Pementasan yang merupakan tugas akhir Mata Kuliah Dramaturgi di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia ini dibuka pada pukul 18:48 WIB oleh MC. Diawali dengan sambutan dari sang Pimpinan Produksi, Imroatul Lutfiyah, dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Ki Puji Karyanto, selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Dramaturgi.
Acara terus bergulir dengan penampilan-penampilan menarik dari mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Penampilan-penampilan seperti pembacaan puisi oleh Nadya dan Margareza selaku perwakilan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023 serta Lael dari angkatan 2021, lalu terdapat pula musikalisasi puisi dari angkatan 2022 yang ditampilkan oleh Alya, Kaila, dan Ade.
Pagelaran yang mengangkat tema “Mastaka dan Nirmala” ini dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia, Mochtar Lutfi, lalu disambung oleh Listiyono Santoso, selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Ilmu Budaya.
Tepat pada pukul 19:56 WIB, naskah “Semar Gugat” secara sukses dipentaskan dengan begitu megah. Meski sempat terhenti sejenak karena lampu ruangan yang padam, pementasan dramaturgi ini tetap dapat diselesaikan dengan riuh tepuk tangan dari bangku penonton.
“Nggak nyangka banget, sih. Karena aku tahu sendiri bagaimana kerja kerasnya teman-teman aktor, asisten sutradara, pimpinan produksi, bahkan teman-teman perkap dan musik itu semuanya bekerja sangat keras untuk kesuksesan pementasan malam hari ini,” jelas Luhtu, sang Sutradara.
Pementasan ditutup pada pukul 21:50 WIB dengan barisan aktor yang berjejer di tengah panggung sambil membungkuk ke arah penonton, lalu dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Ki Puji Karyanto dalam wawancaranya di akhir acara menyampaikan bahwa pentas ini sebagai bukti perjuangan semangat dari mahasiswa dalam menyelesaikan mata kuliah yang mereka pilih, “Kalau dilihat dalam konteks seni pertunjukkan secara umum, barangkali, ya, kita tidak bisa menafikan bahwa peserta yang menampilkan pentas malam ini adalah anak-anak kuliahan yang tidak semuanya punya basic teater. Tetapi, apapun yang dilakukan dengan segala kendala yang ada, saya pikir adik-adik kita ini sudah penuh semangat dan berhasil melakukan pementasan malam ini”.
Dosen pengampu mata kuliah ini pun menyampaikan mengenai hadirnya mata kuliah Dramaturgi sebagai bagian dari merdeka belajar yang dimiliki oleh mahasiswa, “Mata kuliah dramaturgi ini kebetulan sudah masuk tahun ke-19. Jadi, tiap tahun memang diproduksi untuk dilaksanakan pementasan di sini (Gedung Cak Durasim). Tentu kedepannya, bila memungkinkan, kita akan coba untuk tidak hanya mementaskan lakon (milik) orang lain, tetapi juga lakon milik kita sendiri. … Tuntutan kuliah kan memang adaptif dan kolaboratif, jadi mata kuliah yang sudah eksis 19 tahun yang lalu ini lebih dulu adaptif dan kolaboratif sebelum ada perintah dari kementerian, karena (mata kuliah) ini kuliahnya merdeka sekali”
Pada sesi akhir wawancara, Ki Puji menyampaikan pula harapannya untuk bisa mendapatkan dukungan yang lebih dari pihak pemerintah dalam menyediakan tempat untuk bisa belajar sekaligus menyebarkan budaya dengan gratis tanpa pungutan biaya, sebab diketahui bahwa untuk melakukan pementasan tersebut mahasiswa sampai merogoh kocek hingga empat belas juta. “Dramaturgi itu menjadi salah satu usaha kami untuk mewarnai (Universitas) Airlangga menuju visi ke depan tentang menjadi pelopor pengembangan seni budaya dan juga mewarnai Kota Surabaya. Dukung kami dengan dapat menampilkan pertunjukan yang jangan berbayar, itu yang buat kami marah,” tutupnya.
Penulis: NN-11
Editor: MP-10