Sumber Gambar: Tim LPM Mercusuar
Tepat tujuh hari sejak berpulangnya sang penyair terkemuka, Joko Pinurbo, Kementerian Seni dan Budaya BEM FIB UNAIR mengadakan kegiatan Tribute to Joko Pinurbo pada hari Jumat (03/05/2024). Bertempat di Student Center Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai program studi. Kegiatan ini dihadiri pula oleh alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR; Adnan Guntur selaku perintis Saung Indonesia dan Muhammad Daffa selaku Koordinator Komunitas Sastra Lumpur. Kegiatan yang seharusnya dimulai pada pukul 15.00 WIB ini harus terpaksa mundur hingga 16.00 WIB.
Kegiatan Tribute to Joko Pinurbo dibuka dengan sambutan singkat dari Is’ad Dinullah selaku Menteri dari Kementerian Seni dan Budaya, dilanjutkan dengan pembacaan puisi bertajuk “Rumah Tangga” karya Joko Pinurbo. Partisipan-partisipan yang hadir juga turut menyumbangkan pembacaan puisi dalam mimbar bebas. Mereka membacakan puisi-puisi Joko Pinurbo seperti “Masuk Angin”, “Buah Bibir”, “Serdadu”, dan masih banyak lagi.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan forum diskusi yang dipandu oleh Margareza, staf Kementerian Seni dan Budaya. Adnan Guntur dalam ruang diskusi ini menyatakan bahwa puisi-puisi yang dibuat oleh Joko Pinurbo selalu menarik untuk dibaca. Puisi-puisinya selalu terasa dekat dan berada di sekitar kita selaku pembacanya. Pendapat tersebut disetujui oleh Muhammad Daffa. Koordinator Komunitas Sastra Lumpur itu menambahkan bahwa Joko Pinurbo memiliki gaya tersendiri dalam menciptakan puisinya. Puisi-puisi yang senantiasa dibalut lelucon-lelucon jenaka dan permainan kata yang apik, membuat puisi Joko Pinurbo menjadi sangat menarik. Mahasiswa yang hadir juga turut memberikan pendapatnya terhadap puisi-puisi Joko Pinurbo.
“Seperti contoh, puisi berjudul ‘Celana Ibu’. Kita tidak akan mengira akan muncul sebuah humor menggelitik tentang perayaan paskah di sana. Seperti inilah seorang Joko Pinurbo menemukan ciri khasnya. Ia membuka mata kita sebagai pembaca bahwasanya puisi tidak selalu bernuansa gelap dan mendayu-dayu.” Terang Muhammad Daffa yang mengundang ketertarikan mahasiswa lain untuk turut memberikan pendapatnya terhadap puisi-puisi Joko Pinurbo.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama dan resmi berakhir pada pukul 17.30 WIB.
Penulis: NN-11
Editor: RA-06