Pada hari Rabu (23/08) dan hari Kamis (24/08) yang lalu, telah dilaksanakan acara kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Teknik Biomedis dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga dan Komunita, sebuah komunitas anak muda yang berada di bawah naungan Kemenkeu RI. Acara tersebut berlangsung di Ruang Parlinah Perpustakaan Kampus B Universitas Airlangga. Kegiatan ini berisikan seminar yang diisi oleh pemateri dari dosen Teknik Biomedis yang membahas tentang alat kesehatan serta perwakilan dari Kemenkeu RI yang membicarakan tentang penggunaan dana APBN di sektor kesehatan.
Pak Alfian Pramudita Putra, selaku pemateri pada hari pertama melakukan sharing session mengenai bidang yang beliau tekuni, yaitu alat kesehatan. “92% alat kesehatan di Indonesia berasal dari impor luar negeri” paparannya. Beliau menyampaikan bahwa sudah saatnya bagi Indonesia untuk membangun kemandirian dalam industri alat kesehatan. Meskipun mungkin belum mencapai tahap kompleks seperti alat MRI, CT Scan, atau USG, namun paling tidak alat kesehatan yang lebih sederhana sudah seharusnya dapat diproduksi dan mendapatkan izin edar di pasar Indonesia. Beliau juga mendorong para mahasiswa untuk terus berinovasi dan berpikir kreatif dalam menangani berbagai masalah kesehatan yang ada di tanah air.
Setelah sesi Pak Alfian, acara dilanjutkan dengan pelatihan merangkai alat tes kesehatan sederhana yang dikemas oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Biomedis. Materi pelatihan ini mencakup cara merakit alat deteksi detak jantung yang simpel, menggunakan komponen seperti mikrokontroler, kabel jumper, serta sensor detak jantung yang tersedia di pasaran. Bahkan dengan perangkat berupa laptop pribadi, peserta pelatihan diberikan kemampuan untuk merangkai alat kesehatan sederhana ini di rumah.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan sesi yang diisi oleh Bapak Akhmad Budhisusetyo selaku perwakilan Direktorat Jendral Perbendaharaan Jawa Timur yang mewakili Kemenkeu RI. Beliau memaparkan data statistik terkait pengeluaran APBN khususnya di wilayah Jawa Timur, terutama yang berkaitan dengan sektor kesehatan. Kemenkeu sendiri sudah menargetkan untuk memiliki 10 macam outcome atau hasil yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, contohnya program peningkatan gizi untuk mengatasi stunting, alokasi dana untuk alat kesehatan, serta program-program kesehatan ibu hamil.
Setelah setiap sesi narasumber selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengintegrasikan sensor detak jantung yang sebelumnya telah dirakit, dengan indikator visual seperti layar LCD, lampu indikator, tampilan angka, dan alat penghasil suara (buzzer), sehingga peserta bisa melihat informasi tentang detak dan ritme jantung mereka dengan lebih jelas.
Penambahan komponen perangkat keras pada rangkaian sensor detak jantung bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam memahami kondisi tubuh mereka. Melalui pelatihan merakit alat ini, diharapkan para mahasiswa, terutama yang bukan berasal dari jurusan Teknik Biomedis, dapat memahami dasar-dasar penerapan sistem elektronika dan informatika.
Penulis: Nico Gilang
Editor : Ananda Putra