/Mengenal Menteng 31, Organisasi Pemuda Dibalik Peristiwa Proklamasi
Sumber Foto : Facebook @lostjakarta

Mengenal Menteng 31, Organisasi Pemuda Dibalik Peristiwa Proklamasi

Banyak diantara masyarakat yang lupa atau bahkan tidak tahu bahwa momentum kemerdekaan Indonesia tercipta melalui serangkaian proses yang pelik. Menjelang kemerdekaan, para tokoh penggerak bangsa Indonesia terpecah menjadi dua golongan, yakni golongan tua dan golongan muda. Golongan tua memiliki pandangan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh Jepang yakni melalui PPKI. Sedangkan, golongan muda bersikukuh agar proklamasi dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang dengan alasan bahwa kemerdekaan adalah jerih payah bangsa Indonesia sendiri, bukan hadiah dari Jepang.

Siapakah mereka, golongan muda tersebut?
Mereka adalah sekumpulan pemuda yang tergabung dalam organisasi “Pemuda Menteng 31”. Bernama Menteng 31 karena aktivitas pemuda tersebut bermarkas di Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama Menteng 31, pusat kegiatan para pemuda revolusioner.

Asrama Menteng 31 dibiayai oleh Jepang, karena pada mulanya organisasi tersebut dibentuk oleh Jepang untuk menghimpun kekuatan pemuda-pemuda Indonesia agar menjadi kader politik dan basis kekuatan bagi mereka.
Lambat laun, alih-alih tunduk pada Jepang, pemuda Menteng 31 secara diam-diam bergerak menuju arah nasionalisme untuk bangsa Indonesia. Aktivitas-aktivitas mereka justru semakin membuat Jepang merasa terancam. Di dalam asrama Menteng 31, mereka membuat gerakan bawah tanah untuk mempersiapkan aksi-aksi mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Puncaknya adalah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Beberapa pemuda perwakilan Menteng 31 mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena melihat kekosongan kekuasaan akibat kekalahan Jepang terhadap sekutu.

Terdapat 50-60 anggota pemuda Menteng 31. Diantara beberapa tokoh yang terkemuka adalah Adam Malik, Chaerul Saleh, BM Diah, Amir Syarifudin, Sukarni, Wikana dan Darwis (yang menjalankan penculikan terhadap Soekarno-Hatta), serta DN Aidit, yang di kemudian hari menjadi tokoh penting Partai Komunis Indonesia (PKI).

Penulis : Arizqa Novi Ramadhani
Editor : Primanda Andi Akbar