/Nayanika dan Sang Luka
Ilustrasi : Mirna Tiara Sari

Nayanika dan Sang Luka

“Apa kau bilang? Kesetiaan? Ketulusan? Komitmen? Maaf, aku bukan pemulung yang mengumpulkan ‘sampah’ semacam itu. Aku lebih suka mengejar pendidikan dan mengumpulkan uang sebanyak yang ku bisa. Membeli apapun yang ingin ku beli dengan uangku sendiri jauh lebih membahagiakan daripada mendengar omong kosong pria yang tak berkesudahan.” 

“Perempuan sepertiku jangan kau tawarkan janji Tuan, aku sadar betul bahwa dunia ini nyata. Tidak akan ada pangeran berkuda putih seperti di dunia dongeng. Yang jelas pula ku-pahami adalah bahwa di dunia ini, yang ada hanya para pangeran dengan senjata kebohongan yang tajam,” pungkasku pada pria dihadapanku dan berlalu pergi tanpa menghiraukan penjelasannya yang terdengar basi ditelingaku.

“Jahat?” Sayangnya aku sudah tidak peduli bagaimana dunia memakiku perihal segala penolakan yang ku berikan pada pria-pria yang hadir setelah pria itu. Tidak, ini bukan perkara gagal move on atau semacamnya. Hanya saja aku yang enggan salah orang lagi. Kata orang, semua perihal waktu. Orang cuek berasal dari orang yang pernah peduli namun tak dihargai. Dan sikap seseorang menjadi dingin adalah dia yang pernah terlahir hangat tapi didiamkan.

Lima tahun lamanya dan semua reka adegan kejadian hari itu masih ku ingat dengan jelas. Bagaimana pria itu membuatku patah dan hancur tanpa sisa hanya dalam satu hari saja. 

Hari itu, aku memulai hari dengan penuh suka cita. Karena di hari itu aku akan bertemu dengan seorang pria menakjubkan yang senyumnya selalu menghangatkan jiwa. Pria itu adalah Jeandra. Pria dengan mata hazel yang meneduhkan, ah siapa yang tidak mengagumi si ketua BEM ini. Aku selalu dibuat terkagum-kagum tatkala memandang ciptaan Tuhan yang satu ini. “Bagaimana bisa Tuhan menciptakan manusia sesempurna Jeandra,” gumamku dalam hati.

Seseorang menepuk pundakku yang seketika itu membuyarkan lamunan ku tentang Jeandra.

“Disuruh ke ruang BEM, Naf. Katanya kak Jean mau ngomong,” ucap salah seorang staff BEM yang ku ketahui bernama kak Nada.

“Aku kak?” tanya ku memastikan. Bukan tanpa sebab, tapi dalam rangka apa seorang Jeandra ingin menemuiku yang staf biasa secara khusus di ruang BEM.

“Iya, kamu Nafisha kan?” tanyanya.

“Iya kak benar” jawabku membenarkan.

“Ya sudah, cepat ke sana udah ditunggu,” ungkapnya yang langsung ku sambut dengan senyuman sambil tergopoh-gopoh berjalan menuju ruang BEM.

Sesampainya di ruang BEM, aku dibuat semakin terheran-heran tatkala menemukan ruangan itu dalam kondisi kosong melompong. Seiring dengan kebingunganku, seseorang nampak membuka pintu ruangan. Suara pintu itu seolah sebagai tombol otomatisku untuk membalikkan badan, dalam rangka mengetahui siapakah gerangan yang membersamaiku dalam ruangan pengap ini.

“K-kak Jean?” mataku membulat sempurna ditambah wajah bego yang tak bisa ku kontrol mendapati pria itu yang membersamaiku di ruang ini. Aku benar-benar merutuki sisi diriku yang seperti ini. Apakah harus seketara ini sikap yang ku tunjukan padanya bahwa aku menyimpan rasa padanya. Dasar gadis bodoh!

“Halo, Naf!” sapanya. Shit! Jangan lupakan senyumannya yang semakin membuat jantungku bak berpindah dari tempatnya.

Mati-matian aku menenangkan hati dan jantungku yang sudah tak berakhlak sejak tadi. Bukan perkara mudah mendapati diri satu ruangan dengan seorang pria yang sudah hampir empat tahun terakhir ini tak bisa angkat kaki dari pikiranku.

“Ah iya, halo kak!” balasku sambil menganggukkan kepala pelan.

Singkat cerita, saat itu Jeandra mengungkapkan perasaannya kepadaku. Iya, si ketua BEM ini, pria dengan mata hazel ini, memintaku menjadi kekasihnya hari itu juga.

“T-tapi kenapa saya, kak?” tanyaku terheran-heran

“Ya, kenapa enggak?” jawabnya enteng, semakin membuat keningku mengkerut.

“Ya maksudnya, kenapa? Atas dasar apa? Dan kenapa tiba-tiba?” desak ku padanya. Membuat pria didepanku menghela nafas panjang.

“Aku rasa, enggak perlu ada alasan kenapa aku suka sama kamu deh, Naf. Lagi pula siapa sih cowok yang enggak suka sama kamu?” jawabnya tenang.

Aku hanya mematung tanpa bisa memberikan reaksi apapun detik itu. Tapi, hal berbeda terjadi pada jantungku yang telah berdebar kencang sejak pertama Jeandra memintaku menjadi kekasihnya.

“Naf, aku tahu ini terkesan mendadak dan mengagetkan buat kamu. Tetapi, untuk bisa ngomong soal hal ini ke kamu itu juga bukan perkara mudah buat aku. Seperti yang sudah aku bilang, siapa sih cowok yang gak suka sama kamu, Naf? Aku cuma gak mau nyesel aja karena gak berani ngomong ke kamu,” jelasnya panjang lebar kala itu.

Mendengar penjelasannya, hatiku menghangat. Masih kupertanyakan dalam hati mimpi apa aku semalam hingga hari ini, khayalanku bisa tiba-tiba terwujud. Tanpa berpikir panjang dan dengan hati yang girang, si bodoh ini langsung mengiyakan ajakan pria ini. Dan singkatnya, kami berpacaran mulai hari itu.

Katanya sesuatu yang mudah didapat pasti akan mudah juga perginya. Aku benar-benar tak pernah berpikir bahwa kalimat tersebut memang benar adanya. Setelah hampir  satu tahun aku dan Jeandra menjalin hubungan semua berjalan sangat lancar. Segala ekspektasiku tentangnya tak pernah meleset barang sedikitpun. Jeandra benar-benar sempurna. Hingga tibalah aku di suatu hari. Hari yang akan sangat mempengaruhi kehidupanku tahun-tahun setelahnya.

Siang itu, aku sedang tergopoh-gopoh menuju Graha Saba karena Jeandra wisuda hari ini jadi sudah ku siapkan bunga dan sedikit kado untuknya. Saat hampir sampai, dari kejauhan aku melihat Jeandra sedang berfoto bersama kak Irma. Sebagai informasi, kak Irma adalah kakak kandungku. Aku sempat keheranan melihat pemandangan didepanku. Sejak kapan kakak ku itu mengenal Jeandra?

Demi menjawab rasa penasaranku, segera ku lanjutkan langkahku menuju tempat itu. Saat aku mulai mendekat ke arah mereka sayup-sayup terdengar percakapan mereka yang langsung membuatku merasa bagaikan disambar petir di siang hari.

“Selamat wisuda papa!” ucap kak Irma sambil mengarahkan tangan Jeandra pada perutnya yang rata.

Mereka terlihat sangat asik, hingga tak menyadari aku yang berada tak jauh disamping mereka. Hendak kulangkahkan kaki untuk meminta penjelasan atas pemandangan ini. Empat orang yang sangat ku kenal datang menghampiri mereka dan menjawab semua pertanyaan di otakku semenjak tadi. Mereka adalah kedua orang tuaku dan orang tua Jeandra.

“Setelah ini, kalian bisa segera mendaftarkan pernikahan kalian agar ketika anak kalian lahir bisa segera dibuatkan akta kelahiran,” ucap ibuku yang disambut oleh anggukan setuju dari orang-orang itu.

Aku benci kerja lemot otak ku yang tak kunjung bisa memahami kondisi yang ada. Apa? Jeandra dan kakak ku punya anak? Disaat aku sedang bergelut dengan pikiranku sendiri, seorang diantara mereka akhirnya menyadari keberadaanku.

“Itu Nafisha ya, Naf, kok bengong disitu sih. Ayo kesini” ucap tante Rahma, ibu Jeandra.

Aku yang kaget dengan spontan berjalan ke arah mereka. Sambil menyerahkan benda-benda yang sudah ku siapkan untuk Jeandra sejak tadi kepadanya.

“Wah… Irma masih sempet-sempetnya minta tolong adiknya buat nyiapin hadiah ini. Makasih ya nak!” ucap tante Rahma sekali lagi. Dan parahnya, ucapan itu disambut oleh senyum lebar lengkap dengan anggukan malu-malu kak Irma yang membuatku ingin muntah dihadapannya.

“Kak Irma, hamil?” tanya ku akhirnya pada mereka.

“Iya nak, maaf mama sama papa belum sempat cerita sama kamu. Semua terjadi begitu cepat saat kamu sedang sibuk menyiapkan kompetisimu, jadi tidak mungkin kami memberitahukan semuanya ke kamu. Jeandra dan kakak kamu ada kesalahan, kakak kamu hamil dan mereka langsung menikah siri tiga hari yang lalu,” jelas mama padaku.

Sekuat tenaga ku tahan airmata yang hendak membuncah keluar. Ku kepalkan tanganku kuat-kuat dan sekuat hati tersenyum menatap Jean.

“Selamat!” ucapku dengan parau pada pria itu. Sungguh tak ku sangka, hanya kutinggal seminggu untuk persiapan kompetisi dia berhasil merubah statusnya menjadi suami dan calon ayah. Aku pamit undur diri pada mereka segera dengan alibi seadanya. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menjauh dari tempat itu. Desakan kristal bening di pelupuk mata sudah tak mampu ku tahan lagi. Langkahku mulai berubah menjadi langkah-langkah cepat, disertai tangan yang mengepal kuat sambil memukul-mukul dada yang terasa teramat sesak.

Sialnya, kepedihanku tak berhenti disitu. Saat aku mulai bisa mengendalikan diriku, sayup-sayup ku dengar dari luar toilet tempat persembunyianku percakapan dua orang wanita, yang salah satu-ku kenal pasti suaranya, kak Nada.

“Jadi, Nafisha sebenarnya cuma bahan taruhan anak-anak BEM?” tanya wanita yang tak kukenali suaranya

“Iya, gue juga gak nyangka Jean bisa kaya gitu ke adik pacarnya sendiri” balas kak Nada

“Oh shit! Pacar Jean anak kampus sebelah itu kakaknya Nafisha? Dan dia sekarang hamil anaknya Jean?” tanya  wanita lainnya. 

Setelah percakapan itu, suara ketiga perempuan itu semakin mengecil yang menandakan mereka semakin menjauh dari area toilet.

Lagi-lagi aku merutuki otak ku yang sulit sekali mencerna situasi yang ada. Aku benar-benar tidak bisa memahami situasi yang terjadi saat ini. Kakak ku yang tiba-tiba hamil dengan pacarku sendiri, aku yang jadi bahan taruhan. Lelucon macam apa ini?

Hari itu akhirnya kuhabiskan dengan menyusuri jalanan dengan bermandikan hujan. Ini satu-satunya tempat teraman untuk aku bisa menangis sepuasnya. Hujan ini adalah tirai terbaik untuk menutupi segala kesedihan dan buncahan airmata yang tak terkendalikan sejak tadi. Aku tak tahu siapa yang bisa disalahkan atas hal ini. Aku juga tidak tahu siapa sedang memainkan peran apa dalam drama ini. Siapa “pelakornya” dan siapa kekasih aslinya, siapa protagonisnya dan siapa antagonisnya semua abstrak. Alur yang sama sekali tak tertebak.

Aku sampai di rumah tepat pukul 12 malam. HP yang sejak siang kumatikan kini mulai ku nyalakan kembali. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari ibu, dosen dan teman-temanku  yang menanyakan keberadaanku mulai masuk silih berganti. Namun, disela banyaknya pesan dari orang-orang itu satu pesan bertuliskan kata maaf ada diantaranya. Pesan itu dari Jeandra. 

“Maaf!” Tulisnya tak kurang dan tak lebih. Aku tersenyum miring, laki-laki ini sungguh tak berhati. Aku sudah sangat lelah menangis lagi. Aku ingin istirahat.

Setelah berganti pakaian, aku bergegas naik ke ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar pintu kamar terbuka, detik selanjutnya aku merasakan elusan pelan di kepalaku. Tangan itu, ku tahu itu mama. Aku sudah lelah menangis sungguh, tapi ku tahu Mama sangat khawatir dengan kondisiku.

Nduk, kamu kenapa?” tanya nya pelan, mengetahui aku belum sepenuhnya memejamkan mataku. Aku bangkit dari posisiku saat itu dan duduk menatap bidadari duniaku ini. Kutatap mata teduh beliau yang menenangkan, tanpa sadar butiran kristal bening lolos begitu saja. Mama memelukku erat sambil menepuk-nepuk punggungku menyalurkan kekuatan pada putri bungsunya ini. Tangisku kembali tumpah tak terkendali dalam dekapan Mama malam itu. Ah Mama, kenapa menjadi dewasa bisa semenyakitkan ini? Malam itu berakhir dengan aku yang tertidur dalam dekapan Mama sepanjang malam.

Tiga hari lamanya aku mengurung diriku dalam kamar. Segala pesan dan panggilan yang masuk pun kuabaikan. Aku masih merutuki otak ku yang tak kunjung mampu memahami situasi yang ada sekarang. Disisi lain resepsi pernikahan kakak kandungku dengan Jeandra akan dilangsungkan lusa. Hubungan ku dengan kakak ku pun dengan sendirinya merenggang tanpa kami sendiri menyadarinya.

Tepat di hari keempat, yaitu sehari sebelum resepsi kakak ku dilaksanakan, aku memutuskan untuk keluar kamar. Hari itu aku akan menemui seseorang mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku memintanya bertemu di sebuah taman tempat biasanya kami menghabiskan waktu bersama. Saat aku sampai di tempat itu, aku melihat punggungnya yang tegap berdiri membelakangiku. Tanganku bergetar hebat, jantungku lagi-lagi hilang kendali. Bahkan, getaran itu tak berkurang setelah apa yang kamu lakukan padaku Je. Kuatur nafasku, detik selanjutnya ku langkahkan kaki perlahan menuju pria itu. Aku berdeham untuk menyadarkan-nya bahwa aku sudah sampai.

“Hai Naf, udah sampai?” Sapanya masih dengan senyumnya yang terlihat menyakitkan ketika kutatap kembali.

“Langsung aja, jelasin semuanya” Jawabku tanpa ingin berbasa-basi lagi.

“Maaf…” Ucapnya lirih.

“Gue enggak minta lo minta maaf, gue minta lo jelasin semuanya Jeandra!” Kataku dengan penuh penekanan. Sungguh melihat pria ini turut kembali mengundang sesak yang sama seperti empat hari yang lalu.

“Aku udah pacaran sama kakak kamu sebelum aku pacaran sama kamu” Ungkapnya masih dengan suara lirih. 

Aku tersenyum miris, ternyata aku selingkuhannya.

“Aku salah Naf, aku salah sama semuanya. Keluarga kita termasuk kakak kamu gak ada yang tahu kisah kita kan? Aku mohon, jangan sakiti mereka dengan kejujuran kamu ya Naf. Aku mohon keikhlasan kamu buat ngerelain apa yang udah terjadi diantara kita. Kamu boleh benci aku tapi tolong, jangan rusak keluarga kita ya Naf. Mereka sudah cukup terpukul dengan apa yang terjadi antara aku dan kakak kamu. Nama aku juga sudah terlanjur jelek, jadi aku minta tolong banget sama kamu buat tidak semakin memperparah semuanya ya Naf.” Lanjut pria itu tidak tahu diri.

“Lo menjijikkan Je.”  

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir pria ini. Dia adalah orang ter-tidak tahu diri yang pernah ku temui. Tanpa banyak kata segera ku langkahkan kaki ku pergi dari tempat itu. Sakit, kecewa dan rasa jijik bercampur menjadi satu sekarang. Tak ada lagi air mata, sudah ku putuskan aku berhenti mencintainya detik itu juga.

Aku pulang dan langsung kupeluk kakak ku yang besok akan secara resmi menjadi milik pria menjijikkan itu. Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan kepadanya, kami hanya berpelukan dan menangis bersama. Seolah tanpa dijelaskan dengan kata, semesta sudah mengabarkan tentang segalanya. Tak lupa ku sampaikan kata maaf untuk semuanya dan untuk diriku yang besok memilih menghadiri kompetisi karate daripada melihat kakak ku menikah. 

Begitulah awal mulanya. Ketidakpercayaanku pada makhluk bernama pria bukan tanpa alasan. Sekali lagi, ini bukan perkara tak ingin merelakan. Tapi dibodohi hanya karena kita tulus itu terlampau menyakitkan. Pria-pria itu seperti hujan, meski aku sangat menyukainya tapi berteduh selalu menjadi pilihan tatkala rinai hujan memulai perjalanan. Bukan tanpa sebab, melainkan karena aku tahu hujan itulah yang nantinya akan membuatku sakit ‘lagi’. Aku hanya tidak ingin memaksakan hatiku lagi, karena menahan semuanya sendirian sudah sangat memberatkan hidup ini. Aku tak ingin lagi mengambil risiko menakutkan ketika aku mendapati bagian cerita dimana aku tidak tahu aku sedang dipermainkan atau benar-benar dicintai.

Penulis : Sharisya Kusuma R.

Editor : Primanda Andi Akbar