/Bahaya Sampah Plastik yang Menghantui Lautan?
Sumber Foto : Istimewa

Bahaya Sampah Plastik yang Menghantui Lautan?

Bila sering melihat di sosial media, pastinya tidak asing dengan berbagai video mengerikan yang menunjukkan dampak berbahaya sampah bagi ekosistem laut. Mulai dari paus yang mati karena memakan sampah, terumbu karang yang hancur, hingga temuan burung laut yang memakan sampah plastik. Tak hanya itu, bahaya sampah plastik di lautan juga menimbulkan efek boomerang bagi manusia, contohnya bagi kesehatan manusia yang memakan ikan terkontaminasi sampah plastik, hingga aspek pariwisata yang berkurang sebab maraknya sampah plastik di lautan. 

Untuk kondisi kelautan Indonesia sendiri, grup penelitian Jambeck merilis hasil riset mereka mengenai negara dengan penyumbang sampah plastik terbanyak di lautan. Hasilnya Indonesia berada di peringkat kedua dengan sumbangan 187,2 juta ton sampah, terpaut satu peringkat dengan china yang berada di urutan teratas dengan 262,9 juta ton. Peringkat selanjutnya disusul oleh Filipina (83,4 juta ton), Vietnam (55,9 juta ton), dan Sri Lanka (14,6 juta ton). 

Predikat negara penyumbang sampah lautan terbanyak nomor 2 tersebut tentunya tak terlepas dari sampah-sampah plastik yang mencemari perairan. Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi menyebut, pada tahun 2020 lalu ada lebih setengah juta ton sampah masuk ke laut. Total sampah yang masuk ke laut pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 521.540 ton, di mana sekitar 12.785 ton berasal dari aktivitas di laut. 

Selain itu di ranah internasional, pada tahun 2016 silam United Nations Convention On Biological Diversity mempublikasikan penelitiannya yang menunjukkan bahwa sampah plastik telah membahayakan 800 spesies di ekosistem laut, 40% mamalia laut beserta 44% spesies burung laut. Hasil tersebut kemudian diperbarui kembali dengan data dari konferensi laut PBB di New York pada 2017 lalu, hasilnya limbah plastik di lautan telah membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, serta berbagai spesies lainnya. 

Bila ditelisik kembali, berbagai dampak tersebut berpotensi menimbulkan permasalahan besar di masa mendatang. Sebagai contoh, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan jutaan burung laut dan 100 ribu binatang laut mati setiap tahun dan ditemukan sejumlah partikel plastik di dalam perutnya. Oleh karena itu, langkah preventif dan solutif menjadi keharusan dalam menjamin keberlangsungan ekosistem laut di masa depan. 

Diantara opsi yang dapat diaplikasikan adalah melalui Sosialisasi Hari Laut Sedunia, hal ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran publik akan pentingnya ekosistem laut. Selain itu, apresiasi bagi pemulung plastik juga penting. Meskipun sering dipandang sebelah mata, peran mereka dalam memilah sampah plastik yang layak daur ulang menjadi cukup sentral dalam mengurangi dampak negatif sampah pada laut. Kemudian yang tak kalah penting pula, adalah pemberian sanksi yang setimpal bagi pembuang sampah sembarangan. 

Referensi: